{"id":2422,"date":"2019-02-10T01:00:31","date_gmt":"2019-02-09T18:00:31","guid":{"rendered":"https:\/\/hkbp.diakonia.id\/?p=2422"},"modified":"2019-12-11T15:28:41","modified_gmt":"2019-12-11T08:28:41","slug":"orang-orang-majus-majusi-dari-timur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/orang-orang-majus-majusi-dari-timur\/","title":{"rendered":"Orang-orang Majus (Majusi) dari Timur"},"content":{"rendered":"<div id=\"mf-section-0\" class=\"mf-section-0\">\n<div class=\"thumb tright\">\n<div class=\"thumbinner\">\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\"thumbimage aligncenter\" src=\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/id\/thumb\/d\/d1\/Orang_majus.jpg\/250px-Orang_majus.jpg\" alt=\"\" width=\"487\" height=\"335\" data-file-width=\"639\" data-file-height=\"440\" \/>&#8220;Perjalanan orang majus&#8221;, karya James Jacques-Joseph Tissot, ~1894<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam tradisi\u00a0Kristen,\u00a0<b>Orang majus<\/b>\u00a0(dari\u00a0bahasa Latin:\u00a0<i>magus<\/i>) atau\u00a0<b>Orang Bijak<\/b>\u00a0juga\u00a0<b>Raja-raja dari Timur<\/b>\u00a0sering dianggap sebagai orang dari kerajaan\u00a0Media, mungkin pendeta\u00a0Zoroastrian, atau mungkin juga\u00a0<i>magi<\/i>\u00a0(bentuk plural dari\u00a0<i>magus<\/i>) yang mengenal\u00a0astrologi\u00a0dari\u00a0Persia\u00a0kuno.\u00a0Injil Matius\u00a0menyatakan bahwa mereka datang dari timur ke\u00a0Yerusalem\u00a0untuk menyembah\u00a0Kristus. Menurut\u00a0Matius\u00a0mereka berjalan dengan mengikuti sebuah bintang yang datang dan dikenal sebagai\u00a0Bintang Natal. Saat mereka mendekati Yerusalem,\u00a0Herodes\u00a0mencoba menjebak mereka untuk memberitahu keberadaan Yesus, supaya Yesus dapat dibunuhnya. Saat mereka menemukan Yesus, para orang bijak ini memberikan hadiah-hadiah, di antaranya adalah\u00a0emas,\u00a0kemenyan, dan\u00a0mur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Raja-raja dari timur ini kemudian diperingatkan dalam mimpi oleh malaikat atas rencana jahat Herodes terhadap bayi Yesus dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang melalui jalur yang berbeda. Hal ini menyebabkan Herodes bertindak untuk membunuh semua anak kecil di Betlehem sebagai usaha untuk menggagalkan nubuatan mengenai raja yang baru lahir dan menghilangkan saingan yang dianggapnya akan merebut tahtanya. Namun pada saat pembantaian tersebut, orang tua Yesus telah diperingatkan oleh malaikat untuk mengungsi ke Mesir hingga Herodes mati.<\/p>\n<\/div>\n<h2 class=\"in-block section-heading collapsible-heading open-block\" style=\"text-align: justify;\" tabindex=\"0\" aria-haspopup=\"true\" aria-controls=\"content-collapsible-block-0\"><span id=\"Kronologi_kedatangan_orang_Majus\" class=\"mw-headline\">Kronologi kedatangan orang Majus<\/span><\/h2>\n<div id=\"content-collapsible-block-0\" class=\"mf-section-1 collapsible-block open-block\" style=\"text-align: justify;\" aria-pressed=\"true\" aria-expanded=\"true\">\n<p>Tidak seperti yang sering digambarkan bahwa orang-orang Majus tersebut mengunjungi bayi Yesus di kandang tempat Yesus dilahirkan, bersama-sama dengan para gembala, mereka mengunjungi Yesus\u00a0<u>tidak bersamaan<\/u>\u00a0dengan para gembala, melainkan setelah Yesus berumur lebih dari 40 hari. Rupanya mereka melihat\u00a0bintang yang menandai kelahiran Yesus\u00a0di tanah air mereka, kemungkinan di Persia. Mengingat jarak Persia ke Yudea bermil-mil, maka dibutuhkan waktu beberapa minggu untuk tiba di Yerusalem. Sementara itu, ketika genap 8 hari, Yesus disunat dan diberi nama Yesus. Kemudian setelah berusia 40 hari, genap waktu pentahiran ibu-Nya, Yesus dibawa ke Yerusalem untuk diserahkan kepada Tuhan. Kecil sekali kemungkinan orangtua Yesus (Yusuf dan Maria) membawa kembali Yesus ke kandang domba tempat dia dilahirkan melainkan mereka telah tinggal di tempat yang lain pada saat orang Majus berkunjung. Ini adalah suatu hal yang mengecohkan banyak orang. Lihat pula\u00a0Kronologi kehidupan Yesus\u00a0dan\u00a0Kelahiran Yesus. Pada malam setelah orang-orang Majus datang, malaikat Tuhan datang dalam mimpi Yusuf, menyuruhnya membawa Maria dan bayi Yesus menyingkir ke Mesir, untuk menghindari pembunuhan anak-anak di Betlehem atas perintah raja\u00a0Herodes.