{"id":1858,"date":"2021-03-20T21:31:50","date_gmt":"2021-03-20T14:31:50","guid":{"rendered":"https:\/\/hkbp.diakonia.id\/?p=1858"},"modified":"2021-03-20T21:31:53","modified_gmt":"2021-03-20T14:31:53","slug":"seri-2-apakah-isa-yang-dimaksud-dalam-quran-adalah-yesus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/seri-2-apakah-isa-yang-dimaksud-dalam-quran-adalah-yesus\/","title":{"rendered":"Seri 2: Apakah Isa yang dimaksud dalam Quran adalah Yesus?"},"content":{"rendered":"<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; Seri 2: Apakah Isa yang dimaksud dalam Quran adalah Yesus?<\/p>\n<p>Untuk Seri 1, silahkan dibaca di <a href=\"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/seri-1-apakah-isa-yang-dimaksud-dalam-quran-adalah-yesus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/diakonia.id\/artikel\/seri-1-apakah-isa-yang-dimaksud-dalam-quran-adalah-yesus\/<\/a><\/p>\n<h2><span id=\"Nama\" class=\"mw-headline\">Nama<\/span><\/h2>\n<p>Ada beberapa pendapat mengenai nama asli Isa. Sebagian menyatakan bahwa nama Ibrani <span dir=\"rtl\" lang=\"he\">\u05d9\u05e9\u05e2<\/span> <i>Yesyua\u2018<\/i> atau <i>Y&#8217;syua\u2018<\/i> merupakan nama asli Isa. Nama ini disebut merupakan kependekan dari <span lang=\"he\">\u05d9\u05d4\u05d5\u05e9\u05e2<\/span> <i>Yehosyua\u2018<\/i>.<sup id=\"cite_ref-newadvent.org_2-0\" class=\"reference\">[2]<\/sup>Klemens dari Aleksandria dan Sirilus dari Yerusalem berpendapat bahwa nama Yunani <span lang=\"grc\">\u1f38\u03b7\u03c3\u03bf\u1fe6\u03c2<\/span> <i>I\u0113sous<\/i> merupakan nama asli Isa dan nama ini bukan turunan dari bentuk Ibraninya.<sup id=\"cite_ref-newadvent.org_2-1\" class=\"reference\">[2]<\/sup> Pendapat lain menyatakan bahwa nama asli Isa menggunakan nama Aram <span lang=\"arc\">\u071d\u072b\u0718\u0725<\/span>, dibaca <i>Yesyu\u2018<\/i> dalam dialek Suryani Barat atau <i>Isyo\u2018<\/i> dalam dialek Suryani Timur,<sup id=\"cite_ref-Jennings_3-0\" class=\"reference\">[3]<\/sup><sup id=\"cite_ref-4\" class=\"reference\">[4]<\/sup> mengingat dia tumbuh dan berdakwah utamanya dengan bahasa Aram.<sup id=\"cite_ref-5\" class=\"reference\">[5]<\/sup> Nama Yesus yang digunakan umat Kristen diturunkan dari nama Yunani <i>I\u0113sous<\/i>. Umat Kristen Arab menyebut Isa dengan <span lang=\"ar\">\u064a\u0633\u0648\u0639<\/span> <i>Yas\u016b\u2018<\/i> yang diturunkan dari <i>Yesyua\u2018<\/i> dengan perubahan fonetik.<sup id=\"cite_ref-LewisPellat1998_7-0\" class=\"reference\">[7]<\/sup><i>Yas\u016b\u2018<\/i> digunakan sejak sebelum masa Islam dan dan tetap digunakan pada masa-masa setelahnya.<sup id=\"cite_ref-9\" class=\"reference\">[9]<\/sup><\/p>\n<p>Asal-muasal nama Isa yang digunakan dalam Al-Qur&#8217;an masih belum sepenuhnya terpecahkan dan ada beberapa pendapat terkait hal ini.<\/p>\n<ul>\n<li>Turunan dari dialek Suryani Timur <i>Isyo\u2018<\/i>.<sup id=\"cite_ref-10\" class=\"reference\">[10]<\/sup><sup id=\"cite_ref-11\" class=\"reference\">[11]<\/sup><sup id=\"cite_ref-12\" class=\"reference\">[12]<\/sup><\/li>\n<li>Turunan dari nama <span dir=\"rtl\" lang=\"he\">\u05e2\u05b5\u05e9\u05b8\u05c2\u05d5<\/span> <i>\u2018Esau<\/i>.<sup id=\"cite_ref-EQ_13-0\" class=\"reference\">[13]<\/sup> Namun tidak ada bukti bahwa umat Yahudi pernah menyebut Isa dengan nama ini.<\/li>\n<li>Merupakan bentuk penyerasian agar selaras dengan nama Musa, sebagai bentuk gaya puisi Al-Qur&#8217;an.