{"id":15790,"date":"2025-09-01T18:15:42","date_gmt":"2025-09-01T11:15:42","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sebab-aku-menumpang-pada-mu-mazmur-3912-1\/"},"modified":"2025-09-01T18:15:43","modified_gmt":"2025-09-01T11:15:43","slug":"sebab-aku-menumpang-pada-mu-mazmur-3912-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sebab-aku-menumpang-pada-mu-mazmur-3912-1\/","title":{"rendered":"Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. [Mazmur 73:24]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Sang Pemazmur merasakan kebutuhannya terhadap tuntunan ilahi. Ia baru saja menemukan kebebalan dari hatinya sendiri, dan agar ia tidak secara terus-menerus diserongkan olehnya, ia memutuskan bahwa nasehat Tuhan harus untuk selanjutnya menuntun dia. Suatu kesadaran terhadap kebebalan diri kita adalah langkah yang besar menuju kebijaksanaan, ketika ia menuntun kita untuk bersandar kepada kebijaksanaan dari Tuhan. Orang buta bersandar kepada lengan kawannya dan sampai ke rumah dengan selamat, seperti demikian juga kita menyerahkan diri kita secara implisit terhadap tuntunan ilahi, tidak ragu-ragu; yakin bahwa walaupun kita tidak dapat melihat, namun selalu aman bagi kita untuk bergantung kepada Tuhan yang melihat segala sesuatu. &quot;Engkau [akan]&quot; [\u201cThou shalt\u201d] adalah ekspresi berkat keyakinan. Ia yakin bahwa Allah tidak akan menolak tugas yang remeh. Ada perkataan bagi engkau, oh umat percaya; beristirahatlah di dalamnya. Yakinlah bahwa Allahmu akan menjadi penasehat dan temanmu; Ia akan membimbing engkau; Ia akan mengarahkan segala jalanmu. Dalam Firman-Nya yang tertulis, jaminan ini sebagian terpenuhi, karena kitab suci adalah nasehat-Nya kepada engkau. Betapa bahagianya kita memiliki Firman Tuhan yang selalu menuntun kita! Apakah jadinya seorang pelaut tanpa kompasnya? Apakah jadinya seorang Kristen tanpa Alkitab? Alkitab adalah sebuah bagan yang tidak akan salah, sebuah peta di mana setiap dangkalan dideskripsikan, dan setiap saluran dari pasir hisap kehancuran sampai tempat perlindungan dari keselamatan dipetakan dan ditandai oleh Yang mengetahui segalanya. Terpujilah Engkau, Oh Tuhan, bahwa kami dapat percaya kepada Engkau untuk menuntun kami sekarang, dan menuntun kami bahkan sampai akhirnya! Setelah bimbingan sepanjang hidup ini, Sang Pemazmur menantikan resepsi ilahi pada akhirnya \u2014\u201cdan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan\u201d. Adalah sebuah pemikiran bagi engkau, umat percaya! Tuhan sendiri akan menerima engkau kepada kemuliaan \u2014engkau! Berkelana, berdosa, dan menyimpang, namun pada akhirnya Ia akan membawa engkau selamat kepada kemuliaan! Ini adalah bagianmu; hiduplah baginya hari ini, dan jika kebimbangan mengelilingi engkau, pergilah langsung kepada singgasana dengan kekuatan nats ini. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Sang Pemazmur merasakan kebutuhannya terhadap tuntunan ilahi. Ia baru saja menemukan kebebalan dari hatinya sendiri, dan agar ia tidak secara terus-menerus diserongkan olehnya, ia memutuskan bahwa nasehat Tuhan harus untuk selanjutnya menuntun dia. Suatu kesadaran terhadap kebebalan diri kita adalah langkah yang besar menuju kebijaksanaan, ketika ia menuntun kita untuk bersandar kepada kebijaksanaan dari Tuhan. Orang buta bersandar kepada lengan kawannya dan sampai ke rumah dengan selamat, seperti demikian juga kita menyerahkan diri kita secara implisit terhadap tuntunan ilahi, tidak ragu-ragu; yakin bahwa walaupun kita tidak dapat melihat, namun selalu aman bagi kita untuk bergantung kepada Tuhan yang melihat segala sesuatu. &#8220;<i>Engkau [akan]<\/i>&#8221; [\u201cThou shalt\u201d] adalah ekspresi berkat keyakinan. Ia yakin bahwa Allah tidak akan menolak tugas yang remeh. Ada perkataan bagi engkau, oh umat percaya; beristirahatlah di dalamnya. Yakinlah bahwa Allahmu akan menjadi penasehat dan temanmu; Ia akan membimbing engkau; Ia akan mengarahkan segala jalanmu. Dalam Firman-Nya yang tertulis, jaminan ini sebagian terpenuhi, karena kitab suci adalah nasehat-Nya kepada engkau. Betapa bahagianya kita memiliki Firman Tuhan yang selalu menuntun kita! Apakah jadinya seorang pelaut tanpa kompasnya? Apakah jadinya seorang Kristen tanpa Alkitab? Alkitab adalah sebuah bagan yang tidak akan salah, sebuah peta di mana setiap dangkalan dideskripsikan, dan setiap saluran dari pasir hisap kehancuran sampai tempat perlindungan dari keselamatan dipetakan dan ditandai oleh Yang mengetahui segalanya. Terpujilah Engkau, Oh Tuhan, bahwa kami dapat percaya kepada Engkau untuk menuntun kami sekarang, dan menuntun kami bahkan sampai akhirnya! Setelah bimbingan sepanjang hidup ini, Sang Pemazmur menantikan resepsi ilahi pada akhirnya \u2014\u201c<i>dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan<\/i>\u201d. Adalah sebuah pemikiran bagi engkau, umat percaya! Tuhan sendiri akan menerima <i>engkau<\/i> kepada kemuliaan \u2014<i>engkau<\/i>! Berkelana, berdosa, dan menyimpang, namun pada akhirnya Ia akan membawa engkau selamat kepada kemuliaan! Ini adalah bagianmu; hiduplah baginya hari ini, dan jika kebimbangan mengelilingi engkau, pergilah langsung kepada singgasana dengan kekuatan nats ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Sang Pemazmur merasakan kebutuhannya terhadap tuntunan ilahi. Ia baru saja menemukan kebebalan dari hatinya sendiri, dan agar ia tidak secara terus-menerus diserongkan olehnya, ia memutuskan bahwa nasehat Tuhan harus untuk selanjutnya menuntun dia. Suatu kesadaran terhadap kebebalan diri kita adalah langkah yang besar menuju kebijaksanaan, ketika ia menuntun kita untuk bersandar kepada kebijaksanaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-15790","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"264","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15790","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15790"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15790\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68090,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15790\/revisions\/68090"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15790"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15790"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15790"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}