{"id":26687,"date":"2025-10-16T18:15:34","date_gmt":"2025-10-16T11:15:34","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/pipinya-bagaikan-bedeng-rempah-rempah-petak-petak-rempah-rempah-akar-kidung-agung-513\/"},"modified":"2025-10-16T18:15:37","modified_gmt":"2025-10-16T11:15:37","slug":"pipinya-bagaikan-bedeng-rempah-rempah-petak-petak-rempah-rempah-akar-kidung-agung-513","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/pipinya-bagaikan-bedeng-rempah-rempah-petak-petak-rempah-rempah-akar-kidung-agung-513\/","title":{"rendered":"Kata Yesus kepada mereka: &#8220;Marilah dan sarapanlah.&#8221; [Yohanes 21:12]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Dalam kata-kata tersebut orang percaya diajak ke suatu kedekatan kudus dengan Yesus. &quot;Marilah dan sarapanlah&quot; berarti meja yang sama, lauk yang sama; ya, dan kadang-kadang berarti duduk berdampingan, dan menyandarkan kepala kita pada dada Sang Juruselamat. Ajakan ini berarti orang percaya dibawa ke rumah perjamuan, di mana panji kasih penebusan berkibar. &quot;Marilah dan sarapanlah,&quot; memberi kita visi akan kesatuan dengan Yesus, karena satu-satunya makanan yang dapat kita santap ketika kita makan bersama Yesus adalah diri-Nya sendiri. Oh, lihatlah kesatuan ini! Makan diri Yesus merupakan kedalaman yang tidak dipahami akal. &quot;Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.&quot; [Yohanes 6:56] Ajakan ini juga merupakan undangan untuk menikmati persekutuan dengan orang-orang kudus. Orang-orang Kristen bisa memiliki perbedaan pada berbagai hal, tetapi mereka semua memiliki selera rohani yang sama; dan jika kita semua tidak bisa merasa sama, kita semua bisa makan makanan yang sama, yaitu roti hidup yang diturunkan dari surga. Di meja persekutuan dengan Yesus kita adalah satu roti dan satu cawan. Sambil cangkir penuh kasih diedarkan kita berjanji satu sama lain sungguh-sungguh di dalamnya. Lebih dekatlah dengan Yesus, dan engkau akan menemukan dirimu terhubung dalam roh semakin dalam dengan semua orang yang seperti engkau, yang ditunjang manna surgawi yang sama. Jika kita lebih dekat dengan Yesus kita seharusnya semakin dekat satu sama lain. Kita juga melihat kata-kata ini sebagai sumber kekuatan bagi setiap orang Kristen. Melihat Kristus berarti engkau hidup, tapi untuk memiliki kekuatan melayani Dia, engkau harus &quot;datang dan sarapan.&quot; Kita bekerja dalam banyak kelemahan yang tidak perlu karena kita mengabaikan ajaran Guru yang satu ini. Tidak satupun dari kita harus berdiet; justru kita harus menggemukkan diri dengan sumsum dan lemak injil agar kita memperoleh kekuatan darinya, dan mendesak seluruh kekuatan itu untuk melayani Guru. Maka dari itu, jika engkau ingin mewujudkan kedekatan dengan Yesus, persekutuan dengan Yesus, cinta kepada umat-Nya, dan kekuatan dari Yesus, &quot;marilah dan sarapanlah&quot; bersama Dia melalui iman. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Dalam kata-kata tersebut orang percaya diajak ke suatu kedekatan kudus dengan Yesus. &#8220;Marilah dan sarapanlah&#8221; berarti meja yang sama, lauk yang sama; ya, dan kadang-kadang berarti duduk berdampingan, dan menyandarkan kepala kita pada dada Sang Juruselamat. Ajakan ini berarti orang percaya dibawa ke rumah perjamuan, di mana panji kasih penebusan berkibar. &#8220;Marilah dan sarapanlah,&#8221; memberi kita visi akan <i>kesatuan dengan Yesus<\/i>, karena satu-satunya makanan yang dapat kita santap ketika kita makan bersama Yesus adalah <i>diri-Nya sendiri<\/i>. Oh, lihatlah kesatuan ini! Makan diri Yesus merupakan kedalaman yang tidak dipahami akal. &#8220;Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Yohanes%206:56\">Yohanes 6:56<\/a>] Ajakan ini juga merupakan undangan untuk menikmati <i>persekutuan dengan orang-orang kudus.<\/i> Orang-orang Kristen bisa memiliki perbedaan pada berbagai hal, tetapi mereka semua memiliki selera rohani yang sama; dan jika kita semua tidak bisa <i>merasa<\/i> sama, kita semua bisa <i>makan<\/i> makanan yang sama, yaitu roti hidup yang diturunkan dari surga. Di meja persekutuan dengan Yesus kita adalah satu roti dan satu cawan. Sambil cangkir penuh kasih diedarkan kita berjanji satu sama lain sungguh-sungguh di dalamnya. Lebih dekatlah dengan Yesus, dan engkau akan menemukan dirimu terhubung dalam roh semakin dalam dengan semua orang yang seperti engkau, yang ditunjang manna surgawi yang sama. Jika kita lebih dekat dengan Yesus kita seharusnya semakin dekat satu sama lain. Kita juga melihat kata-kata ini sebagai <i>sumber kekuatan<\/i> bagi setiap orang Kristen. Melihat Kristus berarti engkau hidup, tapi untuk memiliki kekuatan melayani Dia, engkau harus &#8220;datang dan sarapan.&#8221; Kita bekerja dalam banyak kelemahan yang tidak perlu karena kita mengabaikan ajaran Guru yang satu ini. Tidak satupun dari kita harus berdiet; justru kita harus menggemukkan diri dengan sumsum dan lemak injil agar kita memperoleh kekuatan darinya, dan mendesak seluruh kekuatan itu untuk melayani Guru. Maka dari itu, jika engkau ingin mewujudkan <i>kedekatan<\/i> dengan Yesus, <i>persekutuan<\/i> dengan Yesus, <i>cinta<\/i> kepada umat-Nya, dan <i>kekuatan dari Yesus<\/i>, &#8220;marilah dan sarapanlah&#8221; bersama Dia melalui iman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Dalam kata-kata tersebut orang percaya diajak ke suatu kedekatan kudus dengan Yesus. &#8220;Marilah dan sarapanlah&#8221; berarti meja yang sama, lauk yang sama; ya, dan kadang-kadang berarti duduk berdampingan, dan menyandarkan kepala kita pada dada Sang Juruselamat. Ajakan ini berarti orang percaya dibawa ke rumah perjamuan, di mana panji kasih penebusan berkibar. &#8220;Marilah dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26687","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"208","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26687","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26687"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26687\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68229,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26687\/revisions\/68229"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26687"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26687"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26687"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}