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span id=\"Kisah\" class=\"mw-headline\">Kisah<\/span><\/h2>\n<p>Al-Qur&#8217;an (kitab suci Islam) menyebut nama Isa sebanyak 25 kali.<sup id=\"cite_ref-15\" class=\"reference\">[a]<\/sup> Dia juga disebut ibnu Maryam sebanyak 23 kali<sup id=\"cite_ref-16\" class=\"reference\">[b]<\/sup> dan Al-Masih 11 kali.<sup id=\"cite_ref-17\" class=\"reference\">[c]<\/sup> Kisahnya disebutkan dalam Surah Ali &#8216;Imran (3): 49-55, Al-Ma&#8217;idah (5): 110-118, dan Maryam (19): 24-36. Dalam Alkitab (kitab suci Kristen), kisahnya disebutkan dalam Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.<\/p>\n<h3><span id=\"Latar_belakang\" class=\"mw-headline\">Latar belakang<\/span><\/h3>\n<p>Setelah Sulaiman mangkat, Kerajaan Israel terbagi menjadi dua: kerajaan di utara yang juga disebut Kerajaan Israel, tapi kerap disebut Kerajaan Utara atau Kerajaan Samaria untuk membedakan dengan Kerajaan Israel lama; dan Kerajaan Yehuda di selatan.<sup id=\"cite_ref-18\" class=\"reference\">[15]<\/sup> Kerajaan Samaria ditaklukkan Asyur pada 720-an SM.<sup id=\"cite_ref-19\" class=\"reference\">[16]<\/sup> Satu setengah abad kemudian, Kerajaan Yehuda ditaklukkan Babilonia Baru pada tahun 587 SM dan Bait Suci (Baitul Maqdis, Masjid Al-Aqsha) yang menjadi pusat ibadah Bani Israil turut dihancurkan. Banyak Bani Israil kemudian diasingkan ke Babilonia. Pada masa antara Sulaiman dan sebelum pengasingan Bani Israil ke Babilonia disebut periode Bait Suci pertama. Pada masa-masa selanjutnya, Bani Israil (sebutan untuk keturunan Ya&#8217;qub) juga kerap disebut dengan bangsa Yahudi, meski ada juga non-Bani Israil yang menjadi penganut ajaran Yahudi.<\/p>\n<div class=\"thumb tright\">\n<div class=\"thumbinner\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"thumbimage alignleft\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/isa_60497208c3693.jpeg?resize=220%2C310&#038;ssl=1\" alt=\"\" width=\"220\" height=\"310\" data-file-width=\"1826\" data-file-height=\"2573\" \/>\n<div class=\"thumbcaption\">Palestina pada zaman Isa (4 SM-30 M). Keterangan dalam bahasa Inggris.<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Setelah lima puluh tahun di pengasingan, Kekaisaran Persia Akhemeniyah memperkenakan Bani Israil kembali ke Palestina dan Bait Suci kembali dibangun, menandakan dimulainya periode Bait Suci kedua. Antara tahun 332-160 SM, kawasan Palestina dikuasai dinasti-dinasti dari Yunani. Mereka mendorong proses Helenisasi di wilayah bawahannya, menjadikan kebudayaan Yunani sangat dominan di Palestina dan kehidupan sosial-keagamaan Bani Israil. Proses Helenisasi ini memicu umat Yahudi melancarkan Pemberontakan Makabe dan umat Yahudi berhasil berkuasa secara mandiri di bawah kepemimpinan Dinasti Yahudi Hashmonayim. Saat meluaskan wilayahnya, Hashmonayim juga memaksa penduduk taklukan untuk memeluk agama Yahudi, meskipun penduduknya bukanlah Bani Israil. Bangsa Edom kemudian menjadi Yahudi.<sup id=\"cite_ref-20\" class=\"reference\">[17]<\/sup><sup id=\"cite_ref-21\" class=\"reference\">[18]<\/sup> Pada 37 SM, kekuasaan Hashmonayim atas Palestina berakhir, digantikan oleh Herodes yang Agung, raja bawahan Romawi. Herodes adalah keturunan bangsa Edom yang menjadi pemeluk Yahudi pada masa Hashmonayim.<sup id=\"cite_ref-:0_22-0\" class=\"reference\">[19]<\/sup><sup id=\"cite_ref-23\" class=\"reference\">[20]<\/sup><sup id=\"cite_ref-PersPers_24-0\" class=\"reference\">[21]<\/sup><sup id=\"cite_ref-25\" class=\"reference\">[22]<\/sup><sup id=\"cite_ref-Losch_26-0\" class=\"reference\">[23]<\/sup> Setelah Herodes Agung mangkat pada 4 SM, wilayah Palestina dibagi-bagi untuk tiga putranya: Herodes Arkhelaus, Herodes Antipas, dan Herodes Filipus II. Secara resmi, mereka tidak menyandang gelar raja sebagaimana ayah mereka.