{"id":12995,"date":"2026-06-10T18:15:36","date_gmt":"2026-06-10T11:15:36","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/lihatlah-betapa-besarnya-kasih-yang-dikaruniakan-bapa-kepada-kita-sehingga-kita-disebut-anak-anak-allah-dan-memang-kita-adalah-anak-anak-allah-karena-itu-dunia-tidak-mengenal-kita-sebab-dunia-tid\/"},"modified":"2026-06-10T18:15:37","modified_gmt":"2026-06-10T11:15:37","slug":"lihatlah-betapa-besarnya-kasih-yang-dikaruniakan-bapa-kepada-kita-sehingga-kita-disebut-anak-anak-allah-dan-memang-kita-adalah-anak-anak-allah-karena-itu-dunia-tidak-mengenal-kita-sebab-dunia-tid","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/lihatlah-betapa-besarnya-kasih-yang-dikaruniakan-bapa-kepada-kita-sehingga-kita-disebut-anak-anak-allah-dan-memang-kita-adalah-anak-anak-allah-karena-itu-dunia-tidak-mengenal-kita-sebab-dunia-tid\/","title":{"rendered":"Kita hidup untuk Tuhan. [Roma 14:8]"},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Jika Allah menghendaki, setiap kita mungkin langsung masuk surga tepat di saat kita menjadi orang Kristen. Kita bertahan di sini bukanlah suatu persiapan yang harus bagi kekekalan kita. Adalah mungkin bagi manusia untuk dibawa ke surga, dan ditemukan layak untuk mengambil warisan orang-orang kudus dalam terang, meskipun ia baru saja percaya pada Yesus. Memang benar pengudusan kita adalah proses yang panjang dan terus berlangsung, dan kita tidak mungkin disempurnakan sampai kita meninggalkan tubuh kita dan masuk ke dalam tabir; tetapi meskipun begitu, jika Tuhan menghendaki demikian, Ia bisa saja mengubah kita dari ketidaksempurnaan menjadi sempurna, dan langsung membawa kita ke surga. Lalu, mengapa kita di sini? Akankah Tuhan menjauhkan anak-anak-Nya dari Firdaus sekejap lebih lama daripada yang diperlukan? Mengapa laskar Allah yang hidup masih berada di medan pertempuran padahal satu serangan bisa memberikan mereka kemenangan? Mengapakah anak-anak-Nya masih berkeliaran ke sana kemari melewati sebuah labirin, padahal sepatah kata dari bibir-Nya akan membawa mereka ke pusat harapan mereka di surga? Jawabannya adalah\u2014mereka di sini supaya mereka dapat \u201chidup untuk Tuhan,\u201d [Rom 14:8] dan dapat membawa orang-orang lain mengetahui kasih-Nya. Kita masih berada di bumi sebagai penabur untuk menabur benih yang baik; sebagai pembajak untuk memecah tanah kosong; sebagai pewarta kabar keselamatan. Kita di sini sebagai \u201cgaram dunia\u201d [Mat 5:13], untuk menjadi berkat bagi dunia. Kita di sini untuk memuliakan Kristus dalam keseharian kita. Kita di sini sebagai pekerja-Nya, dan sebagai \u201cteman-teman sekerja\u201d [2 Kor 6:1]. Mari kita melihat hidup kita memenuhi tujuannya. Mari kita hidup sungguh-sungguh, bermakna, kudus, hingga \u201cterpujilah kasih karunia-Nya yang mulia\u201d [Ef 1:6]. Sementara itu, kita rindu untuk bersama-sama dengan Dia, dan setiap hari bernyanyi\u2014 RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Jika Allah menghendaki, setiap kita mungkin langsung masuk surga tepat di saat kita menjadi orang Kristen. Kita bertahan di sini bukanlah suatu persiapan yang harus bagi kekekalan kita. Adalah mungkin bagi manusia untuk dibawa ke surga, dan ditemukan layak untuk mengambil warisan orang-orang kudus dalam terang, meskipun ia baru saja percaya pada Yesus. Memang benar pengudusan kita adalah proses yang panjang dan terus berlangsung, dan kita tidak mungkin disempurnakan sampai kita meninggalkan tubuh kita dan masuk ke dalam tabir; tetapi meskipun begitu, jika Tuhan menghendaki demikian, Ia bisa saja mengubah kita dari ketidaksempurnaan menjadi sempurna, dan langsung membawa kita ke surga. Lalu, mengapa kita di sini? Akankah Tuhan menjauhkan anak-anak-Nya dari Firdaus sekejap lebih lama daripada yang diperlukan? Mengapa laskar Allah yang hidup masih berada di medan pertempuran padahal satu serangan bisa memberikan mereka kemenangan? Mengapakah anak-anak-Nya masih berkeliaran ke sana kemari melewati sebuah labirin, padahal sepatah kata dari bibir-Nya akan membawa mereka ke pusat harapan mereka di surga? Jawabannya adalah\u2014mereka di sini supaya mereka dapat \u201c<i>hidup untuk Tuhan,<\/i>\u201d [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Rom%2014:8\">Rom 14:8<\/a>] dan dapat membawa orang-orang lain mengetahui kasih-Nya. Kita masih berada di bumi sebagai penabur untuk menabur benih yang baik; sebagai pembajak untuk memecah tanah kosong; sebagai pewarta kabar keselamatan. Kita di sini sebagai \u201cgaram dunia\u201d [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Mat%205:13\">Mat 5:13<\/a>], untuk menjadi berkat bagi dunia. Kita di sini untuk memuliakan Kristus dalam keseharian kita. Kita di sini sebagai pekerja-Nya, dan sebagai \u201cteman-teman sekerja\u201d [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?2%20Kor%206:1\">2 Kor 6:1<\/a>]. Mari kita melihat hidup kita memenuhi tujuannya. Mari kita hidup sungguh-sungguh, bermakna, kudus, hingga \u201cterpujilah kasih karunia-Nya yang mulia\u201d [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Ef%201:6\">Ef 1:6<\/a>]. Sementara itu, kita rindu untuk bersama-sama dengan Dia, dan setiap hari bernyanyi\u2014<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Jika Allah menghendaki, setiap kita mungkin langsung masuk surga tepat di saat kita menjadi orang Kristen. Kita bertahan di sini bukanlah suatu persiapan yang harus bagi kekekalan kita. Adalah mungkin bagi manusia untuk dibawa ke surga, dan ditemukan layak untuk mengambil warisan orang-orang kudus dalam terang, meskipun ia baru saja percaya pada Yesus. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-12995","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12995","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12995"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12995\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":69069,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12995\/revisions\/69069"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12995"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12995"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12995"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}