<\/p>\n<\/div>\n<h2 class=\"in-block section-heading collapsible-heading open-block\" style=\"text-align: justify;\" tabindex=\"0\" aria-haspopup=\"true\" aria-controls=\"content-collapsible-block-1\"><span id=\"Jumlah_orang_Majus\" class=\"mw-headline\">Jumlah orang Majus<\/span><\/h2>\n<div id=\"content-collapsible-block-1\" class=\"mf-section-2 collapsible-block open-block\" style=\"text-align: justify;\" aria-pressed=\"true\" aria-expanded=\"true\">\n<div class=\"thumb tright\">\n<div class=\"thumbinner\">\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\"thumbimage image-lazy-loaded aligncenter\" src=\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/thumb\/7\/7b\/The_visit_of_the_wise-men.jpg\/220px-The_visit_of_the_wise-men.jpg\" alt=\"\" width=\"447\" height=\"528\" \/><em>Tiga Orang Majus yang mengunjungi bayi Yesus.<\/em><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Di\u00a0Injil Matius, satu-satunya Injil yang memuat kisah ini, tidak disebutkan jumlah orang Majus yang menyembah bayi Yesus. Selain itu juga tidak disebutkan jenis kelamin maupun nama-nama mereka. Alkitab juga tidak menyebut lebih lanjut tentang orang Majus ini.<\/p>\n<p>Dalam tradisi yang kemudian diilustrasikan dalam berbagai cerita, film, dan ilustrasi, jumlah orang Majus yang menyembah Yesus digambarkan tiga orang, hal ini berdasarkan jumlah hadiah (emas, mur, dan kemenyan) yang diberikan kepada orang tua Yesus.<\/p>\n<p>Ada tradisi yang mengatakan bahwa jumlah orang Majus yang mula-mula berangkat ada empat orang, namun salah satu orang Majus tersebut tidak sampai ke kandang domba tempat Yesus dilahirkan dan baru bertemu Yesus di kemudian hari.<\/p>\n<\/div>\n<h2 class=\"in-block section-heading collapsible-heading open-block\" style=\"text-align: justify;\" tabindex=\"0\" aria-haspopup=\"true\" aria-controls=\"content-collapsible-block-2\"><span id=\"Tanah_asal\" class=\"mw-headline\">Tanah asal<\/span><\/h2>\n<div id=\"content-collapsible-block-2\" class=\"mf-section-3 collapsible-block open-block\" style=\"text-align: justify;\" aria-pressed=\"true\" aria-expanded=\"true\">\n<p>Menurut tradisi, mereka dipercayai berasal dari\u00a0Persia\u00a0dan diduga merupakan penganut kepercayaan\u00a0Zoroaster.<\/p>\n<\/div>\n<h2 class=\"in-block section-heading collapsible-heading open-block\" style=\"text-align: justify;\" tabindex=\"0\" aria-haspopup=\"true\" aria-controls=\"content-collapsible-block-3\"><span id=\"Nama\" class=\"mw-headline\">Nama<\/span><span class=\"mw-editsection\"> Orang Majus<\/span><\/h2>\n<div id=\"content-collapsible-block-3\" class=\"mf-section-4 collapsible-block open-block\" style=\"text-align: justify;\" aria-pressed=\"true\" aria-expanded=\"true\">\n<p>Tradisi\u00a0Suriah\u00a0menyebut nama-nama mereka <strong>Larvandad<\/strong>, <strong>Hormisdas<\/strong>, dan <strong>Gusnasaf<\/strong>, sementara tradisi\u00a0Armenia\u00a0hanya menyebutkan dua nama, yaitu <strong>Kagba<\/strong> dan <strong>Badadilma<\/strong>. Dalam tradisi\u00a0Eropa, mereka sering disebut para &#8220;Tiga Raja&#8221;, yang bernama <strong>Baltasar<\/strong>, <strong>Melkior<\/strong> dan <strong>Kaspar<\/strong>. Lalu mereka digambarkan sebagai orang\u00a0Asia,\u00a0Afrika\u00a0dan\u00a0Eropa.\u00a0<strong>Origenes<\/strong>, seorang\u00a0bapa gereja\u00a0yang meninggal pada sekitar tahun 254 M. adalah orang pertama yang menggunakan nama-nama ini. Pada abad ke-6 kisah tentang Tiga Orang Majus ini muncul sebagai cerita yang populer.<\/p>\n<\/div>\n<h2 class=\"in-block section-heading collapsible-heading open-block\" style=\"text-align: justify;\" tabindex=\"0\" aria-haspopup=\"true\" aria-controls=\"content-collapsible-block-4\"><span id=\"Persembahan_orang_Majus\" class=\"mw-headline\">Persembahan orang Majus<\/span><\/h2>\n<div id=\"content-collapsible-block-4\" class=\"mf-section-5 collapsible-block open-block\" style=\"text-align: justify;\" aria-pressed=\"true\" aria-expanded=\"true\">\n<p>Persembahan yang dibawa untuk bayi Yesus mempunyai lambang sendiri-sendiri:<\/p>\n<ul>\n<li><b>Emas<\/b>\u00a0melambangkan bayi Yesus yang akan menjadi raja agung<\/li>\n<li><b>Kemenyan<\/b>\u00a0melambangkan bayi Yesus yang akan menjadi imam agung<\/li>\n<li><b>Mur<\/b>\u00a0melambangkan bayi Yesus yang kelak akan mati untuk menebus dosa manusia<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<h2 class=\"in-block section-heading collapsible-heading open-block\" style=\"text-align: justify;\" tabindex=\"0\" aria-haspopup=\"true\" aria-controls=\"content-collapsible-block-5\"><span