<sup id=\"cite_ref-Jeffers_27-0\" class=\"reference\">[24]<\/sup> Arkhelaus menyandang gelar etnark (semacam gubernur), sedangkan Antipas dan Filipus bergelar tetrark (semacam gubernur). Sebagaimana ayah mereka, ketiganya juga penguasa bawahan Kaisar Romawi.<\/p>\n<p>Isa dan Yahya hidup pada satu zaman. Mereka berdakwah di Palestina pada masa kekuasaan Kaisar Romawi kedua, Tiberius (berkuasa 14-37 M), saat Pontius Pilatus menjabat prefek (Wali negeri) Provinsi Iudaea (Palestina).<sup id=\"cite_ref-28\" class=\"reference\">[25]<\/sup> Isa tumbuh di Galilea (Palestina utara) dan kebanyakan dakwahnya dilakukan di sana. Bahasa yang digunakan di Galilea dan Palestina pada masa itu termasuk bahasa Aram Palestina Yahudi, Ibrani, dan Yunani Koine, dengan dominan bahasa Aram.<sup id=\"cite_ref-BarrLang_30-0\" class=\"reference\">[27]<\/sup><sup id=\"cite_ref-Porter110_31-0\" class=\"reference\">[28]<\/sup> Ada konsensus substansial bahwa Isa memberikan sebagian besar ajarannya dalam bahasa Aram dialek Galilea.<sup id=\"cite_ref-Allen_C._Myers_33-0\" class=\"reference\">[30]<\/sup><sup id=\"cite_ref-Encyclopedia_34-0\" class=\"reference\">[31]<\/sup><\/p>\n<h4><span id=\"Keagamaan\" class=\"mw-headline\">Keagamaan<\/span><\/h4>\n<p>Saat berada di pengasingan Babilonia dan tidak adanya Bait Suci sebagai pusat peribadahan, rumah-rumah umat Yahudi (<i>beit knesset<\/i> atau sinagoga) menjadi tempat pertemuan utama untuk beribadah dan <i>beth midrash<\/i> sebagai tempat pembelajaran Taurat dan tafsirnya. Meski Akhemeniyah kemudian memperbolehkan Bani Israil kembali ke Palestina dan membangun Bait Suci kembali, Bani Israil tidak diizinkan mendirikan kerajaan. Tanpa keberadaan raja, kedudukan imam atau pendeta Yahudi (\u05db\u05b9\u05bc\u05d4\u05b5\u05df, <i>kohen<\/i>) menjadi sangat dominan dan kewenangan Bait Suci dalam kehidupan masyarakat semakin kuat. Di waktu inilah muncul aliran Saduki sebagai wadah para imam yang menjadi kelompok elit dalam masyarakat. Para imam Saduki memegang berbagai urusan kenegaraan, seperti mengurus urusan dalam negeri, mengumpulkan pajak, memimpin pasukan, dan mengelola hubungan dengan negara lain atau negara penguasa, seperti Romawi.<\/p>\n<p>Meski imam memegang kendali ritual di Bait Suci, ahli dan guru Taurat (kelak disebut rabi) yang mendominasi pengajaran Taurat. Kelompok Farisi muncul dari kalangan para guru dan ahli Taurat.<sup id=\"cite_ref-Shaye_36-0\" class=\"reference\">[33]<\/sup><span class=\"reference plainlinksneverexpand\"><sup>:159<\/sup><\/span> Mereka populer di kalangan rakyat biasa, berbeda dengan Saduki yang diasosiasikan dengan kelas elit.<sup id=\"cite_ref-37\" class=\"reference\">[34]<\/sup> Farisi sangat dikenal mendetail dalam hukum Taurat, menerapkan hukum Yahudi pada kegiatan-kegiatan duniawi untuk menguduskan dunia setiap hari.<\/p>\n<h3><span id=\"Kelahiran\" class=\"mw-headline\">Kelahiran<\/span><\/h3>\n<p>Al-Qur&#8217;an menjelaskan bahwa Maryam mengandung Isa secara mukjizat, yakni dalam keadaan perawan dan tanpa campur tangan laki-laki. Al-Qur&#8217;an dan keterangan para ulama menyebutkan bahwa Maryam keluar dari Baitul Maqdis ketika haid atau ada keperluan. Saat Maryam mengasingkan diri dari keluarganya ke sebelah timur, seorang laki-laki mendatanginya. Maryam yang sangat menjaga diri dari lelaki asing kemudian mengatakan, &#8220;Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa.