{"id":26664,"date":"2025-10-12T18:15:42","date_gmt":"2025-10-12T11:15:42","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/allah-allah-kita-mazmur-676\/"},"modified":"2025-10-12T18:15:44","modified_gmt":"2025-10-12T11:15:44","slug":"allah-allah-kita-mazmur-676","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/allah-allah-kita-mazmur-676\/","title":{"rendered":"Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu. [Mazmur 119:15]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ada saat-saat di mana kesendirian lebih baik daripada berkumpul, dan diam lebih bijak daripada bicara. Kita bisa menjadi orang Kristen yang lebih baik jika kita lebih banyak menyendiri, menanti Allah dan lewat perenungan akan Firman-Nya mengumpulkan kekuatan rohani untuk bekerja melayani-Nya. Kita seharusnya merenungkan hal-hal mengenai Allah, karena dengan demikianlah kita mendapatkan gizi yang sesungguhnya. Kebenaran adalah bagaikan gugusan tanaman anggur: jika kita mau mendapatkan minuman anggur, kita harus menumbuknya; kita harus menekan dan memerasnya berkali-kali. Kaki si penumbuk harus turun dengan gembira di atas gugusan anggur, jika tidak, sarinya tidak akan mengalir; dan mereka harus menginjak anggur-anggur itu dengan benar, jika tidak, banyak cairan berharga akan terbuang. Oleh karena itu kita harus, lewat perenungan, memijak gugusan kebenaran, jika kita mau mendapat minuman anggur penghiburan darinya. Tubuh kita tidak hanya ditunjang oleh masuknya makanan ke dalam mulut, tetapi proses sebenarnya yang memberi makan otot, dan saraf, dan urat, dan tulang, adalah proses pencernaan. Pencernaanlah yang menyebabkan makanan dari luar berasimilasi dengan kehidupan di dalam. Jiwa kita tidak dicukupi hanya dengan sebentar mendengarkan ini, dan kemudian itu, dan kemudian bagian lain dari kebenaran ilahi. Mendengar, membaca, menandai, dan mempelajari, semuanya itu perlu dicerna di dalam diri untuk menyempurnakan kegunaannya, dan pencernaan kebenaran ke dalam diri ini sebagian besar terjadi dalam perenungan akan kebenaran itu. Mengapa beberapa orang Kristen, meskipun mendengarkan banyak khotbah, kemajuan hidup ilahinya lambat? Karena mereka mengabaikan kamar doa, dan tidak dengan sepenuhnya merenungkan Firman Tuhan. Mereka suka gandum, tetapi mereka tidak menggilingnya; mereka mau jagung, tetapi tidak mau pergi ke ladang untuk mengumpulkannya; buah itu tergantung di atas pohon, tetapi mereka tidak mau memetiknya; dan air mengalir di kaki mereka, tetapi mereka tidak membungkuk untuk meminumnya. Dari kebodohan sedemikian bebaskanlah kami, ya Tuhan, dan kiranya inilah ketetapan hati kami pagi ini, \u201cAku hendak merenungkan titah-titah-Mu.\u201d RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Ada saat-saat di mana kesendirian lebih baik daripada berkumpul, dan diam lebih bijak daripada bicara. Kita bisa menjadi orang Kristen yang lebih baik jika kita lebih banyak menyendiri, menanti Allah dan lewat perenungan akan Firman-Nya mengumpulkan kekuatan rohani untuk bekerja melayani-Nya. Kita seharusnya <i>merenungkan hal-hal mengenai Allah, karena dengan demikianlah kita mendapatkan gizi yang sesungguhnya<\/i>. Kebenaran adalah bagaikan gugusan tanaman anggur: jika kita mau mendapatkan minuman anggur, kita harus menumbuknya; kita harus menekan dan memerasnya berkali-kali. Kaki si penumbuk harus turun dengan gembira di atas gugusan anggur, jika tidak, sarinya tidak akan mengalir; dan mereka harus menginjak anggur-anggur itu dengan benar, jika tidak, banyak cairan berharga akan terbuang. Oleh karena itu kita harus, lewat perenungan, memijak gugusan kebenaran, jika kita mau mendapat minuman anggur penghiburan darinya. Tubuh kita tidak hanya ditunjang oleh masuknya makanan ke dalam mulut, tetapi proses sebenarnya yang memberi makan otot, dan saraf, dan urat, dan tulang, adalah proses pencernaan. Pencernaanlah yang menyebabkan makanan dari luar berasimilasi dengan kehidupan di dalam. Jiwa kita tidak dicukupi hanya dengan sebentar mendengarkan ini, dan kemudian itu, dan kemudian bagian lain dari kebenaran ilahi. Mendengar, membaca, menandai, dan mempelajari, semuanya itu perlu dicerna di dalam diri untuk menyempurnakan kegunaannya, dan pencernaan kebenaran ke dalam diri ini sebagian besar terjadi dalam perenungan akan kebenaran itu. Mengapa beberapa orang Kristen, meskipun mendengarkan banyak khotbah, kemajuan hidup ilahinya lambat? Karena mereka mengabaikan kamar doa, dan tidak dengan sepenuhnya merenungkan Firman Tuhan. Mereka suka gandum, tetapi mereka tidak menggilingnya; mereka mau jagung, tetapi tidak mau pergi ke ladang untuk mengumpulkannya; buah itu tergantung di atas pohon, tetapi mereka tidak mau memetiknya; dan air mengalir di kaki mereka, tetapi mereka tidak membungkuk untuk meminumnya. Dari kebodohan sedemikian bebaskanlah kami, ya Tuhan, dan kiranya inilah ketetapan hati kami pagi ini, \u201c<i>Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu.<\/i>\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ada saat-saat di mana kesendirian lebih baik daripada berkumpul, dan diam lebih bijak daripada bicara. Kita bisa menjadi orang Kristen yang lebih baik jika kita lebih banyak menyendiri, menanti Allah dan lewat perenungan akan Firman-Nya mengumpulkan kekuatan rohani untuk bekerja melayani-Nya. Kita seharusnya merenungkan hal-hal mengenai Allah, karena dengan demikianlah kita mendapatkan gizi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26664","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"118","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26664","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26664"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26664\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68220,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26664\/revisions\/68220"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26664"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26664"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26664"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}