{"id":1909,"date":"2021-03-11T12:38:16","date_gmt":"2021-03-11T05:38:16","guid":{"rendered":"https:\/\/hkbp.diakonia.id\/?p=1909"},"modified":"2021-03-11T12:38:22","modified_gmt":"2021-03-11T05:38:22","slug":"kisah-biarawati-myanmar-berlutut-pada-polisi-bersenjata-jangan-tembak-anak-anak-tapi-tembak-saya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kisah-biarawati-myanmar-berlutut-pada-polisi-bersenjata-jangan-tembak-anak-anak-tapi-tembak-saya\/","title":{"rendered":"Kisah Biarawati Myanmar Berlutut pada Polisi Bersenjata: Jangan Tembak Anak-anak, tapi Tembak Saya"},"content":{"rendered":"\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Seorang Biarawati dari Myanmar, Suster Ann Rose Nu Tawng tampak memohon kepada sekelompok petugas polisi bersenjata lengkap untuk tidak melepaskan peluru kepada anak-anak. Dirinya berlutut, mengenakan pakaian putih, tangannya terentang, memohon kepada kekuatan junta baru negara itu saat mereka bersiap untuk menindak protes massa. Hal tersebut pun telah menjadikannya viral, bahkan tindakannya banyak dipuji oleh masyarakat. Bahkan dirinya bersedia untuk ditembak, asalkan sasaran polisi bukan anak-anak. &quot;Saya berlutut ... memohon kepada mereka agar tidak menembak dan menyiksa anak-anak, tetapi malah menembak dan membunuh saya,&quot; katanya dikutip dari CNA, Rabu (10\/3\/2021). Protes yang menuntut kembalinya demokrasi di Myanmar terus bergulir. Dan junta terus meningkatkan penggunaan kekuatannya, menggunakan gas air mata, meriam air, peluru karet, dan peluru tajam, untuk menghadapi massa pendemo. Para pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan di Myitkyina, ibu kota negara bagian Kachin, pada hari Senin mengenakan topi pengaman dan membawa perisai buatan sendiri. Saat polisi mulai berkumpul di sekitar mereka, Suster Ann Rose Nu Tawng dan dua biarawati lainnya memohon agar mereka pergi. &quot;Polisi mengejar untuk menangkap mereka dan saya mengkhawatirkan anak-anak,&quot; katanya. \u00a0Pada saat itulah biarawati berusia 45 tahun itu berlutut. Tawng, yang menjalankan sebuah klinik di kota itu, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Reuters bahwa dia telah menerima jaminan dari petugas senior bahwa mereka baru saja membersihkan jalan. &quot;Anak-anak panik dan lari ke depan ... Saya tidak bisa berbuat apa-apa tapi saya berdoa agar Tuhan menyelamatkan dan membantu anak-anak,&quot; katanya. Dia juga mengatakan kepada Reuters bahwa mereka mendengar suara tembakan keras, dan melihat bahwa seorang anak kecil menjadi korba, bahkan bak ada sungai darah di jalan. Tawng mengatakan dia mencoba membawa beberapa korban ke klinik sebelum dia dibutakan oleh gas air mata. &quot;Lantai klinik kami menjadi lautan darah,&quot; katanya. &quot;Kita perlu menghargai hidup. Itu membuatku merasa sangat sedih.&quot; Gadis 19 Tahun Tewas Ditembak Polisi Seorang gadis yang karib disapa Angel, mendadak menjadi santer terdengar di media lantaran telah menjadi korban dalam demo kudeta Myanmar. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Angel meninggal dunia setelah tertembak di bagian kepala oleh polisi. Dikutip dari Los Angeles Times, pada hari Rabu (3\/3\/2021), foto remaja berusia 19 tahun itu tersebar di media sosial. Foto-foto Angel pada saat-saat terakhir dalam hidupnya terekam kamera. Protes kudeta Myanmar tersebut terjadi tepatnya di Mandalay, Myanmar. Saat mengikuti demo tersebut, gadis remaja bernama asli Ma Kyal Sin mengenakan T-shirt hitam bertuliskan &quot;Semuanya akan baik-baik saja&quot;. Teriakan Terakhir Saat aksi demo, Angel sempat berteriak: &quot;Kami tidak akan lari!&quot; Segera setelah itu, dia terbunuh oleh peluru di kepala. Sementara dikutip dari The Times, para saksi melihat Angel menendang dan membuka pipa air sehingga pengunjuk rasa dapat mencuci wajahnya dari gas air. Tanpa rasa takut, ia melemparkan tabung gas air mata kembali ke polisi. \u201cFrontliners, duduklah. Kalian tidak boleh mati! \u201d Angel berteriak. Beberapa saat kemudian, dia terbunuh oleh tembakan. Tidak diketahui apakah dia sengaja menjadi sasaran. Myat Thu (23), seorang demosntran yang bersama Angel saat protes, mengenang wanita muda pemberani tersebut. \u201cKetika polisi melepaskan tembakan, dia mengatakan kepada saya &#039;Duduk! Duduk! Peluru akan menghantammu. Anda terlihat seperti berada di atas panggung&#039;,&quot; kenang Myat Thu. &quot;Dia merawat dan melindungi orang lain sebagai seorang