&#8221; Laki-laki yang ternyata adalah jelmaan Malaikat Jibril tersebut mengabarkan bahwa Maryam akan memiliki seorang putra. Maryam terheran-heran lantaran dia belum bersuami, juga menyatakan bahwa dirinya bukan pezina. Malaikat Jibril menyebutkan bahwa hal itu mudah bagi Allah dan sudah menjadi ketetapan-Nya.<sup id=\"cite_ref-38\" class=\"reference\">[35]<\/sup><\/p>\n<p>Alkitab menyebutkan bahwa Malaikat Jibril menyampaikan kabar tersebut saat Maryam ada di Nazaret. Disebutkan pula bahwa Maryam sudah berstatus sebagai tunangan seorang lelaki Bani Israil keturunan Dawud bernama Yusuf, tapi mereka belum hidup sebagai suami istri. Saat itu kerabat Maryam, Elisyeba, sedang mengandung Yahya dan usia kandungannya sudah sekitar enam bulan.<sup id=\"cite_ref-40\" class=\"reference\">[37]<\/sup> Maryam melahirkan putranya, Isa, di Betlehem saat masa kekuasaan Kaisar Romawi Augustus.<sup id=\"cite_ref-41\" class=\"reference\">[38]<\/sup> dan Palestina dipimpin Raja Herodes Agung.<sup id=\"cite_ref-42\" class=\"reference\">[39]<\/sup> Para sarjana berpendapat bahwa Isa lahir antara tahun 6 sampai 4 SM.<sup id=\"cite_ref-JDG324_43-0\" class=\"reference\">[40]<\/sup><\/p>\n<p>Al-Qur&#8217;an menjelaskan bahwa saat merasa sakit karena melahirkan, Maryam bersandar pada pohon kurma dan berujar, &#8220;Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.&#8221; Kemudian ada yang menyeru Maryam dari tempat yang rendah, mengatakan agar dia tidak bersedih dan Allah telah menjadikan anak sungai mengalir di bawahnya. Maryam juga diminta menggoyang-goyangkan pangkal pohon kurma supaya buah kurma akan jatuh pada Maryam. Maryam juga diperintahkan untuk tidak berbicara pada siapapun pada hari ini.<sup id=\"cite_ref-44\" class=\"reference\">[41]<\/sup> Terkait sosok yang menyeru Maryam, sebagian penafsir menyebutkan bahwa dia adalah Jibril, sedangkan tafsiran lain menyebutkan bahwa dia adalah Isa.<\/p>\n<p>Dalam riwayat hadits disebutkan bahwa setiap bayi yang dilahirkan pasti akan menangis karena disentuh setan, kecuali Maryam dan putranya.<sup id=\"cite_ref-46\" class=\"reference\">[43]<\/sup><sup id=\"cite_ref-47\" class=\"reference\">[44]<\/sup><sup id=\"cite_ref-48\" class=\"reference\">[45]<\/sup><sup id=\"cite_ref-50\" class=\"reference\">[47]<\/sup><\/p>\n<p>Diterangkan dalam Al-Qur&#8217;an bahwa saat Maryam kembali dengan menggendong Isa, kaumnya mencelanya, menyatakan bahwa dia telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar. Mereka juga menyatakan, &#8220;Hai saudari Harun! Ayahmu bukanlah seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang pezina!&#8221; Namun Maryam tidak menjawab cercaan mereka dan memberi isyarat pada bayinya. Kaumnya terheran-heran karena diminta bicara dengan seorang bayi. Namun Isa yang masih bayi berbicara pada mereka, menjelaskan bahwa dirinya adalah hamba Allah yang diangkat sebagai nabi, dianugerahi kitab, dan diberkahi oleh Allah.<sup id=\"cite_ref-51\" class=\"reference\">[48]<\/sup> Alkitab tidak menyebutkan mukjizat Isa yang bisa berbicara saat masih bayi.<\/p>\n<h3><span id=\"Hijrah\" class=\"mw-headline\">Hijrah<\/span><\/h3>\n<p>Alkitab menyebutkan bahwa demi menghindari kelahiran seorang mesias, Raja Herodes Agung menitahkan agar membunuh semua bayi laki-laki di Betlehem yang berumur dua tahun ke bawah. Isa, Maryam, dan Yusuf sendiri hijrah ke Mesir dan tinggal di sana.