{"id":24720,"date":"2025-09-03T18:15:47","date_gmt":"2025-09-03T11:15:47","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sebab-kamu-semua-adalah-anak-anak-allah-karena-iman-di-dalam-yesus-kristus-galatia-326\/"},"modified":"2025-09-03T18:15:48","modified_gmt":"2025-09-03T11:15:48","slug":"sebab-kamu-semua-adalah-anak-anak-allah-karena-iman-di-dalam-yesus-kristus-galatia-326","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sebab-kamu-semua-adalah-anak-anak-allah-karena-iman-di-dalam-yesus-kristus-galatia-326\/","title":{"rendered":"Jantung hatiku. [Kidung Agung 1:7]"},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Adalah baik jika kita bisa, tanpa \u201cjikalau\u201d atau \u201ctetapi\u201d, mengatakan kepada Tuhan Yesus \u2014 \u201cjantung hatiku.\u201d Banyak yang hanya dapat berkata tentang Yesus bahwa mereka berharap mereka mencintai Dia; mereka percaya mereka mencintai Dia; tetapi hanya pengalaman yang miskin dan dangkal yang akan puas untuk diam di sana. Tidak seorang pun seharusnya memberi jiwanya istirahat sampai ia merasa cukup yakin tentang hal yang begitu penting dan vital ini. Kita tidak seharusnya puas dengan pengharapan yang dangkal bahwa Yesus mencintai kita, maupun oleh kepercayaan kosong bahwa kita mencintai Dia. Orang kudus zaman dahulu pada umumnya tidak berbicara dengan \u201ctetapi,\u201d dan \u201cjikalau,\u201d dan \u201cberharap,\u201d dan \u201cpercaya,\u201d namun mereka berkata secara positif dan gamblang. \u201cAku tahu kepada siapa aku percaya,\u201d [2 Tim 1:12] kata Paulus. \u201cTetapi aku tahu: Penebusku hidup,\u201d [Ayub 19:25] kata Ayub. Perolehlah pengetahuan yang positif mengenai cintamu kepada Yesus, dan janganlah puas sampai engkau bisa berbicara tentang ketertarikanmu kepada-Nya sebagai realitas, yang mana engkau sudah memastikannya ketika engkau sudah menerima kesaksian Roh Kudus dan meterai-Nya pada jiwamu melalui iman. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Adalah baik jika kita bisa, tanpa \u201cjikalau\u201d atau \u201ctetapi\u201d, mengatakan kepada Tuhan Yesus \u2014 \u201cjantung hatiku.\u201d Banyak yang hanya dapat berkata tentang Yesus bahwa mereka <i>berharap<\/i> mereka mencintai Dia; mereka <i>percaya<\/i> mereka mencintai Dia; tetapi hanya pengalaman yang miskin dan dangkal yang akan puas untuk diam di sana. Tidak seorang pun seharusnya memberi jiwanya istirahat sampai ia merasa cukup yakin tentang hal yang begitu penting dan vital ini. Kita tidak seharusnya puas dengan <i>pengharapan<\/i> yang dangkal bahwa Yesus mencintai kita, maupun oleh kepercayaan kosong bahwa kita mencintai Dia. Orang kudus zaman dahulu pada umumnya tidak berbicara dengan \u201ctetapi,\u201d dan \u201cjikalau,\u201d dan \u201cberharap,\u201d dan \u201cpercaya,\u201d namun mereka berkata secara positif dan gamblang. \u201cAku tahu kepada siapa aku percaya,\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?2%20Tim%201:12\">2 Tim 1:12<\/a>] kata Paulus. \u201cTetapi aku tahu: Penebusku hidup,\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Ayub%2019:25\">Ayub 19:25<\/a>] kata Ayub. Perolehlah pengetahuan yang positif mengenai cintamu kepada Yesus, dan janganlah puas sampai engkau bisa berbicara tentang ketertarikanmu kepada-Nya sebagai realitas, yang mana engkau sudah memastikannya ketika engkau sudah menerima kesaksian Roh Kudus dan meterai-Nya pada jiwamu melalui iman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Adalah baik jika kita bisa, tanpa \u201cjikalau\u201d atau \u201ctetapi\u201d, mengatakan kepada Tuhan Yesus \u2014 \u201cjantung hatiku.\u201d Banyak yang hanya dapat berkata tentang Yesus bahwa mereka berharap mereka mencintai Dia; mereka percaya mereka mencintai Dia; tetapi hanya pengalaman yang miskin dan dangkal yang akan puas untuk diam di sana. Tidak seorang pun seharusnya memberi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-24720","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"136","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24720","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24720"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24720\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68095,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24720\/revisions\/68095"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24720"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24720"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24720"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}