id=\"Karya_seni_yang_terkait\" class=\"mw-headline\">Karya seni yang terkait<\/span><\/h2>\n<div id=\"content-collapsible-block-5\" class=\"mf-section-6 collapsible-block open-block\" style=\"text-align: justify;\" aria-pressed=\"true\" aria-expanded=\"true\">\n<div class=\"thumb tright\">\n<div class=\"thumbinner\">\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\"thumbimage image-lazy-loaded aligncenter\" src=\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/thumb\/e\/ec\/Bartolom%C3%A9_Esteban_Murillo_-_Adoration_of_the_Magi_-_Google_Art_Project.jpg\/220px-Bartolom%C3%A9_Esteban_Murillo_-_Adoration_of_the_Magi_-_Google_Art_Project.jpg\" alt=\"\" width=\"299\" height=\"382\" \/><i>Adoration of the Magi<\/i>\u00a0karya\u00a0Bartolom\u00e9 Esteban Murillo<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Kisah tentang para Majus ini membangkitkan banyak karya seni berupa cerita, nyanyian, lukisan, bahkan juga opera. Sejumlah karya seni yang terkait dengan kisah mengenai para Majus ini adalah:<\/p>\n<ul>\n<li><i>Amahl and the Night Visitors<\/i>, opera oleh\u00a0Gian Carlo Menotti<\/li>\n<li><i>The Other Wise Man<\/i>, novel oleh\u00a0Henry van Dyke<\/li>\n<li><i>The Four Wise Men<\/i>, novel oleh\u00a0Michel Tournier<\/li>\n<li><i>Following the Path of the Wise Men<\/i>, novel oleh\u00a0Cynthia Gage<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">sumber: wikipedia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Perjalanan orang majus&#8221;, karya James Jacques-Joseph Tissot, ~1894 Dalam tradisi\u00a0Kristen,\u00a0Orang majus\u00a0(dari\u00a0bahasa Latin:\u00a0magus) atau\u00a0Orang Bijak\u00a0juga\u00a0Raja-raja dari Timur\u00a0sering dianggap sebagai orang dari kerajaan\u00a0Media, mungkin pendeta\u00a0Zoroastrian, atau mungkin juga\u00a0magi\u00a0(bentuk plural dari\u00a0magus) yang mengenal\u00a0astrologi\u00a0dari\u00a0Persia\u00a0kuno.\u00a0Injil Matius\u00a0menyatakan bahwa mereka datang dari timur ke\u00a0Yerusalem\u00a0untuk menyembah\u00a0Kristus. Menurut\u00a0Matius\u00a0mereka berjalan dengan mengikuti sebuah bintang yang datang dan dikenal sebagai\u00a0Bintang Natal. Saat mereka mendekati Yerusalem,\u00a0Herodes\u00a0mencoba menjebak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2722,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"single_blog_custom":"","parallax":"0","fullscreen":"0","sidebar":"","second_sidebar":"","sticky_sidebar":"0","share_position":"","share_float_style":"","show_share_counter":"0","show_view_counter":"0","show_featured":"0","show_post_meta":"0","show_post_author":"0","show_post_author_image":"0","show_post_date":"0","post_date_format":"","post_date_format_custom":"","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"1","zoom_button_in_step":"1","show_post_tag":"0","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"0","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"","single_post_gallery_size":""}],"trending_post":"0","trending_post_position":"","trending_post_label":""},"jnews_primary_category":{"id":"12"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[98],"tags":[],"class_list":["post-2422","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-analisis-opini"],"better_featured_image":{"id":2722,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/orang_majus-1.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/orang_majus-1.jpg?fit=768%2C432&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/orang_majus-1.jpg"},"categories_detail":[{"id":98,"name":"Analisis &amp; Opini","description":"","slug":"analisis-opini","count":30,"parent":0}],"author_name":"sunardo","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0ed7f70b2638935ff34c92f61464b1da646634ada4dc1ad44d5ef196bb129bf1?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/orang_majus-1.jpg?fit=1280%2C720&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"5222","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2422","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2422"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2422\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2722"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2422"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2422"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2422"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}