<sup id=\"cite_ref-52\" class=\"reference\">[49]<\/sup> Peristiwa hijrahnya Isa dan Maryam ke Mesir tidak tercantum dalam Al-Qur&#8217;an, tetapi ayat yang menyatakan bahwa Allah melindungi Maryam dan putranya &#8220;di sebuah dataran tinggi dengan mata air yang mengalir&#8221;<sup id=\"cite_ref-53\" class=\"reference\">[50]<\/sup> ditafsirkan sebagai isyarat akan hal tersebut.<sup id=\"cite_ref-55\" class=\"reference\">[52]<\/sup><\/p>\n<p>Tradisi Kristen Ortodoks menyebutkan bahwa Zakariyya dibunuh saat pembantaian anak-anak di Betlehem karena menyembunyikan keberadaan putranya, Yahya, yang lahir sekitar enam bulan sebelum Isa. Namun sebagian besar penulis biografi modern dari Herodes Agung menampik kisah pembantaian itu sebagai kenyataan sejarah dan memandangnya sebagai kisah buatan.<\/p>\n<p>Alkitab menyebutkan bahwa Isa, Maryam, dan Yusuf kembali lagi ke Palestina setelah Herodes Agung mangkat. Namun mereka tidak kembali ke Betlehem karena kawasan tersebut sekarang masuk dalam wilayah kekuasaan Herodes Arkhelaus. Akhirnya mereka tinggal di kawasan Galilea (Palestina utara) di kota Nazaret.<sup id=\"cite_ref-57\" class=\"reference\">[54]<\/sup> Galilea masuk dalam wilayah kekuasaan Herodes Antipas. Herodes Agung diperkirakan mangkat pada 4 SM.<sup id=\"cite_ref-58\" class=\"reference\">[55]<\/sup><\/p>\n<h3><span id=\"Kehidupan\" class=\"mw-headline\">Kehidupan<\/span><\/h3>\n<p>Berbagai riwayat ulama menerangkan kehidupan Isa yang sangat sederhana. Disebutkan bahwa Isa merupakan pemimpin orang-orang zuhud di hari kiamat. Riwayat lain menjelaskan bahwa Isa mengenakan pakaian bulu, memakan dedaunan, tidak memiliki rumah, keluarga, harta benda, dan tidak menyimpan sesuatu untuk hari besok. Ada juga yang menyatakan bahwa Isa makan dari hasil ibunya sebagai tukang tenun. Kisah lain menerangkan bahwa saat Isa merasakan kenikmatan saat tidur dengan berbantalkan batu, Iblis menghampirinya dan berkata, &#8220;Wahai Isa, bukankah engkau pernah bilang bahwa engkau tidak menginginkan kenikmatan dunia? Bukankah batu itu bagian dari kenikmatan dunia?&#8221; Isa kemudian bangun dan melemparkan batu itu pada Iblis.<\/p>\n<p>Diterangkan bahwa suatu hari, Isa membawa emas dan pasir di masing-masing tangannya. Dia bertanya pada orang-orang mengenai benda yang lebih menyenangkan hati dan mereka menjawab emas. Isa kemudian membalas, &#8220;Bagiku, keduanya adalah sama.&#8221;<\/p>\n<h3><span id=\"Yahya\" class=\"mw-headline\">Yahya<\/span><\/h3>\n<div class=\"thumb tright\">\n<div class=\"thumbinner\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"thumbimage alignleft\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/isa_6049720937d84.jpeg?resize=250%2C104&#038;ssl=1\" alt=\"\" width=\"250\" height=\"104\" data-file-width=\"1789\" data-file-height=\"745\" \/><\/div>\n<\/div>\n<p>Isa dan Yahya hidup pada satu zaman. Alkitab menyebutkan bahwa saat Elisyeba mengandung Yahya dan kehamilannya memasuki usia enam bulan, Maryam mulai mengandung Isa.<sup id=\"cite_ref-62\" class=\"reference\">[59]<\/sup> Dalam Al-Qur&#8217;an, Yahya disebutkan membenarkan kalimat atau firman dari Allah.<sup id=\"cite_ref-63\" class=\"reference\">[60]<\/sup> Ayat selanjutnya menyebutkan bahwa yang dimaksud kalimat dari Allah adalah sosok Isa bin Maryam.<sup id=\"cite_ref-64\" class=\"reference\">[61]<\/sup><\/p>\n<p>Dalam Kristen, sosok Yahya utamanya memiliki peran khusus sebagai pendahulu kedatangan Isa yang dipandang sebagai mesias yang sudah dinubuatkan.