{"id":25722,"date":"2025-09-16T18:15:32","date_gmt":"2025-09-16T11:15:32","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kiranya-ia-mencium-aku-dengan-kecupan-kidung-agung-12\/"},"modified":"2025-09-16T18:15:36","modified_gmt":"2025-09-16T11:15:36","slug":"kiranya-ia-mencium-aku-dengan-kecupan-kidung-agung-12","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kiranya-ia-mencium-aku-dengan-kecupan-kidung-agung-12\/","title":{"rendered":"Boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi. [2 Petrus 1:4]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Mengambil bagian dalam kodrat ilahi, tentunya bukan berarti menjadi Allah. Itu mustahil. Ciptaan tidak dapat ikut serta dalam esensi Allah. Antara ciptaan dan Pencipta selalu harus ada jurang pemisah yang tetap sehubungan dengan esensi; tapi seperti halnya manusia pertama Adam diciptakan dalam gambar Allah, kita pun, melalui pembaharuan dari Roh Kudus, kita diciptakan dalam gambar Maha Tinggi dalam pengertian yang lebih ilahi. Kita, melalui anugerah, diciptakan seperti Allah. &quot;Allah adalah kasih&quot;; [1 Yoh 4:16] kita pun menjadi kasih \u2014 &quot;setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah&quot; [1 Yoh 4:7] Allah adalah kebenaran; kita menjadi benar, dan kita mencintai yang benar: Allah baik, dan Dia menjadikan kita baik melalui anugerah-Nya, sehingga kita menjadi suci hatinya dan dapat melihat Allah. [Matius 5:8] Terlebih lagi, kita menjadi pengambil bagian dalam kodrat ilahi dalam pengertian yang lebih tinggi lagi daripada ini \u2014 bahkan sesungguhnya, dalam pengertian seluhur-luhurnya, kita kurang sedikit saja dari keilahian absolut. Bukankah kita menjadi anggota-anggota tubuh keilahian pribadi Kristus? Ya, darah yang sama, yang mengalir di kepala-Nya, mengalir juga di tangan-Nya, dan hayat yang sama yang menghidupkan Kristus, menghidupkan umat-Nya juga, karena \u201ckamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.\u201d [Kolose 3:3] Bahkan, jikalau ini tidak cukup, kita dikawinkan dengan Kristus. Dia telah menunangkan kita ke dalam diri-Nya dalam keadilan dan dalam kesetiaan, dan orang-orang yang dipersatukan ke dalam Tuhan menjadi satu dalam roh. Oh! Misteri yang menakjubkan! kita melihatnya, tapi siapakah yang dapat mengerti? Satu dengan Kristus \u2014 betapa bersatu dengan Dia, seperti layaknya cabang yang bersatu dengan pokoknya, demikian kita pun bagian dari Tuhan, Juruselamat, dan Penebus kita! Waktu kita bersukacita dalam hal ini, marilah kita mengingat bahwa mereka yang telah mengambil bagian dalam kodrat ilahi, akan menunjukkan hubungan mereka yang luhur dan suci itu dalam relasinya dengan orang lain, dan menyatakan dalam langkah dan percakapan sehari-hari mereka bahwa mereka sudah lolos dari kerusakan nafsu dunia ini. Mohon akan kesucian yang lebih ilahi dalam hidup! RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Mengambil bagian dalam kodrat ilahi, tentunya bukan berarti menjadi Allah. Itu mustahil. Ciptaan tidak dapat ikut serta dalam esensi Allah. Antara ciptaan dan Pencipta selalu harus ada jurang pemisah yang tetap sehubungan dengan esensi; tapi seperti halnya manusia pertama Adam diciptakan dalam gambar Allah, kita pun, melalui pembaharuan dari Roh Kudus, kita diciptakan dalam gambar Maha Tinggi dalam pengertian yang lebih ilahi. Kita, melalui anugerah, diciptakan seperti Allah. &#8220;Allah adalah kasih&#8221;; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?1%20Yoh%204:16\">1 Yoh 4:16<\/a>] kita pun menjadi kasih \u2014 &#8220;setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?1%20Yoh%204:7\">1 Yoh 4:7<\/a>] Allah adalah kebenaran; kita menjadi benar, dan kita mencintai yang benar: Allah baik, dan Dia menjadikan kita baik melalui anugerah-Nya, sehingga kita menjadi suci hatinya dan dapat melihat Allah. [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Matius%205:8\">Matius 5:8<\/a>] Terlebih lagi, kita menjadi pengambil bagian dalam kodrat ilahi dalam pengertian yang lebih tinggi lagi daripada ini \u2014 bahkan sesungguhnya, dalam pengertian seluhur-luhurnya, kita kurang sedikit saja dari keilahian absolut. Bukankah kita menjadi anggota-anggota tubuh keilahian pribadi Kristus? Ya, darah yang sama, yang mengalir di kepala-Nya, mengalir juga di tangan-Nya, dan hayat yang sama yang menghidupkan Kristus, menghidupkan umat-Nya juga, karena \u201ckamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Kolose%203:3\">Kolose 3:3<\/a>] Bahkan, jikalau ini tidak cukup, kita dikawinkan dengan Kristus. Dia telah menunangkan kita ke dalam diri-Nya dalam keadilan dan dalam kesetiaan, dan orang-orang yang dipersatukan ke dalam Tuhan menjadi satu dalam roh. Oh! Misteri yang menakjubkan! kita melihatnya, tapi siapakah yang dapat mengerti? Satu dengan Kristus \u2014 betapa bersatu dengan Dia, seperti layaknya cabang yang bersatu dengan pokoknya, demikian kita pun bagian dari Tuhan, Juruselamat, dan Penebus kita! Waktu kita bersukacita dalam hal ini, marilah kita mengingat bahwa mereka yang telah mengambil bagian dalam kodrat ilahi, akan menunjukkan hubungan mereka yang luhur dan suci itu dalam relasinya dengan orang lain, dan menyatakan dalam langkah dan percakapan sehari-hari mereka bahwa mereka sudah lolos dari kerusakan nafsu dunia ini. Mohon akan kesucian yang lebih ilahi dalam hidup!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Mengambil bagian dalam kodrat ilahi, tentunya bukan berarti menjadi Allah. Itu mustahil. Ciptaan tidak dapat ikut serta dalam esensi Allah. Antara ciptaan dan Pencipta selalu harus ada jurang pemisah yang tetap sehubungan dengan esensi; tapi seperti halnya manusia pertama Adam diciptakan dalam gambar Allah, kita pun, melalui pembaharuan dari Roh Kudus, kita diciptakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-25722","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"198","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25722","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25722"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25722\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68133,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25722\/revisions\/68133"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25722"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25722"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25722"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}