{"id":1276,"date":"2018-09-13T10:27:28","date_gmt":"2018-09-13T03:27:28","guid":{"rendered":"https:\/\/hkbp.diakonia.id\/?p=1276"},"modified":"2018-09-09T14:48:08","modified_gmt":"2018-09-09T07:48:08","slug":"memprotes-israel-gereja-situs-kristen-paling-suci-ditutup","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/memprotes-israel-gereja-situs-kristen-paling-suci-ditutup\/","title":{"rendered":"Memprotes Israel, gereja &#8216;situs Kristen paling suci&#8217; ditutup"},"content":{"rendered":"<div>\n<div>\n<figure class=\"media-landscape has-caption full-width lead\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"js-image-replace\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/ichef.bbci.co.uk\/news\/320\/cpsprodpb\/DCE3\/production\/_100174565_churchoftheholysepulchre.jpg?resize=976%2C589&#038;ssl=1\" alt=\"Yerusalem\" width=\"976\" height=\"589\" \/><\/p><figcaption class=\"media-caption\"><\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"story-body__introduction\" style=\"text-align: justify;\">Para pemimpin umat Kristen di Yerusalem mengambil langkah yang tak biasa: menutup Gereja Makam Kudus untuk memprotes kebijakan pajak Israel yang baru dan usulan undang-undang properti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka menyebut undang-undang tersebut merupakan serangan terhadap orang-orang Kristen di Tanah Suci.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para pendukung RUU tersebut mengatakan kekhawatiran gereja tidak berdasar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagian umat Kristen percaya bahwa Yesus disalibkan, dikuburkan dan dibangkitkan di komplek gereja tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tempat ini dianggap sebagai tempat paling suci bagi umat Kristen dan merupakan tujuan utama para peziarah.<\/p>\n<h2 class=\"story-body__crosshead\" style=\"text-align: justify;\">Mengapa para pemimpin Kristen marah?<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sebuah pernyataan bersama, para pemimpin Gereja Katolik Roma, Ortodoks Yunani dan Armenia menuturkan bahwa gereja tersebut akan ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Protes tersebut muncul karena para petinggi Gereja keberatan dengan undang-undang yang sedang dibahas pemerintah Israel, yang mereka cemaskanakan membuat negara mengklaim tanah milik gereja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para pemimpin gereja mencap undang-undang itu &#8216;mengerikan,&#8217; dan &#8220;mengingatkan kita semua pada hukum yang sifatnya serupa yang diundangkan untuk menindas orang-orang Yahudi selama masa kegelapan di Eropa&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para pendukung undang-undang mengatakan bahwa UU itu dimaksudkan untuk melindungi warga Israel yang tinggal di tanah milik Gereja yang sudah dijual kepada pengembang swasta dari risiko bahwa perusahaan-perusahaan ini tidak akan memperpanjang sewa mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara para pemimpin Kristen mengatakan undang-undang yang diusulkan akan membuat lebih sulit untuk menjual tanah Gereja, yang menjadi sumber utama dana mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka juga marah dengan upaya menerapkan pajak properti terhadap Gereja, yang dipandang pihak berwenang di Yerusalem sebagai bangunan komersial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walikota Yerusalem Nir Barkat mengatakan kota tersebut memiliki piutang sebesar 650 juta shekel atau sekitar Rp2,6 triliun untuk pajak yang tidak tertagih atas aset-aset Gereja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengatakan semua gereja dibebaskan dari perubahan-perubahan pajak ini, dan hanya &#8220;hotel, ruang pertemuan dan tempat-tempat bisnis&#8221; yang dimiliki gereja yang akan terdampak.<\/p>\n<h2 class=\"story-body__crosshead\" style=\"text-align: justify;\">Bagaimana tanggapan pemerintah Israel?<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah protes itu muncul, komite kabinet Israel menunda pembahasan rancangan undang-undang ini selama seminggu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Anggota parlemen yang mengusulkan RUU tersebut, Rachel Azaria, mengatakan kepada BBC: &#8220;Saya mengerti bahwa Gereja berada di bawah tekanan, namun tanah mereka akan tetap menjadi milik mereka, tidak satu pun yang akan menyentuh mereka sampai kapan pun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Undang-undang yang saya usulkan berkaitan dengan apa yang terjadi jika hak atas tanah tersebut dijual kepada pihak ketiga.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Azaria mengatakan bahwa hanya tanah yang dijual oleh Gereja kepada perusahaan real estat swasta setelah tahun 2010 yang akan terdampak. <strong>[BBC]<\/strong><em><br \/>\n<\/em><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Para pemimpin umat Kristen di Yerusalem mengambil langkah yang tak biasa: menutup Gereja Makam Kudus untuk memprotes kebijakan pajak Israel yang baru dan usulan undang-undang properti. Mereka menyebut undang-undang tersebut merupakan serangan terhadap orang-orang Kristen di Tanah Suci. Para pendukung RUU tersebut mengatakan kekhawatiran gereja tidak berdasar. Sebagian umat Kristen percaya bahwa Yesus disalibkan, dikuburkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1277,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1276","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"better_featured_image":{"id":1277,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/753c9486a8e8e51cceef071770ad4c9d.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/753c9486a8e8e51cceef071770ad4c9d.jpeg?fit=320%2C193&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/753c9486a8e8e51cceef071770ad4c9d.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/753c9486a8e8e51cceef071770ad4c9d.jpeg?fit=320%2C193&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1453","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1276","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1276"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1276\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1277"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1276"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1276"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1276"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}