<sup id=\"cite_ref-ActJMark_65-0\" class=\"reference\">[62]<\/sup><sup id=\"cite_ref-marginal_66-0\" class=\"reference\">[63]<\/sup> Alkitab menyebutkan bahwa Yahya membaptis Isa di Sungai Yordan.<sup id=\"cite_ref-67\" class=\"reference\">[64]<\/sup><\/p>\n<h3><span id=\"Dakwah\" class=\"mw-headline\">Dakwah<\/span><\/h3>\n<p>Isa diutus untuk berdakwah pada Bani Israil.<sup id=\"cite_ref-Isa2_68-0\" class=\"reference\">[65]<\/sup> Selain penyembahan pada Allah, seruan Isa yang paling sering disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an adalah bahwa dia datang untuk membenarkan kitab Taurat.<sup id=\"cite_ref-69\" class=\"reference\">[66]<\/sup><sup id=\"cite_ref-70\" class=\"reference\">[67]<\/sup><sup id=\"cite_ref-71\" class=\"reference\">[68]<\/sup> Al-Qur&#8217;an juga menjelaskan bahwa Isa &#8220;menghalalkan bagi kamu sebagian dari yang telah diharamkan untukmu.&#8221; Terkait ayat ini, sebagian ulama menafsirkan bahwa ajaran Isa tidak memperbarui Taurat sama sekali, tetapi hanya menjelaskan perkara yang disalahpahami dan diperselisihkan Bani Israil. Ulama lain berpendapat bahwa memang ajaran Isa mengubah dan memperbarui sebagian syariat Taurat. Meski demikian, Taurat tetap menjadi dasar utama dari ajaran Isa dan Injil berperan sebagai pelengkap dan penyempurna.<sup id=\"cite_ref-Tafsir1_72-0\" class=\"reference\">[69]<\/sup><sup id=\"cite_ref-73\" class=\"reference\">[70]<\/sup> Alkitab menjelaskan bahwa Isa tidak datang untuk menghapus syariat Taurat, tapi menggenapinya.<sup id=\"cite_ref-74\" class=\"reference\">[71]<\/sup><\/p>\n<h4><span id=\"Mukjizat\" class=\"mw-headline\">Mukjizat<\/span><\/h4>\n<p>Dalam menjelaskan seruan Isa, Al-Qur&#8217;an biasanya juga menyebutkan mukjizat-mukjizat Isa. Ada enam mukjizat Isa yang disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an dan sebagian besarnya disebutkan sekilas tanpa penjelasan terperinci. Berbagai literatur Muslim menuliskan dan merincikan mukjizat-mukjizat Isa dengan mengambil sumber di luar Al-Qur&#8217;an, seperti Alkitab, sumber non-kanon, dan cerita rakyat.<sup id=\"cite_ref-Leirvik_2010,_p._59-60_75-0\" class=\"reference\">[72]<\/sup><sup id=\"cite_ref-Ayoub_1992,_p._145_76-0\" class=\"reference\">[73]<\/sup><\/p>\n<p>Para ulama menyatakan bahwa Allah membekali nabi dengan mukjizat yang sesuai dengan keadaan zamannya. Pada masa Isa, sedang terkenal ilmu kesehatan dan biologi. Maka Isa dibekali mukjizat yang berkaitan dengan penyembuhan dan mengungguli ilmu kesehatan manusia pada masa itu, seperti menyembuhkan kebutaan dan membangkitkan orang mati.<sup id=\"cite_ref-Tafsir1_72-1\" class=\"reference\">[69]<\/sup><\/p>\n<p><b>Bicara saat bayi<\/b><\/p>\n<p>Al-Qur&#8217;an menyebutkan bahwa Isa dapat berbicara saat masih bayi.<sup id=\"cite_ref-Isa1_78-0\" class=\"reference\">[75]<\/sup> Dia berbicara saat Maryam dituduh berzina, menjelaskan bahwa dirinya adalah hamba Allah yang diangkat sebagai nabi, dianugerahi kitab, dan diberkahi oleh Allah.<sup id=\"cite_ref-79\" class=\"reference\">[76]<\/sup><\/p>\n<p><b>Burung dari tanah<\/b><\/p>\n<p>Al-Qur&#8217;an juga menyebutkan bahwa Isa membuat burung dari tanah liat, kemudian meniupnya, sehingga menjadi burung yang hidup.<sup id=\"cite_ref-Isa2_68-1\" class=\"reference\">[65]<\/sup><sup id=\"cite_ref-Isa1_78-1\" class=\"reference\">[75]<\/sup>Injil Kanak-Kanak Tomas menyebutkan bahwa Isa melakukan mukjizat itu saat masih kanak-kanak.