{"id":24730,"date":"2025-09-04T18:15:31","date_gmt":"2025-09-04T11:15:31","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/diperkuat-dalam-imannya-roma-420\/"},"modified":"2025-09-04T18:15:33","modified_gmt":"2025-09-04T11:15:33","slug":"diperkuat-dalam-imannya-roma-420","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/diperkuat-dalam-imannya-roma-420\/","title":{"rendered":"Aku mau, jadilah engkau tahir. [Markus 1:41]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kegelapan purbakala mendengar deklarasi Sang Maha Kuasa, \u201cjadilah terang,\u201d dan langsung ada terang, dan perkataan Tuhan Yesus sama agungnya dengan firman masa lampau yang berkuasa itu. Penebusan, seperti Penciptaan, mempunyai kata-kata yang perkasa. Yesus berkata dan terjadilah. Penyakit kusta tidak tunduk kepada pengobatan manusia, namun ia langsung lari menghadapi perkataan Tuhan \u201cAku mau.\u201d Penyakit ini tidak menampakkan tanda-tanda harapan atau kesembuhan, alam tidak berkontribusi apapun terhadap penyembuhannya sendiri, namun tanpa bantuan luar perkataan itu menghasilkan seluruh karya itu tepat di tempatnya dan selama-lamanya. Si pendosa berada dalam keadaan yang lebih menyedihkan daripada si kusta, hendaklah ia mencontoh teladan ini dan pergi kepada Yesus, \u201csambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya.\u201d [Markus 1:40] Hendaklah ia menjalankan iman sekecil apa pun yang ia punyai, meskipun tidak jauh dari \u201cTuhan, kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku;\u201d [Markus 1:40] dan tidak perlu diragukan lagi hasil daripada pengajuan permohonan ini. Yesus menyembuhkan semua yang datang, dan tidak mengusir seorang pun. Ketika membaca narasi di mana teks pagi kita muncul, hendaklah kita perhatikan dengan seksama bahwa Yesus menyentuh si kusta. Orang yang najis ini sudah melanggar aturan hukum seremonial dan mendesak masuk ke dalam rumah, namun Yesus jangankan menegurnya, Ia malah menerobos hukum itu sendiri untuk menemui dia. Ia mengadakan pertukaran dengan si kusta, sebab ketika Ia membersihkannya, melalui sentuhan itu Ia terjangkit kenajisan kaum Lewi. Seperti itu pula Yesus Kristus dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, walaupun dalam diri-Nya Ia tidak mengenal dosa, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah [2 Korintus 5:21]. Oh semoga para pendosa yang malang itu mau pergi kepada Yesus, percaya dalam kuasa karya substitusi-Nya yang diberkati, agar mereka segera mengetahui kuasa sentuhan rahmat-Nya itu. Tangan yang melipatgandakan roti itu, yang menyelamatkan Petrus yang hampir tenggelam, yang menopang orang kudus yang teraniaya, yang memahkotai orang-orang percaya, tangan yang sama itulah yang akan menyentuh setiap pendosa yang mencari, dan dalam sekejap membuatnya tahir. Kasih Yesus adalah sumber keselamatan. Dia mencintai, memperhatikan, menyentuh kita, dan kita hidup. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Kegelapan purbakala mendengar deklarasi Sang Maha Kuasa, \u201cjadilah terang,\u201d dan langsung ada terang, dan perkataan Tuhan Yesus sama agungnya dengan firman masa lampau yang berkuasa itu. Penebusan, seperti Penciptaan, mempunyai kata-kata yang perkasa. Yesus berkata dan terjadilah. Penyakit kusta tidak tunduk kepada pengobatan manusia, namun ia langsung lari menghadapi perkataan Tuhan \u201cAku mau.\u201d Penyakit ini tidak menampakkan tanda-tanda harapan atau kesembuhan, alam tidak berkontribusi apapun terhadap penyembuhannya sendiri, namun tanpa bantuan luar perkataan itu menghasilkan seluruh karya itu tepat di tempatnya dan selama-lamanya. Si pendosa berada dalam keadaan yang lebih menyedihkan daripada si kusta, hendaklah ia mencontoh teladan ini dan pergi kepada Yesus, \u201csambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya.\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Markus%201:40\">Markus 1:40<\/a>] Hendaklah ia menjalankan iman sekecil apa pun yang ia punyai, meskipun tidak jauh dari \u201cTuhan, kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku;\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Markus%201:40\">Markus 1:40<\/a>] dan tidak perlu diragukan lagi hasil daripada pengajuan permohonan ini. Yesus menyembuhkan semua yang datang, dan tidak mengusir seorang pun. Ketika membaca narasi di mana teks pagi kita muncul, hendaklah kita perhatikan dengan seksama bahwa Yesus menyentuh si kusta. Orang yang najis ini sudah melanggar aturan hukum seremonial dan mendesak masuk ke dalam rumah, namun Yesus jangankan menegurnya, Ia malah menerobos hukum itu sendiri untuk menemui dia. Ia mengadakan pertukaran dengan si kusta, sebab ketika Ia membersihkannya, melalui sentuhan itu Ia terjangkit kenajisan kaum Lewi. Seperti itu pula Yesus Kristus dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, walaupun dalam diri-Nya Ia tidak mengenal dosa, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?2%20Korintus%205:21\">2 Korintus 5:21<\/a>]. Oh semoga para pendosa yang malang itu mau pergi kepada Yesus, percaya dalam kuasa karya substitusi-Nya yang diberkati, agar mereka segera mengetahui kuasa sentuhan rahmat-Nya itu. Tangan yang melipatgandakan roti itu, yang menyelamatkan Petrus yang hampir tenggelam, yang menopang orang kudus yang teraniaya, yang memahkotai orang-orang percaya, tangan yang sama itulah yang akan menyentuh setiap pendosa yang mencari, dan dalam sekejap membuatnya tahir. Kasih Yesus adalah sumber keselamatan. Dia mencintai, memperhatikan, menyentuh kita, dan kita hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kegelapan purbakala mendengar deklarasi Sang Maha Kuasa, \u201cjadilah terang,\u201d dan langsung ada terang, dan perkataan Tuhan Yesus sama agungnya dengan firman masa lampau yang berkuasa itu. Penebusan, seperti Penciptaan, mempunyai kata-kata yang perkasa. Yesus berkata dan terjadilah. Penyakit kusta tidak tunduk kepada pengobatan manusia, namun ia langsung lari menghadapi perkataan Tuhan \u201cAku mau.\u201d [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-24730","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"267","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24730","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24730"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24730\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68097,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24730\/revisions\/68097"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}