kawan,&quot; imbuhnya. Hingga akhirnya, Myat Thu mengetahui Angel telah tewas tertembak. Kyal Sin, juga dikenal dengan nama China-nya, Deng Jia Xi, telah muncul sebagai martir awal dan simbol perlawanan terhadap junta militer yang bermaksud menggunakan kekerasan. Ia tumbuh untuk menekan gerakan protes, yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Sosok Kyal Sin pun juga diunggah di instagram oleh seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) asal Australia, Drew Pavlou. Drew Pavlou sendiri dikenal lantaran kritiknya terhadap Pemerintah China dan Partai Komunis China. Sosok sang &#039;Angel&#039; Kyal Sin Dikutip dari BBC, Myat Thu mengenal Angel di kelas taekwondo. Dia adalah seorang ahli seni bela diri serta penari di DA-Star Dance Club Mandalay. \u201cDia adalah gadis yang bahagia, dia mencintai keluarganya dan ayahnya juga sangat mencintainya,\u201d kata Myat Thu, yang sekarang bersembunyi. Sosok Angel pun terkenal pemberani, lantaran dirinya tetap berada dalam aksi tersebut walaupun mengetahui sangat berbahaya. Sadar akan bahaya yaang dihadapi, Angel sempat menulis rincian golongan darahnya di Facebook. Ia meminta agar organnya disumbangkan jika dia meninggal. Seolah tidak terpengaruh oleh kematian Kyal Sin, para pengunjuk rasa tetap beraksi ke jalan-jalan Yangon dan Mandalay, dua kota terbesar di negara itu, serta kota-kota lain. Bahkan, polisi melepaskan tembakan dan menggunakan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa di Yangon dan kota Monywa. Penduduk mengatakan bahwa lima jet tempur melakukan lintasan rendah dalam formasi di atas Mandalay pada Kamis pagi, yang tampaknya menunjukkan kekuatan militer. Lebih dari 1.700 orang, termasuk anggota parlemen dan pengunjuk rasa, telah ditahan sejak kudeta. Penangkapan telah meningkat, yang mana 29 jurnalis ditahan dalam beberapa hari terakhir. (indovoices.com)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Female\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Diakonia.id &#8211; <\/strong>Seorang Biarawati dari Myanmar, Suster Ann Rose Nu Tawng tampak memohon kepada sekelompok petugas polisi bersenjata lengkap untuk tidak melepaskan peluru kepada anak-anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dirinya berlutut, mengenakan pakaian putih, tangannya terentang, memohon kepada kekuatan junta baru negara itu saat mereka bersiap untuk menindak protes massa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal tersebut pun telah menjadikannya viral, bahkan tindakannya banyak dipuji oleh masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahkan dirinya bersedia untuk ditembak, asalkan sasaran polisi bukan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Saya berlutut &#8230; memohon kepada mereka agar tidak menembak dan menyiksa anak-anak, tetapi malah menembak dan membunuh saya,&#8221; katanya dikutip dari <em>CNA<\/em>, Rabu (10\/3\/2021).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Protes yang menuntut kembalinya demokrasi di Myanmar terus bergulir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan junta terus meningkatkan penggunaan kekuatannya, menggunakan gas air mata, meriam air, peluru karet, dan peluru tajam, untuk menghadapi massa pendemo.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan di Myitkyina, ibu kota negara bagian Kachin, pada hari Senin mengenakan topi pengaman dan membawa perisai buatan sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat polisi mulai berkumpul di sekitar mereka, Suster Ann Rose Nu Tawng dan dua biarawati lainnya memohon agar mereka pergi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Polisi mengejar untuk menangkap mereka dan saya mengkhawatirkan anak-anak,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;Pada saat itulah biarawati berusia 45 tahun itu berlutut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tawng, yang menjalankan sebuah klinik di kota itu, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Reuters bahwa dia telah menerima jaminan dari petugas senior bahwa mereka baru saja membersihkan jalan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Anak-anak panik dan lari ke depan &#8230; Saya tidak bisa berbuat apa-apa tapi saya berdoa agar Tuhan menyelamatkan dan membantu anak-anak,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia juga mengatakan kepada Reuters bahwa mereka mendengar suara tembakan keras, dan melihat bahwa seorang anak kecil menjadi korba, bahkan bak ada sungai darah di jalan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tawng mengatakan dia mencoba membawa beberapa korban ke klinik sebelum dia dibutakan oleh gas air mata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Lantai klinik kami menjadi lautan darah,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Kita perlu menghargai hidup. Itu membuatku merasa sangat sedih.