{"id":26652,"date":"2025-10-11T18:15:32","date_gmt":"2025-10-11T11:15:32","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/perbuatlah-ini-menjadi-peringatan-akan-aku-1-korintus-1124\/"},"modified":"2025-10-11T18:15:34","modified_gmt":"2025-10-11T11:15:34","slug":"perbuatlah-ini-menjadi-peringatan-akan-aku-1-korintus-1124","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/perbuatlah-ini-menjadi-peringatan-akan-aku-1-korintus-1124\/","title":{"rendered":"Marilah kita mengangkat hati dan tangan kita kepada Allah di sorga. [Ratapan 3:41]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Berdoa mendidik kita akan ketidaklayakan kita, suatu pelajaran yang tidak menyenangkan, tetapi bermanfaat untuk makhluk sombong seperti kita. Apabila Allah memberikan kebaikan tanpa mengharuskan kita berdoa untuknya, kita tidak akan pernah mengerti betapa miskinnya kita, tetapi sebuah doa yang benar adalah sebuah inventaris keinginan, sebuah katalog kebutuhan, sebuah pengungkapan kemiskinan yang terselubung. Doa adalah pengajuan atas kekayaan surgawi sekaligus pengakuan kekosongan manusia. Keadaan yang paling sehat bagi seorang Kristen adalah diri yang selalu kosong dan terus-menerus bergantung kepada Tuhan untuk perbekalannya; untuk selalu miskin dalam diri dan kaya dalam Yesus; sendirinya lemah seperti air, tetapi melalui Allah kuat untuk melakukan perbuatan yang luar biasa; maka itulah guna doa, sebab selagi doa memuja Allah, doa meletakkan ciptaan ke tempat di mana dia seharusnya berada, yaitu di dalam debu. Doa itu sendiri, terlepas dari jawaban yang diberikannya, adalah keuntungan yang besar bagi orang Kristen. Seperti pelari memperoleh kekuatan berlomba dengan berlatih setiap hari, begitu pula demi lomba kehidupan yang akbar ini, kita memperoleh energi dari upaya kudus untuk berdoa. Doa menumbuhkan bulu pada sayap anak garuda Allah, supaya mereka bisa belajar untuk naik ke atas awan-awan. Doa mempererat ikat pinggang para tentara Allah, dan mengirim mereka ke dalam peperangan dengan urat yang kokoh dan otot yang kencang. Seorang pemohon yang tekun keluar dari kamarnya sementara matahari muncul dari bilik timur, bergembira seperti seorang olahragawan yang siap bertanding. Doa adalah tangan Musa yang terangkat yang menghancurkan bani Amalek melebihi pedang Yosua; panah yang ditembakkan dari bilik nabi yang mengantar kekalahan bangsa Aram. Doa menyandangkan kekuatan ilahi pada kelemahan manusia, membalikkan kebodohan manusia menjadi hikmat surgawi, dan memberikan kedamaian Allah pada manusia yang galau. Kita tidak tahu apa yang tak dapat dilakukan doa! Kami bersyukur, Allah yang hebat, atas tutup pendamaian, sebuah bukti akan kasih kebaikan-Mu yang menakjubkan. Bantulah kami untuk menggunakannya dengan benar sepanjang hari ini! RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Berdoa <i>mendidik kita akan ketidaklayakan kita<\/i>, suatu pelajaran yang tidak menyenangkan, tetapi bermanfaat untuk makhluk sombong seperti kita. Apabila Allah memberikan kebaikan tanpa mengharuskan kita berdoa untuknya, kita tidak akan pernah mengerti betapa miskinnya kita, tetapi sebuah doa yang benar adalah sebuah inventaris keinginan, sebuah katalog kebutuhan, sebuah pengungkapan kemiskinan yang terselubung. Doa adalah pengajuan atas kekayaan surgawi sekaligus pengakuan kekosongan manusia. Keadaan yang paling sehat bagi seorang Kristen adalah diri yang selalu kosong dan terus-menerus bergantung kepada Tuhan untuk perbekalannya; untuk selalu miskin dalam diri dan kaya dalam Yesus; sendirinya lemah seperti air, tetapi melalui Allah kuat untuk melakukan perbuatan yang luar biasa; maka itulah guna doa, sebab selagi doa memuja Allah, doa meletakkan ciptaan ke tempat di mana dia seharusnya berada, yaitu di dalam debu. Doa itu sendiri, terlepas dari jawaban yang diberikannya, adalah keuntungan yang besar bagi orang Kristen. Seperti pelari memperoleh kekuatan berlomba dengan berlatih setiap hari, begitu pula demi lomba kehidupan yang akbar ini, kita memperoleh energi dari upaya kudus untuk berdoa. Doa menumbuhkan bulu pada sayap anak garuda Allah, supaya mereka bisa belajar untuk naik ke atas awan-awan. Doa mempererat ikat pinggang para tentara Allah, dan mengirim mereka ke dalam peperangan dengan urat yang kokoh dan otot yang kencang. Seorang pemohon yang tekun keluar dari kamarnya sementara matahari muncul dari bilik timur, bergembira seperti seorang olahragawan yang siap bertanding. Doa adalah tangan Musa yang terangkat yang menghancurkan bani Amalek melebihi pedang Yosua; panah yang ditembakkan dari bilik nabi yang mengantar kekalahan bangsa Aram. Doa menyandangkan kekuatan ilahi pada kelemahan manusia, membalikkan kebodohan manusia menjadi hikmat surgawi, dan memberikan kedamaian Allah pada manusia yang galau. Kita tidak tahu apa yang tak dapat dilakukan doa! Kami bersyukur, Allah yang hebat, atas tutup pendamaian, sebuah bukti akan kasih kebaikan-Mu yang menakjubkan. Bantulah kami untuk menggunakannya dengan benar sepanjang hari ini!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Berdoa mendidik kita akan ketidaklayakan kita, suatu pelajaran yang tidak menyenangkan, tetapi bermanfaat untuk makhluk sombong seperti kita. Apabila Allah memberikan kebaikan tanpa mengharuskan kita berdoa untuknya, kita tidak akan pernah mengerti betapa miskinnya kita, tetapi sebuah doa yang benar adalah sebuah inventaris keinginan, sebuah katalog kebutuhan, sebuah pengungkapan kemiskinan yang terselubung. Doa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26652","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"207","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26652","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26652"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26652\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68218,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26652\/revisions\/68218"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26652"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26652"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26652"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}