{"id":1574,"date":"2021-01-11T09:04:23","date_gmt":"2021-01-11T02:04:23","guid":{"rendered":"https:\/\/hkbp.diakonia.id\/?p=1574"},"modified":"2021-01-11T09:04:28","modified_gmt":"2021-01-11T02:04:28","slug":"ketika-orang-atheis-dan-agnostik-enggan-punya-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/ketika-orang-atheis-dan-agnostik-enggan-punya-anak\/","title":{"rendered":"Ketika Orang Atheis dan Agnostik Enggan Punya Anak"},"content":{"rendered":"<div>\n<div>\n<div class=\"intro-text\">\n<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ibu-ibu beragama Islam akan melahirkan anak lebih banyak dari ibu-ibu beragama Kristen, sedangkan aliran yang tidak berafiliasi dengan agama apapun akan menghadapi bencana baru: sedikit mendapatkan keturunan. Dua agama terbesar di dunia, Islam dan Kristen punya kecenderungan yang sama mengenai pentingnya menambah keturunan. Pernikahan tidak hanya sebagai bentuk legalitas dari hubungan laki-laki dan perempuan, akan tetapi juga mengenai pertambahan populasi umat beragama keduanya. Pada agama Kristen malah disebutkan secara eksplisit dalam Kitab Kejadian (1:28), \u201cBeranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.\u201d Hal tersebut menjadi salah satu dampak yang kemudian membuat dua agama ini akan terus meningkat jumlah populasinya, selain\u2014tentu saja\u2014perubahan keyakinan yang berpindah masuk menjadi Kristen atau Islam. Meskipun prediksi ini akan lebih banyak menguntungkan Islam yang tumbuh lebih cepat dari agama apapun di dunia terkait penambahan jumlah populasi manusia. Data dari Pew Research Center menjelaskan bahwa tanda-tanda ini sudah terlihat pada periode 2010 sampai 2015 yakni 31 persen kelahiran bayi-bayi di seluruh dunia adalah bayi yang dilahirkan dari keluarga muslim. Angka yang jauh lebih tinggi dari persentase jumlah muslim di dunia (24%). Di sisi lain bayi yang lahir dari keluarga Kristen juga akan tumbuh, yakni sebesar 33% dari jumlah bayi yang lahir di dunia pada periode yang sama. Sekilas angka ini memang lebih banyak daripada bayi yang dilahirkan dari keluarga muslim, hanya saja melihat fakta bahwa populasi penganut agama Kristen merupakan yang terbanyak di dunia (31,4%) maka peningkatan jumlah populasi dari angka kelahiran ini justru jauh lebih kecil dibandingkan pertambahan umat muslim. Pada populasi kelahiran bayi Kristen sebesar 33% dari total kelahiran bayi di dunia, akan semakin terlihat semakin kecil jika menengok potensi kematian usia lanjut pada periode yang sama. Hal yang diprediksi akan terlihat di Eropa, di mana jumlah kematian akan melebihi jumlah kelahiran. Ambil contoh di Jerman, pada periode 2010-2015 jumlah kematian wajar (usia lanjut, penyakit, dll) lebih banyak 1,4 juta dibandingkan jumlah angka kelahiran. Hal yang diprediksi akan terus seperti itu untuk beberapa dekade ke depan. Inilah yang kemudian menjadi jawaban, bahwa populasi umat Islam di Eropa akan merangkak naik menjadi 10% dari total populasi di Eropa pada 2050. Sedangkan umat Islam pada 2010-2015 hanya kehilangan 61 juta pemeluknya karena meninggal dan melahirkan 213 juta bayi baru pada periode yang sama. Meskipun begitu, memasuki periode selanjutnya pada 2030-2035, jumlah kelahiran bayi Islam (225 juta) akan lebih sedikit daripada periode sebelumnya, meskipun tetap lebih banyak daripada jumlah kelahiran bayi Kristen (223 juta). Pada periode 2055-2060, kesenjangan ini akan terus membesar, sampai-sampai keluarga muslim akan melahirkan anak 6 juta lebih banyak daripada keluarga Kristen. Hasil penelitian dari Pew Research ini sebenarnya perlu dijelaskan mengenai ungkapan \u201cbayi Kristen\u201d atau \u201cbayi Islam\u201d. Penggunaan istilah ini tidak dimaksudkan bahwa si bayi otomatis akan memiliki bentuk keyakinan yang sama dengan orang tuanya. Istilah ini hanya bentuk penyederhanaan untuk mengidentifikasi kelompok bayi berdasarkan identitas keluarganya. Asumsi yang didasari bahwa anak-anak cenderung mewarisi identitas agama orang tuanya sampai dewasa. Usia di mana\u2014bisa jadi\u2014membuat anak beralih keyakinan. Bahkan mungkin punya keyakinan yang tidak berafiliasi dengan agama apapun di dunia. Menjadi atheis atau agnostik. Pada kelompok yang tidak berafiliasi dengan agama apapun (atheis dan agnostik) diperkirakan hanya melahirkan anak 10% dari total jumlah populasi kelahiran di dunia pada periode 2010-2015. Dari persentase jumlah mereka di dunia (16%), angka ini akan terus mengalami tren penurunan sampai