{"id":2343,"date":"2019-01-03T14:49:38","date_gmt":"2019-01-03T07:49:38","guid":{"rendered":"https:\/\/hkbp.diakonia.id\/?p=2343"},"modified":"2019-01-04T07:51:32","modified_gmt":"2019-01-04T00:51:32","slug":"salib-dan-simbol-simbol-kristen-yang-menakutkan-untuk-vampir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/salib-dan-simbol-simbol-kristen-yang-menakutkan-untuk-vampir\/","title":{"rendered":"Salib dan Simbol-Simbol Kristen yang Menakutkan untuk Vampir"},"content":{"rendered":"<div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i class=\"italic ringkasan mb-2\">Mitologi vampir dan persepsi simbol kristen-katolik berakar pada novel Bram Stoker tahun 1897 yang berjudul Dracula<\/i><\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; Senjata terbaik melawan vampir adalah salib, paling tidak, hingga saat ini, tulis Susanah Clements, seorang penulis buku<a href=\"http:\/\/www.thebrazosblog.com\/2011\/11\/the-best-weapon-against-vampires-has-always-been-the-cross\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> <em>The Vampire Defanged.<\/em><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sejumlah dongeng vampir tradisional, salib dan simbol-simbol kristen lainnya dinilai efektif melawan mereka. Karena, dalam hal ini, vampir dianggap sebagai makhluk yang jauh dari Tuhan atau juga anti-Tuhan, dan hanya kekuatan Tuhan saja yang dianggap mampu melawan kekuatan gelap vampir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Vampir atau dracula adalah tokoh dalam mitologi dan legenda yang hidup dengan memakan intisari kehidupan (biasanya dalam bentuk darah) dari makhluk hidup lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karakter vampir dan kisah tentang makhluk halus sudah ada sejak jaman Mesopotamia dan Yunani Kuno. Namun, sosok vampir seperti yang kita tahu saat ini, baru muncul pada awal <a href=\"https:\/\/www.wired.com\/2014\/10\/vampire-evolution\/\">1700-an,<\/a> ketika penduduk asli dan orang asing sama-sama mulai merekam cerita rakyat dan takhayul dari Balkan, yang menyatakan bahwa negara-negara Eropa timur akan menjadi rumah bagi vampir paling terkenal sepanjang masa: <em>Count Dracula.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, jika diturut asal mulanya, mitologi vampir dan persepsi simbol kristen-katolik berakar pada novel Bram Stoker tahun 1897 yang berjudul <em>Dracula. <\/em>Stoker mempopulerkan kisah vampir dalam budaya barat dan relasinya dengan orang-orang beragama di sana.<br \/>\n<ins data-revive-zoneid=\"22\" data-revive-id=\"baff033da4ed9a0ed37f394b92017071\"><\/ins><br \/>\nVampir, dalam gambaran Stoker, adalah monster dengan wajah manusia\u2014satu sosok yang merepresentasikan manusia yang penuh dengan dosa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Justin Tadlock dalam tulisannya yang berjudul<em><a href=\"http:\/\/justintadlock.com\/writing\/religion-in-the-vampire-motif%20\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Religion in the Vampire<\/a><\/em> menyebut, salib dan simbol kristen dalam novel Stoker digunakan untuk melawan dracula\/vampir, tanpa pernah pernah peduli bagaimana keyakinan karakter[pemilik] simbol-simbol itu sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pola yang hampir mirip juga hadir melalui sejumlah film dan kisah vampir lainnya, yang sama-sama menekankan, vampir adalah manusia berdosa, untuk selamat darinya hanya bisa diselesaikan dengan iman dan jalan agama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbeda dengan kisah vampir milik Stoker, Stephen King dalam <em>Salem\u2019s Lot<\/em> memilih pendekatan berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Stephen King menekankan simbol keagamaan dalam novelnya tidak berarti apa-apa tanpa iman tokoh pemiliknya. King berpendapat, iman kepada Tuhan adalah sumber kemenangan, bukan simbol-simbolnya semata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal ini tampak pada karakter Pastor Callahan, ketika iman Callahan hilang, maka hilang pulalah kekuatannya atas vampir. Simbol agama yang digunakan tanpa iman tidak lagi memiliki kekuatan apapun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di dunia sinema, film vampir yang barangkali paling ikonik adalah <em>Dracula <\/em>(film tahun 1931) yang disutradarai Tod Browning. Sementara, sosok dracula yang paling berpengaruh mungkin adalah film <a href=\"https:\/\/www.imdb.com\/list\/ls066443674\/%20\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Dracula <\/em><\/a>(1958) karya Christopher Lee.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di film ini, penonton mendapat penggambaran bahwa salib bukan hanya sebagai <em>repellant<\/em>, tetapi juga senjata ofensif. Dracula\/vampir di sini sama sekali tidak menyukai salib, tampak ketika dagingnya langsung terbakar ketika menyentuh salib.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salib Kristen, dilihat sebagai representasi dari instrumen penyaliban Yesus, adalah simbol Kekristenan yang paling terkenal. Karena terlalu ikonik ini pula sejumlah umat agama lain sering menolak kehadirannya, terutama di tanah-tanah yang diklaim milik agama tertentu. <strong>[tirto]<\/strong><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mitologi vampir dan persepsi simbol kristen-katolik berakar pada novel Bram Stoker tahun 1897 yang berjudul Dracula Diakonia.id &#8211; Senjata terbaik melawan vampir adalah salib, paling tidak, hingga saat ini, tulis Susanah Clements, seorang penulis buku The Vampire Defanged. Dalam sejumlah dongeng vampir tradisional, salib dan simbol-simbol kristen lainnya dinilai efektif melawan mereka. Karena, dalam hal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2403,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"single_blog_custom":"","parallax":"0","fullscreen":"0","sidebar":"","second_sidebar":"","sticky_sidebar":"0","share_position":"","share_float_style":"","show_share_counter":"0","show_view_counter":"0","show_featured":"0","show_post_meta":"0","show_post_author":"0","show_post_author_image":"0","show_post_date":"0","post_date_format":"","post_date_format_custom":"","show_post_category":"0","show_post_tag":"0","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"0","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"","single_post_gallery_size":""}],"trending_post":"0","trending_post_position":"","trending_post_label":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-2343","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"better_featured_image":{"id":2403,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/ilustrasi-vampir-takut-salib.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/ilustrasi-vampir-takut-salib.jpg?fit=768%2C433&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/ilustrasi-vampir-takut-salib.jpg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/ilustrasi-vampir-takut-salib.jpg?fit=1024%2C577&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2078","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2343","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2343"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2343\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2403"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2343"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2343"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2343"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}