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Gadis 19 Tahun Tewas Ditembak Polisi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/img-s-msn-com.akamaized.net\/tenant\/amp\/entityid\/BB1edK71.img?h=351&amp;w=624&amp;m=6&amp;q=60&amp;o=f&amp;l=f&amp;x=414&amp;y=62\" alt=\"Kisah Perjuangan Kyal Sin - Seorang gadis 19 tahun tewas dalam sebuah aksi damai menentang kudeta Myanmar. Gadis itu bernama Angel, dikenal juga dengan nama Kyal Sin. (net\/kolase\/Twitter)\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seorang gadis yang karib disapa Angel, mendadak menjadi santer terdengar di media lantaran telah menjadi korban dalam demo kudeta Myanmar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Angel meninggal dunia setelah tertembak di bagian kepala oleh polisi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dikutip dari<em> Los Angeles Times<\/em>, pada hari Rabu (3\/3\/2021), foto remaja berusia 19 tahun itu tersebar di media sosial.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Foto-foto Angel pada saat-saat terakhir dalam hidupnya terekam kamera.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Protes kudeta Myanmar tersebut terjadi tepatnya di Mandalay, Myanmar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat mengikuti demo tersebut, gadis remaja bernama asli Ma Kyal Sin mengenakan T-shirt hitam bertuliskan &#8220;<em>Semuanya akan baik-baik saja<\/em>&#8220;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Teriakan Terakhir<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/img-s-msn-com.akamaized.net\/tenant\/amp\/entityid\/BB1eiIwr.img?h=351&amp;w=624&amp;m=6&amp;q=60&amp;o=f&amp;l=f&amp;x=221&amp;y=123\" alt=\"Sosok Kyal Sin atau yang karib disapa Angel, saat mengikuti demo kudeta Myanmar (kiri), saat tertembak peluru hingga akhrinya dinyatakan meninggal dunia (kanan). (Tangkap Layar Instagram @drewpavlou)\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat aksi demo, Angel sempat berteriak: &#8220;Kami tidak akan lari!&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Segera setelah itu, dia terbunuh oleh peluru di kepala.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara dikutip dari <em>The Times<\/em>, para saksi melihat Angel menendang dan membuka pipa air sehingga pengunjuk rasa dapat mencuci wajahnya dari gas air.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanpa rasa takut, ia melemparkan tabung gas air mata kembali ke polisi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201c<em>Frontliners<\/em>, duduklah. Kalian tidak boleh mati! \u201d Angel berteriak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa saat kemudian, dia terbunuh oleh tembakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak diketahui apakah dia sengaja menjadi sasaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Myat Thu (23), seorang demosntran yang bersama Angel saat protes, mengenang wanita muda pemberani tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKetika polisi melepaskan tembakan, dia mengatakan kepada saya &#8216;Duduk! Duduk! Peluru akan menghantammu. Anda terlihat seperti berada di atas panggung&#8217;,&#8221; kenang Myat Thu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Dia merawat dan melindungi orang lain sebagai seorang kawan,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hingga akhirnya, Myat Thu mengetahui Angel telah tewas tertembak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kyal Sin, juga dikenal dengan nama China-nya, Deng Jia Xi, telah muncul sebagai martir awal dan simbol perlawanan terhadap junta militer yang bermaksud menggunakan kekerasan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia tumbuh untuk menekan gerakan protes, yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/img-s-msn-com.akamaized.net\/tenant\/amp\/entityid\/BB1edK71.img?h=351&amp;w=624&amp;m=6&amp;q=60&amp;o=f&amp;l=f&amp;x=414&amp;y=62\" alt=\"Kisah Perjuangan Kyal Sin - Seorang gadis 19 tahun tewas dalam sebuah aksi damai menentang kudeta Myanmar. Gadis itu bernama Angel, dikenal juga dengan nama Kyal Sin. (net\/kolase\/Twitter)\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sosok Kyal Sin pun juga diunggah di instagram oleh seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) asal Australia, Drew Pavlou.