{"id":1460,"date":"2022-05-19T17:08:25","date_gmt":"2022-05-19T10:08:25","guid":{"rendered":"https:\/\/hkbp.diakonia.id\/?p=1460"},"modified":"2022-05-19T17:08:33","modified_gmt":"2022-05-19T10:08:33","slug":"sejarah-perkabaran-injil-di-papua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sejarah-perkabaran-injil-di-papua\/","title":{"rendered":"Sejarah Perkabaran Injil di Papua"},"content":{"rendered":"<div>\n<div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Mansinam, adalah pulau kecil di Teluk Doreh di wilayah ibukota Papua Barat, dapat ditempuh sekitar 20 menit dengan kapal nelayan dari pantai Kwawi kota Manokwari. Tidak ada yang istimewa dengan pulau berpenduduk sekitar 800 jiwa ini. Ratusan pohon kelapa yang menghiasi pinggir pantai berpasir putih dan berbukit hijau menjadi pemandangan biasa dijumpai di Mansinam. Memang keistimewaan ini bukan pada panorama alamnya melainkan sisi sejarahnya. Mansinam adalah saksi bisu kedatangan misionaris untuk mengabarkan kabar baik dalam Injil dan mengajarkan budaya dan tata cara hidup modern kepada penduduk lokal yang masih tergolong primitif. Pada tanggal 5 Februari 1855, misionaris Jerman Carl Wilhelm Ottouw dan Johann Gottlob Geissler menginjakkan kaki di pulau Mansinam setelah sebelumnya melakukan ekspedisi pelayaran dan singgah di Batavia, Makasar, serta Ternate. Peninggalan bersejarah terkait keberadaan Ottouw-Geissler yang dapat ditemui di Pulau Mansinam adalah sebuah salib tugu peringatan masuknya Injil di tanah Papua. Sisa peninggalan bangunan gereja yang kini tinggal pondasi yang dulu pertama dibangun oleh Ottouw-Geissler pun masih dapat dilihat. Terdapat juga sebuah sumur tua yang dibuat Ottouw-Geissler sebagai sumber air bagi seluruh penduduk pulau yang hingga kini masih tetap digunakan. Daya tarik lainnya adalah Patung Yesus Kristus setinggi 30 meter, yang pembangunannya digagas pemerintah Indonesia sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah peradaban Papua di Mansinam. Patung yang sekilas mirip patung Yesus di Rio de Janeiro, Brazil, selesai pada tahun 2014 lalu. Biasanya Pulau Mansinam dipadati pengunjung dari seluruh wilayah dan di luar papua untuk memperingati perkabaran injil tanggal 5 Februari setiap tahunnya. (tirto.id)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Mansinam, adalah pulau kecil di Teluk Doreh di wilayah ibukota Papua Barat, dapat ditempuh sekitar 20 menit dengan kapal nelayan dari pantai Kwawi kota Manokwari. Tidak ada yang istimewa dengan pulau berpenduduk sekitar 800 jiwa ini. Ratusan pohon kelapa yang menghiasi pinggir pantai berpasir putih dan berbukit hijau menjadi pemandangan biasa dijumpai di Mansinam.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Memang keistimewaan ini bukan pada panorama alamnya melainkan sisi sejarahnya. Mansinam adalah saksi bisu kedatangan misionaris untuk mengabarkan kabar baik dalam Injil dan mengajarkan budaya dan tata cara hidup modern kepada penduduk lokal yang masih tergolong primitif.<\/p>\n<p>Pada tanggal 5 Februari 1855, misionaris Jerman Carl Wilhelm Ottouw dan Johann Gottlob Geissler menginjakkan kaki di pulau Mansinam setelah sebelumnya melakukan ekspedisi pelayaran dan singgah di Batavia, Makasar, serta Ternate. Peninggalan bersejarah terkait keberadaan Ottouw-Geissler yang dapat ditemui di Pulau Mansinam adalah sebuah salib tugu peringatan masuknya Injil di tanah Papua.<\/p>\n<p>Sisa peninggalan bangunan gereja yang kini tinggal pondasi yang dulu pertama dibangun oleh Ottouw-Geissler pun masih dapat dilihat. Terdapat juga sebuah sumur tua yang dibuat Ottouw-Geissler sebagai sumber air bagi seluruh penduduk pulau yang hingga kini masih tetap digunakan.<\/p>\n<p>Daya tarik lainnya adalah Patung Yesus Kristus setinggi 30 meter, yang pembangunannya digagas pemerintah Indonesia sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah peradaban Papua di Mansinam. Patung yang sekilas mirip patung Yesus di Rio de Janeiro, Brazil, selesai pada tahun 2014 lalu.<\/p>\n<p>Biasanya Pulau Mansinam dipadati pengunjung dari seluruh wilayah dan di luar papua untuk memperingati perkabaran injil tanggal 5 Februari setiap tahunnya.<em> (tirto.id)<br \/>\n<\/em><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Mansinam, adalah pulau kecil di Teluk Doreh di wilayah ibukota Papua Barat, dapat ditempuh sekitar 20 menit dengan kapal nelayan dari pantai Kwawi kota Manokwari. Tidak ada yang istimewa dengan pulau berpenduduk sekitar 800 jiwa ini. Ratusan pohon kelapa yang menghiasi pinggir pantai berpasir putih dan berbukit hijau menjadi pemandangan biasa dijumpai di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":61571,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"5"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,20],"tags":[195],"class_list":["post-1460","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-sejarah","tag-papua"],"better_featured_image":{"id":61571,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/sejarah-perkabaran-injil-di-papua.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/sejarah-perkabaran-injil-di-papua.jpg?fit=768%2C432&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/sejarah-perkabaran-injil-di-papua.jpg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":20,"name":"Sejarah","description":"","slug":"sejarah","count":39,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/sejarah-perkabaran-injil-di-papua.jpg?fit=974%2C548&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1661","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1460","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1460"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1460\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61571"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1460"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1460"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1460"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}