{"id":26572,"date":"2025-09-29T18:17:56","date_gmt":"2025-09-29T11:17:56","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/semua-yang-melihat-aku-mengolok-olok-aku-mereka-mencibirkan-bibirnya-menggelengkan-kepalanya-mazmur-227\/"},"modified":"2025-09-29T18:17:58","modified_gmt":"2025-09-29T11:17:58","slug":"semua-yang-melihat-aku-mengolok-olok-aku-mereka-mencibirkan-bibirnya-menggelengkan-kepalanya-mazmur-227","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/semua-yang-melihat-aku-mengolok-olok-aku-mereka-mencibirkan-bibirnya-menggelengkan-kepalanya-mazmur-227\/","title":{"rendered":"Kalau menurut pemeriksaannya kusta itu menutupi seluruh tubuh orang itu, maka ia harus dinyatakan tahir oleh imam. [Imamat 13:13]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Peraturan ini kelihatan cukup aneh, tapi ada hikmat di dalamnya, karena merebaknya penyakit itu membuktikan kesehatannya baik. Pagi ini alangkah baiknya jika kita memperhatikan ajaran yang sering kita dengar dari peraturan yang unik ini. Kita pun penderita kusta, dan kita dapat membaca hukum untuk orang kusta dalam aplikasinya untuk kita. Ketika seseorang melihat dirinya sama sekali hilang dan rusak, diselimuti dengan kecemaran dosa, dan tidak ada bagian yang terbebas dari pencemaran; ketika ia melepaskan segala kebenarannya sendiri, dan mengaku bersalah di hadapan Tuhan, maka ia tahir melalui darah Yesus, dan oleh anugerah Allah. Kelaliman yang tersembunyi, tidak dirasakan, dan tidak diakui adalah penyakit kusta yang sesungguhnya, tetapi saat dosa terlihat dan dirasakan, dosa sudah terpukul mati, dan Tuhan melihat dengan mata penuh belas kasihan atas jiwa yang menderita oleh dosa. Tidak ada yang lebih mematikan daripada pembenaran diri, dan tidak ada yang lebih berpengharapan daripada penyesalan. Kita harus mengakui bahwa kita &quot;hanyalah dosa semata,&quot; karena pengakuan yang kurang dari ini tidak akan menjadi kebenaran yang sesungguhnya, dan jika Roh Kudus bekerja dalam kita, meyakinkan kita akan dosa, maka tidak sulit untuk mengakuinya\u2014pengakuan itu akan dengan serta-merta terucap dari bibir kita. Sungguh besar penghiburan yang diberikan ayat ini untuk mereka yang berada di dalam perasaan berdosa yang mendalam! Dosa yang diratapi dan diakui, sehitam dan sebusuk apapun, tidak akan pernah menjauhkan seseorang dari Tuhan Yesus. Barangsiapa datang kepada-Nya, ia sama sekali tidak akan diusir. Meski tidak jujur bagaikan pencuri, meski tidak bersih bagaikan perempuan yang dulunya pendosa, meski keji seperti Saulus dari Tarsus, meski kejam seperti Manasye, meski pemberontak seperti anak yang hilang, kasih dari hati-Nya yang besar akan memandang orang yang merasa tidak ada kebaikan dalam dirinya, dan akan menyatakan tahir, ketika ia percaya pada Yesus yang tersalib. Maka datanglah kepada-Nya, hai pendosa yang berbeban berat, RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Peraturan ini kelihatan cukup aneh, tapi ada hikmat di dalamnya, karena merebaknya penyakit itu membuktikan kesehatannya baik. Pagi ini alangkah baiknya jika kita memperhatikan ajaran yang sering kita dengar dari peraturan yang unik ini. Kita pun penderita kusta, dan kita dapat membaca hukum untuk orang kusta dalam aplikasinya untuk kita. Ketika seseorang melihat dirinya sama sekali hilang dan rusak, diselimuti dengan kecemaran dosa, dan tidak ada bagian yang terbebas dari pencemaran; ketika ia melepaskan segala kebenarannya sendiri, dan mengaku bersalah di hadapan Tuhan, maka ia tahir melalui darah Yesus, dan oleh anugerah Allah. Kelaliman yang tersembunyi, tidak dirasakan, dan tidak diakui adalah penyakit kusta yang sesungguhnya, tetapi saat dosa terlihat dan dirasakan, dosa sudah terpukul mati, dan Tuhan melihat dengan mata penuh belas kasihan atas jiwa yang menderita oleh dosa. Tidak ada yang lebih mematikan daripada pembenaran diri, dan tidak ada yang lebih berpengharapan daripada penyesalan. Kita harus mengakui bahwa kita &#8220;hanyalah dosa semata,&#8221; karena pengakuan yang kurang dari ini tidak akan menjadi kebenaran yang sesungguhnya, dan jika Roh Kudus bekerja dalam kita, meyakinkan kita akan dosa, maka tidak sulit untuk mengakuinya\u2014pengakuan itu akan dengan serta-merta terucap dari bibir kita. Sungguh besar penghiburan yang diberikan ayat ini untuk mereka yang berada di dalam perasaan berdosa yang mendalam! Dosa yang diratapi dan diakui, sehitam dan sebusuk apapun, tidak akan pernah menjauhkan seseorang dari Tuhan Yesus. Barangsiapa datang kepada-Nya, ia sama sekali tidak akan diusir. Meski tidak jujur bagaikan pencuri, meski tidak bersih bagaikan perempuan yang dulunya pendosa, meski keji seperti Saulus dari Tarsus, meski kejam seperti Manasye, meski pemberontak seperti anak yang hilang, kasih dari hati-Nya yang besar akan memandang orang yang merasa tidak ada kebaikan dalam dirinya, dan akan menyatakan tahir, ketika ia percaya pada Yesus yang tersalib. Maka datanglah kepada-Nya, hai pendosa yang berbeban berat,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Peraturan ini kelihatan cukup aneh, tapi ada hikmat di dalamnya, karena merebaknya penyakit itu membuktikan kesehatannya baik. Pagi ini alangkah baiknya jika kita memperhatikan ajaran yang sering kita dengar dari peraturan yang unik ini. Kita pun penderita kusta, dan kita dapat membaca hukum untuk orang kusta dalam aplikasinya untuk kita. Ketika seseorang melihat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26572","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"232","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26572","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26572"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26572\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68171,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26572\/revisions\/68171"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26572"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26572"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26572"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}