{"id":24730,"date":"2026-08-30T18:15:35","date_gmt":"2026-08-30T11:15:35","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/diperkuat-dalam-imannya-roma-420\/"},"modified":"2026-08-30T18:15:36","modified_gmt":"2026-08-30T11:15:36","slug":"diperkuat-dalam-imannya-roma-420","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/diperkuat-dalam-imannya-roma-420\/","title":{"rendered":"Nantikanlah Tuhan. [Mazmur 27:14]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kelihatannya menanti adalah hal yang mudah, namun ini adalah salah satu sikap yang mana seorang prajurit Kristen tidak akan dapat pelajari tanpa pengajaran bertahun-tahun. Berbaris dan berjalan cepat jauh lebih mudah bagi tentara Allah daripada berdiri diam. Ada jam-jam berisi kebingungan ketika jiwa yang paling rela, yang dengan gelisah berhasrat untuk melayani Tuhan, tidak tahu bagian apa yang harus diambil. Lalu apa yang harus ia lakukan? Menyusahkan diri dengan keputusasaan? Lari pulang dalam kekecutan, belok kanan dalam ketakutan, atau melaju ke depan dalam kepongahan? Tidak, menanti saja. Namun, menantilah dalam doa. Panggillah Allah, dan uraikan permasalahannya di hadapan-Nya; beritahukan kepada-Nya kesulitanmu, dan mohonkan janji pertolongan-Nya. Dalam situasi sulit antara satu tanggung jawab dengan yang lain, adalah manis untuk merendahkan diri seperti seorang anak, dan menanti Tuhan dengan kesederhanaan jiwa. Pasti baik bagi kita jika kita merasakan dan mengetahui kebebalan kita, dan dengan sepenuh hati rela dituntun oleh kehendak Allah. Tapi menantilah dalam iman. Utarakan keyakinanmu yang kokoh di dalam Dia; karena menanti tanpa kesetiaan dan tanpa kepercayaan tiada lain adalah sebuah penghinaan terhadap Tuhan. Percayalah bahwa jika Dia membuat engkau berlambat-lambat bahkan sampai tengah malam, Dia akan datang tepat pada waktunya; visi itu akan datang dan tidak akan terlambat. Menantilah dalam kesabaran yang tenang, bukan memberontak karena engkau sedang dalam penderitaan, namun pujilah Allahmu karena itu. Janganlah pernah mengeluh terhadap penyebab kedua, seperti yang umat Israel lakukan kepada Musa; jangan pernah berharap untuk kembali kepada dunia lagi, namun terimalah permasalahan ini sebagaimana adanya, serahkanlah sebagaimana ia ada, dan dengan sepenuh hatimu, tanpa kehendak diri apapun, ke dalam tangan Allah perjanjian, dengan berkata, \u201cSekarang, Tuhan, bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi [Luk 22:42]. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat; aku sudah tidak sanggup lagi, namun aku akan menanti sampai Engkau membelah sungai [Mazmur 74:15], atau memukul mundur lawan-lawanku. Aku akan menanti, jika Engkau membiarkan aku hidup lama, sebab hatiku berpaut kepada Engkau saja, oh Allah, dan rohku menunggu Engkau dengan penuh keyakinan bahwa Engkau akan tetap menjadi sukacitaku dan keselamatanku, tempat perlindunganku dan menara kuatku.\u201d RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Kelihatannya menanti adalah hal yang mudah, namun ini adalah salah satu sikap yang mana seorang prajurit Kristen tidak akan dapat pelajari tanpa pengajaran bertahun-tahun. Berbaris dan berjalan cepat jauh lebih mudah bagi tentara Allah daripada berdiri diam. Ada jam-jam berisi kebingungan ketika jiwa yang paling rela, yang dengan gelisah berhasrat untuk melayani Tuhan, tidak tahu bagian apa yang harus diambil. Lalu apa yang harus ia lakukan? Menyusahkan diri dengan keputusasaan? Lari pulang dalam kekecutan, belok kanan dalam ketakutan, atau melaju ke depan dalam kepongahan? Tidak, menanti saja. Namun, <i>menantilah dalam doa<\/i>. Panggillah Allah, dan uraikan permasalahannya di hadapan-Nya; beritahukan kepada-Nya kesulitanmu, dan mohonkan janji pertolongan-Nya. Dalam situasi sulit antara satu tanggung jawab dengan yang lain, adalah manis untuk merendahkan diri seperti seorang anak, dan <i>menanti Tuhan dengan kesederhanaan jiwa<\/i>. Pasti baik bagi kita jika kita merasakan dan mengetahui kebebalan kita, dan dengan sepenuh hati rela dituntun oleh kehendak Allah. Tapi <i>menantilah dalam iman.<\/i> Utarakan keyakinanmu yang kokoh di dalam Dia; karena menanti tanpa kesetiaan dan tanpa kepercayaan tiada lain adalah sebuah penghinaan terhadap Tuhan. Percayalah bahwa jika Dia membuat engkau berlambat-lambat bahkan sampai tengah malam, Dia akan datang tepat pada waktunya; visi itu akan datang dan tidak akan terlambat. <i>Menantilah dalam kesabaran yang tenang<\/i>, bukan memberontak karena engkau sedang dalam penderitaan, namun pujilah Allahmu karena itu. Janganlah pernah mengeluh terhadap penyebab kedua, seperti yang umat Israel lakukan kepada Musa; jangan pernah berharap untuk kembali kepada dunia lagi, namun terimalah permasalahan ini sebagaimana adanya, serahkanlah sebagaimana ia ada, dan dengan sepenuh hatimu, tanpa kehendak diri apapun, ke dalam tangan Allah perjanjian, dengan berkata, \u201cSekarang, Tuhan, bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Luk%2022:42\">Luk 22:42<\/a>]. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat; aku sudah tidak sanggup lagi, namun aku akan menanti sampai Engkau membelah sungai [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Mazmur%2074:15\">Mazmur 74:15<\/a>], atau memukul mundur lawan-lawanku. Aku akan menanti, jika Engkau membiarkan aku hidup lama, sebab hatiku berpaut kepada Engkau saja, oh Allah, dan rohku menunggu Engkau dengan penuh keyakinan bahwa Engkau akan tetap menjadi sukacitaku dan keselamatanku, tempat perlindunganku dan menara kuatku.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kelihatannya menanti adalah hal yang mudah, namun ini adalah salah satu sikap yang mana seorang prajurit Kristen tidak akan dapat pelajari tanpa pengajaran bertahun-tahun. Berbaris dan berjalan cepat jauh lebih mudah bagi tentara Allah daripada berdiri diam. Ada jam-jam berisi kebingungan ketika jiwa yang paling rela, yang dengan gelisah berhasrat untuk melayani Tuhan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-24730","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","comment_count":0,"views":"9","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24730","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24730"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24730\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":69294,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24730\/revisions\/69294"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}