<\/p>\n<p><b>Penyembuhan<\/b><\/p>\n<p>Mukjizat lain yang disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an adalah menyembuhkan <i>al-akmah<\/i> dan kusta.<sup id=\"cite_ref-Isa2_68-2\" class=\"reference\">[65]<\/sup><sup id=\"cite_ref-Isa1_78-2\" class=\"reference\">[75]<\/sup> Terkait makna <i>al-akmah<\/i>, sebagian ulama menafsirkan bahwa maknanya adalah orang yang dapat melihat di siang hari, tapi tidak bisa saat malam hari. Pendapat lain menyatakan sebaliknya. Ulama lain berpendapat bahwa maknanya adalah orang yang rabun. Pendapat lain menyebutkan bahwa makna <i>al-akmah<\/i> adalah orang yang buta sejak lahir.<sup id=\"cite_ref-Tafsir1_72-2\" class=\"reference\">[69]<\/sup> Alkitab mengisahkan bahwa Isa menyembuhkan dua orang buta yang mengikutinya. Namun meski Isa memperingatkan untuk jangan mengatakan kepada orang lain terkait masalah ini, dua orang itu justru menyebarkan kabar mukjizat Isa pada khalayak.<sup id=\"cite_ref-80\" class=\"reference\">[77]<\/sup><\/p>\n<p>Alkitab menerangkan bahwa Isa juga menyembuhkan orang yang lumpuh,<sup id=\"cite_ref-81\" class=\"reference\">[78]<\/sup> bisu,<sup id=\"cite_ref-82\" class=\"reference\">[79]<\/sup> tuli,<sup id=\"cite_ref-83\" class=\"reference\">[80]<\/sup> dan lainnya. Tidak hanya penyakit fisik, Isa juga disebutkan mengusir setan yang merasuki manusia.<sup id=\"cite_ref-84\" class=\"reference\">[81]<\/sup><sup id=\"cite_ref-85\" class=\"reference\">[82]<\/sup><\/p>\n<p><b>Menghidupkan<\/b><\/p>\n<p>Isa juga dapat menghidupkan kembali orang yang mati.<sup id=\"cite_ref-Isa2_68-3\" class=\"reference\">[65]<\/sup><sup id=\"cite_ref-Isa1_78-3\" class=\"reference\">[75]<\/sup> Dalam sebuah riwayat sahabat Nabi disebutkan bahwa Isa pernah membangkitkan Ham bin Nuh. Isa dan Ham kemudian bertanya jawab soal bahtera Nuh.<sup id=\"cite_ref-86\" class=\"reference\">[83]<\/sup> Alkitab menjelaskan bahwa Isa menghidupkan seorang lelaki bernama Lazarus yang telah mati empat hari. Kejadian itu disaksikan keluarga Lazarus dan orang-orang yang datang melayat.<sup id=\"cite_ref-87\" class=\"reference\">[84]<\/sup><\/p>\n<p><b>Mengetahui hal tersembunyi<\/b><\/p>\n<p>Isa juga mampu mengetahui makanan yang telah disantap orang atau yang disimpan di rumah.<sup id=\"cite_ref-Isa2_68-4\" class=\"reference\">[65]<\/sup> Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa mukjizat ini terjadi saat Isa masih kanak-kanak. Isa memberi tahu anak-anak sebayanya bahwa orang tua mereka memiliki makanan yang disembunyikan dan anak-anak itu kemudian meminta makanan tersebut pada orang tua mereka. Orang tua mereka menjadi tidak suka dengan Isa dan menganggapnya telah merusak anak mereka. Saat hendak menemui teman-teman bermainnya, Isa tidak menemui mereka karena orang tua mereka mengunci mereka di suatu rumah. Saat Isa mendengar suara gaduh dari rumah tersebut, orang tua mereka mengatakan kalau itu suara kera dan babi. Akhirnya anak-anak tersebut benar-benar berubah menjadi kera dan babi.<\/p>\n<p><b>Hidangan<\/b><\/p>\n<p>Al-Qur&#8217;an menjelaskan bahwa para pengikut Isa meminta hidangan dari langit. Isa kemudian berdoa agar Allah menurunkan hidangan dari langit dan hari turunnya akan menjadi hari raya bagi mereka.<sup id=\"cite_ref-Isa3_89-0\" class=\"reference\">[86]<\/sup> Beberapa ulama menafsirkan bahwa hidangan tersebut turun dari langit secara harfiah dan ditutupi dua awan. Pengikut Isa tidak mau makan sebelum Isa makan, tetapi Isa menyatakan bahwa pengikutnyalah yang harus memakannya karena mereka yang meminta. Setelahnya, Isa mengundang orang-orang miskin, papa, dan sakit untuk makan bersama hidangan tersebut. Mereka yang menderita penyakit menjadi sembuh setelah menyantapnya.