{"id":14946,"date":"2024-07-30T08:46:39","date_gmt":"2024-07-30T01:46:39","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sebab-itu-siapa-yang-menyangka-bahwa-ia-teguh-berdiri-hati-hatilah-supaya-ia-jangan-jatuh-1-korintus-1012\/"},"modified":"2024-07-30T08:46:43","modified_gmt":"2024-07-30T01:46:43","slug":"sebab-itu-siapa-yang-menyangka-bahwa-ia-teguh-berdiri-hati-hatilah-supaya-ia-jangan-jatuh-1-korintus-1012","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sebab-itu-siapa-yang-menyangka-bahwa-ia-teguh-berdiri-hati-hatilah-supaya-ia-jangan-jatuh-1-korintus-1012\/","title":{"rendered":"Lalu menangislah ia tersedu-sedu. [Markus 14:72]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Beberapa orang berpikir bahwa selama Petrus hidup, air matanya mulai memancur kapanpun ia mengingat penyangkalannya terhadap Tuhan-nya. Tidak mustahil memang seperti itu, sebab dosanya sungguh besar, dan kasih karunia telah mengerjakan karya yang sempurna di dalam dirinya. Pengalaman yang sama ini lazim dialami semua keluarga yang tertebus sesuai dengan derajat Roh Allah menghapus hati alami mereka yang berupa batu. [Yeh 11:19] Marilah kita, seperti Petrus, ingat akan janji kita yang penuh kebanggaan: \u201cMeskipun semua orang meninggalkan Engkau, tetapi aku tidak akan.\u201d Kita memakan perkataan kita sendiri dengan ramuan pahit pertobatan. Ketika kita berpikir mengenai apa yang kita janjikan dan apa yang telah terjadi, kita akan menangis dengan hujan kesedihan. Petrus memikirkan penyangkalan terhadap Tuhan-nya. Tempat di mana dia melakukannya, penyebab kecil yang membawa dia kepada dosa yang keji, sumpah-sumpah dan hujatan yang ia pakai untuk meyakinkan kebohongannya, dan pengerasan hati yang mengerikan mendorong dia untuk melakukannya lagi dan lagi. Bisakah kita, ketika kita diingatkan akan dosa-dosa kita, dan keberdosaan yang berlebihan, tetap bersikap dingin dan keras kepala? Akankah kita tidak membuat rumah kita menjadi Bokhim [Hak 2:5], dan berseru kepada Tuhan untuk pembaruan jaminan dari kasih yang mengampuni? Biarlah kita tidak pernah memiliki mata yang kering terhadap dosa, supaya kita tidak memiliki lidah yang kering di api neraka. Petrus juga berpikir tentang pandangan kasih dari Gurunya. Tuhan menindaklanjuti suara peringatan ayam yang berkokok dengan raut wajah yang memperlihatkan kesedihan, belas kasihan, dan kasih. Pandangan sekilas itu tidak pernah hilang dari benak Petrus selama dia hidup. Itu jauh lebih manjur daripada sepuluh ribu khotbah yang diberikan tanpa Roh. Rasul yang menyesal pasti bersedih ketika dia mengingat akan pengampunan penuh Sang Juruselamat, yang memulihkannya kepada kondisi yang semula. Memikirkan bahwa kita telah melukai Tuhan yang baik dan murah hati, merupakan alasan yang lebih dari cukup untuk menjadi peratap yang terus-menerus. Tuhan, pukul batu karang hati kami, dan buatlah air mengalir. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Beberapa orang berpikir bahwa selama Petrus hidup, air matanya mulai memancur kapanpun ia mengingat penyangkalannya terhadap Tuhan-nya. Tidak mustahil memang seperti itu, sebab dosanya sungguh besar, dan kasih karunia telah mengerjakan karya yang sempurna di dalam dirinya. Pengalaman yang sama ini lazim dialami semua keluarga yang tertebus sesuai dengan derajat Roh Allah menghapus hati alami mereka yang berupa batu. [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Yeh%2011:19\">Yeh 11:19<\/a>] Marilah kita, seperti Petrus, ingat akan <i>janji kita yang penuh kebanggaan<\/i>: \u201cMeskipun semua orang meninggalkan Engkau, tetapi aku tidak akan.\u201d Kita memakan perkataan kita sendiri dengan ramuan pahit pertobatan. Ketika kita berpikir mengenai apa yang kita janjikan dan apa yang telah terjadi, kita akan menangis dengan hujan kesedihan. Petrus memikirkan <i>penyangkalan terhadap Tuhan-nya<\/i>. Tempat di mana dia melakukannya, penyebab kecil yang membawa dia kepada dosa yang keji, sumpah-sumpah dan hujatan yang ia pakai untuk meyakinkan kebohongannya, dan pengerasan hati yang mengerikan mendorong dia untuk melakukannya lagi dan lagi. Bisakah kita, ketika kita diingatkan akan dosa-dosa kita, dan keberdosaan yang berlebihan, tetap bersikap dingin dan keras kepala? Akankah kita tidak membuat rumah kita menjadi Bokhim [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Hak%202:5\">Hak 2:5<\/a>], dan berseru kepada Tuhan untuk pembaruan jaminan dari kasih yang mengampuni? Biarlah kita tidak pernah memiliki mata yang kering terhadap dosa, supaya kita tidak memiliki lidah yang kering di api neraka. Petrus juga berpikir tentang <i>pandangan kasih dari Gurunya<\/i>. Tuhan menindaklanjuti suara peringatan ayam yang berkokok dengan raut wajah yang memperlihatkan kesedihan, belas kasihan, dan kasih. Pandangan sekilas itu tidak pernah hilang dari benak Petrus selama dia hidup. Itu jauh lebih manjur daripada sepuluh ribu khotbah yang diberikan tanpa Roh. Rasul yang menyesal pasti bersedih ketika dia mengingat akan <i>pengampunan penuh Sang Juruselamat<\/i>, yang memulihkannya kepada kondisi yang semula. Memikirkan bahwa kita telah melukai Tuhan yang baik dan murah hati, merupakan alasan yang lebih dari cukup untuk menjadi peratap yang terus-menerus. Tuhan, pukul batu karang hati kami, dan buatlah air mengalir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Beberapa orang berpikir bahwa selama Petrus hidup, air matanya mulai memancur kapanpun ia mengingat penyangkalannya terhadap Tuhan-nya. Tidak mustahil memang seperti itu, sebab dosanya sungguh besar, dan kasih karunia telah mengerjakan karya yang sempurna di dalam dirinya. Pengalaman yang sama ini lazim dialami semua keluarga yang tertebus sesuai dengan derajat Roh Allah menghapus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-14946","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":null,"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"136","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14946","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14946"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14946\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":66972,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14946\/revisions\/66972"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14946"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14946"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14946"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}