{"id":26620,"date":"2025-10-07T18:18:28","date_gmt":"2025-10-07T11:18:28","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/dialah-yang-telah-ditinggikan-oleh-allah-sendiri-kisah-para-rasul-531\/"},"modified":"2025-10-07T18:18:31","modified_gmt":"2025-10-07T11:18:31","slug":"dialah-yang-telah-ditinggikan-oleh-allah-sendiri-kisah-para-rasul-531","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/dialah-yang-telah-ditinggikan-oleh-allah-sendiri-kisah-para-rasul-531\/","title":{"rendered":"Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk? [Bilangan 11:11]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Bapa kita di surga sering mengirimkan kita kesulitan-kesulitan untuk menguji iman kita. Jika iman kita cukup baik, maka kita akan bertahan dalam cobaan. Sepuhan takut akan api, tetapi emas tidak: permata imitasi takut tersentuh oleh berlian, tetapi permata yang sesungguhnya tak takut ujian apapun. Iman yang lemah percaya Allah hanya ketika sahabat-sahabat setia, tubuh sehat sepenuhnya, dan bisnis berjalan menguntungkan, akan tetapi iman yang sejati berpegang pada kesetiaan Tuhan ketika sahabat-sahabat pergi, tubuh sakit, jiwa gundah, dan sinar dari wajah Bapa kita tersembunyi. Iman yang dalam kesulitan yang paling ngeri dapat berkata, \u201csekalipun Ia membunuh aku, namun aku akan berharap kepada-Nya,\u201d [Ayub 13:15] adalah iman yang lahir dari surga. Tuhan menimpakan kesulitan pada hamba-hamba-Nya untuk memuliakan diri-Nya, karena Ia dipermuliakan dalam kasih karunia umat-Nya, yang adalah buatan tangan-Nya sendiri. Ketika \u201ckesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan,\u201d [Roma 5:3-4] Tuhan dipermuliakan oleh kebajikan-kebajikan yang bertumbuh itu. Kita tidak akan pernah mengenal alunan harpa, apabila senar-senarnya dibiarkan tak tersentuh; ataupun menikmati sari buah anggur, apabila anggur-anggur itu tidak diinjak dalam pemeras anggur; ataupun mengenal wangi kayu manis, apabila kayu manis itu tidak diperas dan dipukul; ataupun merasakan kehangatan api, apabila batu baranya tidak terbakar habis. Pengetahuan dan kuasa dari Sang Pekerja yang hebat didapati dalam pengujian, yang melaluinya benda-benda belas kasihan-Nya diijinkan lewat. Penderitaan saat ini juga cenderung mempertinggi sukacita masa depan. Harus ada bagian-bagian yang gelap dalam sebuah lukisan agar keindahan bagian-bagian yang terang muncul. Dapatkah kita sangat diberkati di surga, bila kita tidak mengenal kutukan dosa dan dukacita dunia? Bukankah damai terasa lebih manis setelah konflik terjadi, dan istirahat lebih disambut setelah kerja keras? Bukankah kenangan akan penderitaan-penderitaan di masa lalu menambahkan kebahagiaan mereka yang dimuliakan? Ada banyak lagi jawaban lainnya yang menghibur atas pertanyaan yang membuka perenungan singkat kita, marilah kita merenungkannya sepanjang hari. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Bapa kita di surga sering mengirimkan kita kesulitan-kesulitan <i>untuk menguji iman kita<\/i>. Jika iman kita cukup baik, maka kita akan bertahan dalam cobaan. Sepuhan takut akan api, tetapi emas tidak: permata <i>imitasi<\/i> takut tersentuh oleh berlian, tetapi permata yang sesungguhnya tak takut ujian apapun. Iman yang lemah percaya Allah hanya ketika sahabat-sahabat setia, tubuh sehat sepenuhnya, dan bisnis berjalan menguntungkan, akan tetapi iman yang sejati berpegang pada kesetiaan Tuhan ketika sahabat-sahabat pergi, tubuh sakit, jiwa gundah, dan sinar dari wajah Bapa kita tersembunyi. Iman yang dalam kesulitan yang paling ngeri dapat berkata, \u201csekalipun Ia membunuh aku, namun aku akan berharap kepada-Nya,\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Ayub%2013:15\">Ayub 13:15<\/a>] adalah iman yang lahir dari surga. Tuhan menimpakan kesulitan pada hamba-hamba-Nya <i>untuk memuliakan diri-Nya<\/i>, karena Ia dipermuliakan dalam kasih karunia umat-Nya, yang adalah buatan tangan-Nya sendiri. Ketika \u201ckesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan,\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Roma%205:3-4\">Roma 5:3-4<\/a>] Tuhan dipermuliakan oleh kebajikan-kebajikan yang bertumbuh itu. Kita tidak akan pernah mengenal alunan harpa, apabila senar-senarnya dibiarkan tak tersentuh; ataupun menikmati sari buah anggur, apabila anggur-anggur itu tidak diinjak dalam pemeras anggur; ataupun mengenal wangi kayu manis, apabila kayu manis itu tidak diperas dan dipukul; ataupun merasakan kehangatan api, apabila batu baranya tidak terbakar habis. Pengetahuan dan kuasa dari Sang Pekerja yang hebat didapati dalam pengujian, yang melaluinya benda-benda belas kasihan-Nya diijinkan lewat. Penderitaan saat ini juga <i>cenderung mempertinggi sukacita masa depan<\/i>. Harus ada bagian-bagian yang gelap dalam sebuah lukisan agar keindahan bagian-bagian yang terang muncul. Dapatkah kita sangat diberkati di surga, bila kita tidak mengenal kutukan dosa dan dukacita dunia? Bukankah damai terasa lebih manis setelah konflik terjadi, dan istirahat lebih disambut setelah kerja keras? Bukankah kenangan akan penderitaan-penderitaan di masa lalu menambahkan kebahagiaan mereka yang dimuliakan? Ada banyak lagi jawaban lainnya yang menghibur atas pertanyaan yang membuka perenungan singkat kita, marilah kita merenungkannya sepanjang hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Bapa kita di surga sering mengirimkan kita kesulitan-kesulitan untuk menguji iman kita. Jika iman kita cukup baik, maka kita akan bertahan dalam cobaan. Sepuhan takut akan api, tetapi emas tidak: permata imitasi takut tersentuh oleh berlian, tetapi permata yang sesungguhnya tak takut ujian apapun. Iman yang lemah percaya Allah hanya ketika sahabat-sahabat setia, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26620","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"187","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26620","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26620"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26620\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68190,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26620\/revisions\/68190"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26620"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26620"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26620"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}