<\/p>\n<p>Namun ada ulama yang berpendapat bahwa hidangan tersebut tidak jadi diturunkan. Al-Qur&#8217;an menerangkan bahwa setelah murid-murid Isa meminta hidangan dari langit, Isa berdoa memohon kepada Allah. Allah berfirman bahwa hidangan tersebut akan diturunkan, tetapi mereka yang tetap kafir setelah turunnya hidangan tersebut akan ditimpakan azab yang tidak pernah ditimpakan pada umat lain. Setelahnya, tidak ada lagi keterangan mengenai hidangan tersebut. Menurut pendapat ini, setelah mendapat peringatan dari Allah, para murid Isa tidak jadi meminta hidangan tersebut karena takut mendapat azab jika mereka mengingkarinya.<sup id=\"cite_ref-91\" class=\"reference\">[88]<\/sup><\/p>\n<p>Alkitab tidak menerangkan mengenai hidangan yang turun dari langit, tetapi disebutkan bahwa Isa memberkahi makanan yang jumlahnya sedikit hingga dapat disantap banyak orang. Disebutkan bahwa setelah mendengar Yahya dibunuh, Isa pergi mengasingkan diri. Namun banyak orang kemudian mengikutinya. Saat sudah mulai malam, Isa mengambil lima roti dan dua ikan, kemudian memecah-mecah dan membagikannya pada orang-orang. Disebutkan bahwa lima ribu laki-laki menyantap makanan tersebut sampai kenyang.<sup id=\"cite_ref-92\" class=\"reference\">[89]<\/sup><sup id=\"cite_ref-93\" class=\"reference\">[90]<\/sup><sup id=\"cite_ref-94\" class=\"reference\">[91] <br \/><\/sup><\/p>\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Seri 2: Apakah Isa yang dimaksud dalam Quran adalah Yesus? Untuk Seri 1, silahkan dibaca di https:\/\/diakonia.id\/artikel\/seri-1-apakah-isa-yang-dimaksud-dalam-quran-adalah-yesus\/ Nama Ada beberapa pendapat mengenai nama asli Isa. Sebagian menyatakan bahwa nama Ibrani \u05d9\u05e9\u05e2 Yesyua\u2018 atau Y&#8217;syua\u2018 merupakan nama asli Isa. Nama ini disebut merupakan kependekan dari \u05d9\u05d4\u05d5\u05e9\u05e2 Yehosyua\u2018.[2]Klemens dari Aleksandria dan Sirilus dari Yerusalem berpendapat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32899,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[134],"tags":[],"class_list":["post-1858","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika"],"better_featured_image":{"id":32899,"alt_text":"","caption":"","description":"d6cfde290f542b50eed0aa3d27ee1d84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/siapa-yang-telah-membunuh-yesus-apakah-allah_5df7362e8879a.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/siapa-yang-telah-membunuh-yesus-apakah-allah_5df7362e8879a.jpeg?fit=768%2C571&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/siapa-yang-telah-membunuh-yesus-apakah-allah_5df7362e8879a.jpeg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/siapa-yang-telah-membunuh-yesus-apakah-allah_5df7362e8879a.jpeg?fit=864%2C642&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1745","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1858","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1858"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1858\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32899"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1858"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1858"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1858"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}