beberapa dekade mendatang. Hanya ada 9% bayi yang dilahirkan dari keluarga yang tidak berafiliasi dengan agama pada 2055-2060, sementara pada saat yang sama bayi muslim 36% dan bayi Kristen 35% dari total kelahiran di dunia. Tren penurunan ini berkaitan dengan rendahnya kelahiran pada ibu-ibu atheis atau agnostik. Sebab kelompok ini biasanya tidak percaya dengan konsep pentingnya menambah keturunan pada pernikahan\u2014atau bahkan pada beberapa kasus tidak percaya pada konsep pernikahan. Dari beberapa negara tersebut, pertambahan jumlah penduduk dari kelompok ini akan membesar beberapa dekade mendatang bukan karena jumlah kelahiran dan kecilnya angka kematian, melainkan perpindahan dari agama-agama lain. Antara tahun 2015 sampai 2020 mendatang, atheis dan agnostik akan mendapatkan \u201canggota baru\u201d sekitar 8 juta orang. Angka ini jelas tidak berarti apa-apa dengan pertumbuhan jumlah umat beragama lainnya, sehingga sekalipun selama 2010 sampai 2050 akan ada peningkatan 100 juta orang atheis dan agnostik baru, dibandingkan dengan jumlah total populasi dunia yang juga akan meningkat pesat, jumlah mereka justru menurun dari 16% pada 2010 menjadi 13% pada 2050. Salah satu sebabnya adalah angka kelahiran mereka yang akan mengalami penurunan dari dekade ke dekade. sumber: tirto.id dengan pengubahan seperlunya\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; <i class=\"italic ringkasan mb-2\">Ibu-ibu beragama Islam akan melahirkan anak lebih banyak dari ibu-ibu beragama Kristen, sedangkan aliran yang tidak berafiliasi dengan agama apapun akan menghadapi bencana baru: sedikit mendapatkan keturunan.<\/i><\/p>\n<p>Dua agama terbesar di dunia, Islam dan Kristen punya kecenderungan yang sama mengenai pentingnya menambah keturunan. Pernikahan tidak hanya sebagai bentuk legalitas dari hubungan laki-laki dan perempuan, akan tetapi juga mengenai pertambahan populasi umat beragama keduanya.<\/p>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Pada agama Kristen malah disebutkan secara eksplisit dalam Kitab Kejadian (1:28), \u201cBeranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.\u201d<\/p>\n<p>Hal tersebut menjadi salah satu dampak yang kemudian membuat dua agama ini akan terus meningkat jumlah populasinya, selain\u2014tentu saja\u2014perubahan keyakinan yang berpindah masuk menjadi Kristen atau Islam. Meskipun prediksi ini akan lebih banyak menguntungkan Islam yang tumbuh lebih cepat dari agama apapun di dunia terkait penambahan jumlah populasi manusia.<\/p>\n<p>Data dari <a href=\"http:\/\/www.pewforum.org\/2017\/04\/05\/the-changing-global-religious-landscape\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i>Pew Research Center<\/i> <\/a>menjelaskan bahwa tanda-tanda ini sudah terlihat pada periode 2010 sampai 2015 yakni 31 persen kelahiran bayi-bayi di seluruh dunia adalah bayi yang dilahirkan dari keluarga muslim. Angka yang jauh lebih tinggi dari persentase jumlah muslim di dunia (24%).<\/p>\n<p>Di sisi lain bayi yang lahir dari keluarga Kristen juga akan tumbuh, yakni sebesar 33% dari jumlah bayi yang lahir di dunia pada periode yang sama. Sekilas angka ini memang lebih banyak daripada bayi yang dilahirkan dari keluarga muslim, hanya saja melihat fakta bahwa populasi penganut agama Kristen merupakan yang terbanyak di dunia (31,4%) maka peningkatan jumlah populasi dari angka kelahiran ini justru jauh lebih kecil dibandingkan pertambahan umat muslim.<ins data-revive-zoneid=\"22\" data-revive-id=\"baff033da4ed9a0ed37f394b92017071\"><\/ins><\/p>\n<p>Pada populasi kelahiran bayi Kristen sebesar 33% dari total kelahiran bayi di dunia, akan semakin terlihat semakin kecil jika menengok potensi kematian usia lanjut pada periode yang sama. Hal yang diprediksi akan terlihat di Eropa, di mana jumlah kematian akan melebihi jumlah kelahiran.<\/p>\n<p>Ambil contoh di Jerman, pada periode 2010-2015 jumlah kematian wajar (usia lanjut, penyakit, dll) lebih banyak 1,4 juta dibandingkan jumlah angka kelahiran. Hal yang diprediksi akan terus seperti itu untuk beberapa dekade ke depan. Inilah yang kemudian menjadi jawaban, bahwa populasi umat Islam di Eropa akan merangkak naik menjadi 10% dari total populasi di Eropa pada 2050. Sedangkan umat Islam pada 2010-2015 hanya kehilangan 61 juta pemeluknya karena meninggal dan melahirkan 213 juta bayi baru pada periode yang sama.