{"id":26606,"date":"2025-10-06T18:16:44","date_gmt":"2025-10-06T11:16:44","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/tetapi-aku-tahu-penebusku-hidup-ayub-1925\/"},"modified":"2025-10-06T18:16:46","modified_gmt":"2025-10-06T11:16:46","slug":"tetapi-aku-tahu-penebusku-hidup-ayub-1925","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/tetapi-aku-tahu-penebusku-hidup-ayub-1925\/","title":{"rendered":"Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. [Yohanes 4:14]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Dia yang percaya pada Yesus merasakan kecukupan di dalam Tuhannya untuk memuaskan dirinya di saat ini, dan untuk mengenyangkan dirinya selama-lamanya. Orang percaya bukanlah orang yang siang-siangnya jemu karena merindukan kenyamanan, dan yang malam-malamnya panjang karena tak adanya pemikiran yang menceriakan hati, karena di dalam agamanya ia merasakan mata air sukacita sedemikian, air mancur penghiburan sedemikian, sehingga ia puas dan bahagia. Tempatkan ia dalam sebuah ruang gelap di bawah tanah dan dia akan menemukan teman yang baik; tempatkan dia di gurun tandus dan dia akan makan roti surga; jauhkan dia dari persahabatan dan dia akan menjumpai \u201csahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.\u201d [Amsal 18:24] Hancurkan semua pohon jaraknya, dan ia akan menemukan perteduhan di bawah Batu Zaman; hisap fondasi harapan duniawinya, tapi hatinya akan tetap, percaya di dalam Tuhan. Hati tidak pernah puas seperti halnya kuburan sebelum Yesus masuk ke dalamnya, baru kemudian hati itu menjadi cangkir yang penuh melimpah. Ada kesempurnaan di dalam Kristus sehingga Dia sendiri adalah segalanya bagi orang percaya. Orang suci sejati merasa sangat puas dengan Yesus yang serba cukup sehingga ia tidak lagi merasa haus\u2014kecuali rasa haus yang lebih dalam akan mata air kehidupan. Dalam sikap yang manis itu, hai orang-orang percaya, engkau haruslah merasa haus; itu bukanlah rasa haus yang menyakitkan, tetapi akan keinginan mengasihi; engkau akan menemukan bahwa terengah-engah mengharapkan kenikmatan dari kasih Yesus adalah hal yang manis. Pada hari-hari lampau, orang mengatakan, &quot;Biasanya aku menenggelamkan emberku ke dalam sumur hingga penuh, tapi sekarang rasa hausku akan Yesus sudah tak tertahankan, sehingga aku ingin sekali menaruh sumur itu pada bibirku, dan langsung meminumnya.&quot; Apakah ini adalah perasaan yang kau miliki di hatimu, wahai orang percaya? Apakah engkau merasa bahwa semua keinginanmu dipuaskan dalam Yesus, dan sekarang engkau tidak ingin apapun lagi, selain untuk mengenal Yesus lebih banyak, dan bersekutu dengan-Nya lebih dekat? Kalau begitu, datanglah terus ke mata air itu, dan ambillah air kehidupan dengan cuma-cuma [Wahyu 22:17]. Yesus tidak akan pernah merasa engkau mengambil terlalu banyak, Dia akan selalu menyambutmu dan berkata, \u201cMinumlah, ya, minumlah yang banyak, oh kekasih.\u201d RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Dia yang percaya pada Yesus merasakan kecukupan di dalam Tuhannya untuk memuaskan dirinya di saat ini, dan untuk mengenyangkan dirinya selama-lamanya. Orang percaya bukanlah orang yang siang-siangnya jemu karena merindukan kenyamanan, dan yang malam-malamnya panjang karena tak adanya pemikiran yang menceriakan hati, karena di dalam agamanya ia merasakan mata air sukacita sedemikian, air mancur penghiburan sedemikian, sehingga ia puas dan bahagia. Tempatkan ia dalam sebuah ruang gelap di bawah tanah dan dia akan menemukan teman yang baik; tempatkan dia di gurun tandus dan dia akan makan roti surga; jauhkan dia dari persahabatan dan dia akan menjumpai \u201csahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Amsal%2018:24\">Amsal 18:24<\/a>] Hancurkan semua pohon jaraknya, dan ia akan menemukan perteduhan di bawah Batu Zaman; hisap fondasi harapan duniawinya, tapi hatinya akan tetap, percaya di dalam Tuhan. Hati tidak pernah puas seperti halnya kuburan sebelum Yesus masuk ke dalamnya, baru kemudian hati itu menjadi cangkir yang penuh melimpah. Ada kesempurnaan di dalam Kristus sehingga Dia sendiri adalah segalanya bagi orang percaya. Orang suci sejati merasa sangat puas dengan Yesus yang serba cukup sehingga ia tidak lagi merasa haus\u2014kecuali rasa haus yang lebih dalam akan mata air kehidupan. Dalam sikap yang manis itu, hai orang-orang percaya, engkau haruslah merasa haus; itu bukanlah rasa haus yang menyakitkan, tetapi akan keinginan mengasihi; engkau akan menemukan bahwa terengah-engah mengharapkan kenikmatan dari kasih Yesus adalah hal yang manis. Pada hari-hari lampau, orang mengatakan, &#8220;Biasanya aku menenggelamkan emberku ke dalam sumur hingga penuh, tapi sekarang rasa hausku akan Yesus sudah tak tertahankan, sehingga aku ingin sekali menaruh sumur itu pada bibirku, dan langsung meminumnya.&#8221; Apakah ini adalah perasaan yang kau miliki di hatimu, wahai orang percaya? Apakah engkau merasa bahwa semua keinginanmu dipuaskan dalam Yesus, dan sekarang engkau tidak ingin apapun lagi, selain untuk mengenal Yesus lebih banyak, dan bersekutu dengan-Nya lebih dekat? Kalau begitu, datanglah terus ke mata air itu, dan ambillah air kehidupan dengan cuma-cuma [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Wahyu%2022:17\">Wahyu 22:17<\/a>]. Yesus tidak akan pernah merasa engkau mengambil terlalu banyak, Dia akan selalu menyambutmu dan berkata, \u201cMinumlah, ya, minumlah yang banyak, oh kekasih.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Dia yang percaya pada Yesus merasakan kecukupan di dalam Tuhannya untuk memuaskan dirinya di saat ini, dan untuk mengenyangkan dirinya selama-lamanya. Orang percaya bukanlah orang yang siang-siangnya jemu karena merindukan kenyamanan, dan yang malam-malamnya panjang karena tak adanya pemikiran yang menceriakan hati, karena di dalam agamanya ia merasakan mata air sukacita sedemikian, air [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26606","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":2,"views":"182","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26606","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26606"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26606\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68186,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26606\/revisions\/68186"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26606"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26606"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26606"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}