{"id":14610,"date":"2026-07-05T18:16:00","date_gmt":"2026-07-05T11:16:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/jangan-kita-tidur-seperti-orang-orang-lain-1-tesalonika-56\/"},"modified":"2026-07-05T18:16:00","modified_gmt":"2026-07-05T11:16:00","slug":"jangan-kita-tidur-seperti-orang-orang-lain-1-tesalonika-56","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/jangan-kita-tidur-seperti-orang-orang-lain-1-tesalonika-56\/","title":{"rendered":"Dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus. [Roma 1:7]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kita cenderung menganggap orang-orang kudus apostolik (kerasulan) seolah-olah mereka \u201corang-orang kudus\u201d yang lebih utama dari anak-anak Tuhan lainnya. Semua yang Allah panggil karena anugerah-Nya, dan dikuduskan karena Roh-Nya, merupakan \u201corang-orang kudus\u201d; tetapi kita cenderung melihat para rasul seperti makhluk yang luar biasa, hampir tidak mengalami kelemahan dan pencobaan seperti kita. Namun kita lupa kebenaran ini, bahwa semakin dekat seseorang hidup untuk Allah, semakin intens dia harusnya meratapi hatinya yang jahat. Semakin Tuannya menghormati dia di dalam pelayanannya, semakin banyak juga kejahatan yang menyusahkan dan menggodanya hari demi hari. Kenyataannya apabila kita telah melihat Rasul Paulus, kita sungguh akan berpikir bahwa ia seperti seluruh keluarga kaum pilihan: dan jika kita telah berbicara kepadanya, kita seharusnya berkata \u201cKami menemukan bahwa pengalaman dia dan kami memiliki banyak kesamaan. Dia lebih setia, lebih suci, dan lebih diajar secara mendalam daripada kami, tetapi dia memiliki pencobaan yang sama yang harus ditahan. Tidak, di dalam beberapa hal dia lebih dicobai daripada kami.\u201d Janganlah, memandang orang-orang kudus zaman dahulu seolah-olah bebas, baik dari kelemahan atau dosa-dosa; dan jangan menganggap mereka dengan kehormatan mistis seperti itu yang hampir membuat kita menjadi penyembah berhala. Kekudusan mereka dapat dicapai oleh kita. Kita \u201cdipanggil menjadi orang-orang kudus\u201d oleh suara yang sama yang mengikat mereka pada pekerjaan yang mulia. Ini adalah tugas orang Kristen yaitu untuk mengarahkan jalan dirinya kepada lingkaran yang lebih dalam dari karakter orang kudus; dan jika orang-orang kudus ini unggul dari kita dalam pencapaian mereka, mari kita meneladani mereka; mari kita meniru semangat dan kekudusan mereka. Kita memiliki cahaya yang sama seperti mereka, anugerah yang sama dapat kita akses, lalu mengapa kita sekarang merasa puas, sebelum kita menyamai mereka di dalam karakter surgawi? Mereka hidup bersama Yesus, mereka hidup bagi Yesus, oleh karena itu mereka bertumbuh seperti Yesus. Mari kita hidup oleh Roh yang sama seperti yang mereka lakukan, \u201cdengan mata yang tertuju kepada Yesus\u201d [Ibrani 12:2], dan karakter orang kudus milik kita akan segera nyata. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Kita cenderung menganggap orang-orang kudus apostolik (kerasulan) seolah-olah mereka \u201corang-orang kudus\u201d yang lebih utama dari anak-anak Tuhan lainnya. Semua yang Allah panggil karena anugerah-Nya, dan dikuduskan karena Roh-Nya, merupakan \u201corang-orang kudus\u201d; tetapi kita cenderung melihat para rasul seperti makhluk yang luar biasa, hampir tidak mengalami kelemahan dan pencobaan seperti kita. Namun kita lupa kebenaran ini, bahwa semakin dekat seseorang hidup untuk Allah, semakin intens dia harusnya meratapi hatinya yang jahat. Semakin Tuannya menghormati dia di dalam pelayanannya, semakin banyak juga kejahatan yang menyusahkan dan menggodanya hari demi hari. Kenyataannya apabila kita telah melihat Rasul Paulus, kita sungguh akan berpikir bahwa ia seperti seluruh keluarga kaum pilihan: dan jika kita telah berbicara kepadanya, kita seharusnya berkata \u201cKami menemukan bahwa pengalaman dia dan kami memiliki banyak kesamaan. Dia lebih setia, lebih suci, dan lebih diajar secara mendalam daripada kami, tetapi dia memiliki pencobaan yang sama yang harus ditahan. Tidak, di dalam beberapa hal dia lebih dicobai daripada kami.\u201d Janganlah, memandang orang-orang kudus zaman dahulu seolah-olah bebas, baik dari kelemahan atau dosa-dosa; dan jangan menganggap mereka dengan kehormatan mistis seperti itu yang hampir membuat kita menjadi penyembah berhala. Kekudusan mereka dapat dicapai oleh kita. Kita \u201cdipanggil menjadi orang-orang kudus\u201d oleh suara yang sama yang mengikat mereka pada pekerjaan yang mulia. Ini adalah tugas orang Kristen yaitu untuk mengarahkan jalan dirinya kepada lingkaran yang lebih dalam dari karakter orang kudus; dan jika orang-orang kudus ini unggul dari kita dalam pencapaian mereka, mari kita meneladani mereka; mari kita meniru semangat dan kekudusan mereka. Kita memiliki cahaya yang sama seperti mereka, anugerah yang sama dapat kita akses, lalu mengapa kita sekarang merasa puas, sebelum kita menyamai mereka di dalam karakter surgawi? Mereka hidup bersama Yesus, mereka hidup bagi Yesus, oleh karena itu mereka bertumbuh seperti Yesus. Mari kita hidup oleh Roh yang sama seperti yang mereka lakukan, \u201cdengan mata yang tertuju kepada Yesus\u201d [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Ibrani%2012:2\">Ibrani 12:2<\/a>], dan karakter orang kudus milik kita akan segera nyata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kita cenderung menganggap orang-orang kudus apostolik (kerasulan) seolah-olah mereka \u201corang-orang kudus\u201d yang lebih utama dari anak-anak Tuhan lainnya. Semua yang Allah panggil karena anugerah-Nya, dan dikuduskan karena Roh-Nya, merupakan \u201corang-orang kudus\u201d; tetapi kita cenderung melihat para rasul seperti makhluk yang luar biasa, hampir tidak mengalami kelemahan dan pencobaan seperti kita. Namun kita lupa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-14610","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"13","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14610","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14610"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14610\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":69142,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14610\/revisions\/69142"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14610"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14610"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14610"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}