{"id":26513,"date":"2025-09-21T18:15:41","date_gmt":"2025-09-21T11:15:41","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/karena-itu-marilah-kita-pergi-kepada-nya-di-luar-perkemahan-ibrani-1313\/"},"modified":"2025-09-21T18:15:43","modified_gmt":"2025-09-21T11:15:43","slug":"karena-itu-marilah-kita-pergi-kepada-nya-di-luar-perkemahan-ibrani-1313","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/karena-itu-marilah-kita-pergi-kepada-nya-di-luar-perkemahan-ibrani-1313\/","title":{"rendered":"Aku akan bergirang karena mereka untuk berbuat baik kepada mereka. [Yeremia 32:41]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Bagi seorang percaya, betapa menceriakan hati kesukaan Allah atas orang-orang kudus-Nya! Kita tidak dapat melihat suatu alasan di dalam diri kita mengapa Tuhan harus bergembira atas kita; padahal kita sendiri tidak dapat bersuka atas diri kita, karena kita sering mengaduh, karena terbeban; tersadar akan dosa kita, dan menyesali ketidakpercayaan kita; dan kita takut kalau umat Allah tidak dapat bersuka atas kita, karena mereka pasti merasakan banyak ketidaksempuraan dan kebodohan kita, sehingga mereka bakalan lebih meratapi kelemahan kita daripada mengagumi keanggunan kita. Tetapi kita suka untuk tinggal di atas kebenaran transenden, kemuliaan yang ajaib ini: seperti halnya mempelai laki-laki bersukacita atas pengantin perempuan, begitu pula Tuhan bersukacita atas kita. Kita tidak membaca di manapun bahwa Allah bersukacita atas gunung-gunung yang dilingkupi awan, maupun bintang-bintang yang benderang, tetapi kita membaca bahwa Ia bergirang atas bagian bumi yang dapat ditinggali, dan bahwa kegirangan-Nya terletak pada anak-anak manusia. Bahkan tulisan bahwa jiwa-Nya bergirang karena malaikat-malaikat tidak kita temukan; tidak pula mengenai kerubim dan serafim Ia berkata &quot;engkau akan dinamai &#039;yang berkenan kepada-Ku,&#039; sebab TUHAN telah berkenan kepadamu&quot; [Yes 62:4]; tetapi Ia mengatakannya pada ciptaan-Nya yang terjatuh dan malang seperti kita, yang direndahkan dan bejat oleh dosa, tetapi diselamatkan, diagungkan, dan dimuliakan oleh anugerah-Nya. Betapa kuat bahasa yang dengannya Ia mengekspresikan kegirangan-Nya atas umat-Nya! Siapa yang dapat membayangkan Sang Esa yang kekal itu meledak ke dalam sebuah sorakan? Tapi memang tertulis, &quot;Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai.&quot; [Zef 3:17] Ketika Ia melihat dunia yang diciptakan-Nya, Ia berkata, &quot;Sangat baik&quot;; namun ketika Ia melihat orang-orang sebagai belian darah Yesus, mereka yang Dia sendiri pilih, nampaknya hati agung Sang Tak Terhingga tidak dapat dikekang lagi, melimpah dalam seruan-seruan sukacita ilahi. Tidakkah kita harus mengucapkan rasa terima kasih kita atas deklarasi kasih-Nya yang begitu menakjubkan, dan bernyanyi, &quot;Aku akan bersukacita di dalam Tuhan, aku akan bersukacita di dalam Allah keselamatanku?&quot; [Hab 3:18] RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Bagi seorang percaya, betapa menceriakan hati kesukaan Allah atas orang-orang kudus-Nya! Kita tidak dapat melihat suatu alasan di dalam diri kita mengapa Tuhan harus bergembira atas kita; padahal kita sendiri tidak dapat bersuka atas diri kita, karena kita sering mengaduh, karena terbeban; tersadar akan dosa kita, dan menyesali ketidakpercayaan kita; dan kita takut kalau umat Allah tidak dapat bersuka atas kita, karena mereka pasti merasakan banyak ketidaksempuraan dan kebodohan kita, sehingga mereka bakalan lebih meratapi kelemahan kita daripada mengagumi keanggunan kita. Tetapi kita suka untuk tinggal di atas kebenaran transenden, kemuliaan yang ajaib ini: seperti halnya mempelai laki-laki bersukacita atas pengantin perempuan, begitu pula Tuhan bersukacita atas kita. Kita tidak membaca di manapun bahwa Allah bersukacita atas gunung-gunung yang dilingkupi awan, maupun bintang-bintang yang benderang, tetapi kita membaca bahwa Ia bergirang atas bagian bumi yang dapat ditinggali, dan bahwa kegirangan-Nya terletak pada anak-anak manusia. Bahkan tulisan bahwa jiwa-Nya bergirang karena malaikat-malaikat tidak kita temukan; tidak pula mengenai kerubim dan serafim Ia berkata &#8220;engkau akan dinamai &#8216;yang berkenan kepada-Ku,&#8217; sebab TUHAN telah berkenan kepadamu&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Yes%2062:4\">Yes 62:4<\/a>]; tetapi Ia mengatakannya pada ciptaan-Nya yang terjatuh dan malang seperti kita, yang direndahkan dan bejat oleh dosa, tetapi diselamatkan, diagungkan, dan dimuliakan oleh anugerah-Nya. Betapa kuat bahasa yang dengannya Ia mengekspresikan kegirangan-Nya atas umat-Nya! Siapa yang dapat membayangkan Sang Esa yang kekal itu meledak ke dalam sebuah sorakan? Tapi memang tertulis, &#8220;Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai.&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Zef%203:17\">Zef 3:17<\/a>] Ketika Ia melihat dunia yang diciptakan-Nya, Ia berkata, &#8220;Sangat baik&#8221;; namun ketika Ia melihat orang-orang sebagai belian darah Yesus, mereka yang Dia sendiri pilih, nampaknya hati agung Sang Tak Terhingga tidak dapat dikekang lagi, melimpah dalam seruan-seruan sukacita ilahi. Tidakkah kita harus mengucapkan rasa terima kasih kita atas deklarasi kasih-Nya yang begitu menakjubkan, dan bernyanyi, &#8220;Aku akan bersukacita di dalam Tuhan, aku akan bersukacita di dalam Allah keselamatanku?&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Hab%203:18\">Hab 3:18<\/a>]<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Bagi seorang percaya, betapa menceriakan hati kesukaan Allah atas orang-orang kudus-Nya! Kita tidak dapat melihat suatu alasan di dalam diri kita mengapa Tuhan harus bergembira atas kita; padahal kita sendiri tidak dapat bersuka atas diri kita, karena kita sering mengaduh, karena terbeban; tersadar akan dosa kita, dan menyesali ketidakpercayaan kita; dan kita takut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26513","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"161","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26513","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26513"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26513\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68145,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26513\/revisions\/68145"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26513"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26513"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26513"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}