<\/p>\n<p>Meskipun begitu, memasuki periode selanjutnya pada 2030-2035, jumlah kelahiran bayi Islam (225 juta) akan lebih sedikit daripada periode sebelumnya, meskipun tetap lebih banyak daripada jumlah kelahiran bayi Kristen (223 juta). Pada periode 2055-2060, kesenjangan ini akan terus membesar, sampai-sampai keluarga muslim akan melahirkan anak 6 juta lebih banyak daripada keluarga Kristen.<\/p>\n<p>Hasil penelitian dari Pew Research ini sebenarnya perlu dijelaskan mengenai ungkapan \u201cbayi Kristen\u201d atau \u201cbayi Islam\u201d. Penggunaan istilah ini tidak dimaksudkan bahwa si bayi otomatis akan memiliki bentuk keyakinan yang sama dengan orang tuanya. Istilah ini hanya bentuk penyederhanaan untuk mengidentifikasi kelompok bayi berdasarkan identitas keluarganya.<\/p>\n<p>Asumsi yang didasari bahwa anak-anak cenderung mewarisi identitas agama orang tuanya sampai dewasa. Usia di mana\u2014bisa jadi\u2014membuat anak beralih keyakinan. Bahkan mungkin punya keyakinan yang tidak berafiliasi dengan agama apapun di dunia. Menjadi atheis atau agnostik.<\/p>\n<div class=\"col-md-12\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/hkbp.diakonia.id\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/a4bf2ddcbe483f36824079264eb2ff32.jpeg?ssl=1\" alt=\"Infografik Tuhan Yang Semakin Dipertanyakan\"  \/><\/div>\n<p>Pada kelompok yang tidak berafiliasi dengan agama apapun (atheis dan agnostik) diperkirakan hanya melahirkan anak 10% dari total jumlah populasi kelahiran di dunia pada periode 2010-2015. Dari persentase jumlah mereka di dunia (16%), angka ini akan terus mengalami tren penurunan sampai beberapa dekade mendatang. Hanya ada 9% bayi yang dilahirkan dari keluarga yang tidak berafiliasi dengan agama pada 2055-2060, sementara pada saat yang sama bayi muslim 36% dan bayi Kristen 35% dari total kelahiran di dunia.<\/p>\n<p>Tren penurunan ini berkaitan dengan rendahnya kelahiran pada ibu-ibu atheis atau agnostik. Sebab kelompok ini biasanya tidak percaya dengan konsep pentingnya menambah keturunan pada pernikahan\u2014atau bahkan pada beberapa kasus tidak percaya pada konsep pernikahan.<\/p>\n<p>Dari beberapa negara tersebut, pertambahan jumlah penduduk dari kelompok ini akan membesar beberapa dekade mendatang bukan karena jumlah kelahiran dan kecilnya angka kematian, melainkan perpindahan dari agama-agama lain. Antara tahun 2015 sampai 2020 mendatang, atheis dan agnostik akan mendapatkan \u201canggota baru\u201d sekitar 8 juta orang.<\/p>\n<p>Angka ini jelas tidak berarti apa-apa dengan pertumbuhan jumlah umat beragama lainnya, sehingga sekalipun selama 2010 sampai 2050 akan ada peningkatan 100 juta orang atheis dan agnostik baru, dibandingkan dengan jumlah total populasi dunia yang juga akan meningkat pesat, jumlah mereka justru menurun dari 16% pada 2010 menjadi 13% pada 2050. Salah satu sebabnya adalah angka kelahiran mereka yang akan mengalami penurunan dari dekade ke dekade.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>sumber: tirto.id dengan pengubahan seperlunya<br \/>\n<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ibu-ibu beragama Islam akan melahirkan anak lebih banyak dari ibu-ibu beragama Kristen, sedangkan aliran yang tidak berafiliasi dengan agama apapun akan menghadapi bencana baru: sedikit mendapatkan keturunan. Dua agama terbesar di dunia, Islam dan Kristen punya kecenderungan yang sama mengenai pentingnya menambah keturunan. Pernikahan tidak hanya sebagai bentuk legalitas dari hubungan laki-laki dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":48958,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,3],"tags":[],"class_list":["post-1574","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-umum"],"better_featured_image":{"id":48958,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/atheist.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/atheist.jpg?fit=640%2C360&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/atheist.jpg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/atheist.jpg?fit=640%2C360&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1290","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1574","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1574"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1574\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48958"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1574"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1574"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1574"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}