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Drew Pavlou sendiri dikenal lantaran kritiknya terhadap Pemerintah China dan Partai Komunis China.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Sosok sang &#8216;Angel&#8217; Kyal Sin<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dikutip dari <em>BBC<\/em>, Myat Thu mengenal Angel di kelas taekwondo.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia adalah seorang ahli seni bela diri serta penari di DA-Star Dance Club Mandalay.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDia adalah gadis yang bahagia, dia mencintai keluarganya dan ayahnya juga sangat mencintainya,\u201d kata Myat Thu, yang sekarang bersembunyi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sosok Angel pun terkenal pemberani, lantaran dirinya tetap berada dalam aksi tersebut walaupun mengetahui sangat berbahaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sadar akan bahaya yaang dihadapi, Angel sempat menulis rincian golongan darahnya di Facebook.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia meminta agar organnya disumbangkan jika dia meninggal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seolah tidak terpengaruh oleh kematian Kyal Sin, para pengunjuk rasa tetap beraksi ke jalan-jalan Yangon dan Mandalay, dua kota terbesar di negara itu, serta kota-kota lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahkan, polisi melepaskan tembakan dan menggunakan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa di Yangon dan kota Monywa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penduduk mengatakan bahwa lima jet tempur melakukan lintasan rendah dalam formasi di atas Mandalay pada Kamis pagi, yang tampaknya menunjukkan kekuatan militer.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih dari 1.700 orang, termasuk anggota parlemen dan pengunjuk rasa, telah ditahan sejak kudeta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penangkapan telah meningkat, yang mana 29 jurnalis ditahan dalam beberapa hari terakhir. (indovoices.com)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Seorang Biarawati dari Myanmar, Suster Ann Rose Nu Tawng tampak memohon kepada sekelompok petugas polisi bersenjata lengkap untuk tidak melepaskan peluru kepada anak-anak. Dirinya berlutut, mengenakan pakaian putih, tangannya terentang, memohon kepada kekuatan junta baru negara itu saat mereka bersiap untuk menindak protes massa. Hal tersebut pun telah menjadikannya viral, bahkan tindakannya banyak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":53050,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"Indovoices.com","source_url":"https:\/\/www.indovoices.com\/umum\/kisah-biarawati-myanmar-berlutut-pada-polisi-bersenjata-jangan-tembak-anak-anak-tapi-tembak-saya","via_name":"","via_url":"","override":[{"single_blog_custom":"","sidebar":"","second_sidebar":"","share_position":"","share_float_style":"","post_date_format":"","post_date_format_custom":"","post_reading_time_wpm":"","zoom_button_out_step":"1","zoom_button_in_step":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"","single_post_gallery_size":""}],"trending_post_position":"","trending_post_label":"","sponsored_post_label":"","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[22],"tags":[],"class_list":["post-1909","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional"],"better_featured_image":{"id":53050,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/myanmar.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/myanmar.jpg?fit=296%2C170&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/myanmar.jpg"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/myanmar.jpg?fit=296%2C170&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1177","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1909","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1909"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1909\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53050"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1909"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1909"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1909"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}