{"id":26748,"date":"2026-07-13T18:15:38","date_gmt":"2026-07-13T11:15:38","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sepanjang-malam-ada-tangisan-menjelang-pagi-terdengar-sorak-sorai-mazmur-305\/"},"modified":"2026-07-13T18:15:39","modified_gmt":"2026-07-13T11:15:39","slug":"sepanjang-malam-ada-tangisan-menjelang-pagi-terdengar-sorak-sorai-mazmur-305","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sepanjang-malam-ada-tangisan-menjelang-pagi-terdengar-sorak-sorai-mazmur-305\/","title":{"rendered":"Berfirmanlah Allah kepada Yunus: &#8220;Layakkah engkau marah?&#8221; [Yunus 4:9]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kemarahan tidak selalu merupakan dosa, tetapi cenderung berjalan dengan liar kapanpun kemarahan terjadi. Kita harusnya cepat bertanya mengenai karakter kemarahan ini, dengan mempertanyakan \u201cApakah Anda layak marah?\u201d Mungkin kita bisa menjawab, \u201cYA\u201d. Sangat sering kemarahan menjadi puntung api orang gila, tetapi terkadang juga menjadi seperti api Elia dari Surga. Kita melakukannya dengan benar ketika kita marah terhadap dosa, karena kesalahan yang melawan Allah kita yang baik dan murah hati; atau terhadap diri kita sendiri, karena kita tetap bebal padahal sudah menerima banyak instruksi Ilahi; atau ketika kita marah terhadap orang-orang lain ketika satu-satunya penyebab kemarahan adalah kejahatan yang mereka lakukan. Barangsiapa tidak marah terhadap pelanggaran, berbagian dalam pelanggaran. Dosa adalah hal yang menjijikkan dan hal yang penuh kebencian, dan tidak ada hati yang sudah diperbarui dapat sabar bertahan terhadap dosa. Allah sendiri marah kepada orang jahat setiap hari, dan itu tertulis dalam Firman-Nya, \u201cHai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan!\u201d [Mazmur 97:10]. Jauh lebih sering ditakuti apabila kemarahan kita tidak terpuji maupun dapat dibenarkan, dalam hal itu kita harus menjawab, \u201cTIDAK\u201d. Kenapa kita harus kesal kepada anak-anak, mudah membentak kepada pembantu, dan murka kepada teman? Apakah kemarahan merupakan hal yang terhormat sebagai orang Kristen, ataukah memuliakan Allah? Apa itu bukan merupakan hati jahat yang lama, yang berusaha untuk mendapatkan kekuasaan, dan bukankah kita harus menolaknya dengan seluruh kekuatan dari sifat manusia baru kita? Banyak profesor memberi usul seolah-olah percuma kemarahan dilawan, tetapi biarlah orang percaya mengingat bahwa ia harus menjadi orang yang menang di dalam setiap hal, atau dia tidak dimahkotai kemenangan. Jika kita tidak dapat mengendalikan emosi kita, apa yang telah anugerah lakukan bagi kita? Seseorang berkata kepada Tuan [William] Jay, bahwa anugerah sering dicangkokkan kepada tunggul pohon apel. \u201cYa\u201d, katanya, \u201ctetapi buahnya bukan apel\u201d. Kita tidak boleh membuat kelemahan alami kita menjadi alasan untuk berbuat dosa, melainkan kita harus melarikan diri ke salib dan meminta Tuhan menyalibkan emosi kita, dan memperbaharui kita di dalam kelembutan dan kesabaran menurut gambar Allah sendiri. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Kemarahan tidak selalu merupakan dosa, tetapi cenderung berjalan dengan liar kapanpun kemarahan terjadi. Kita harusnya cepat bertanya mengenai karakter kemarahan ini, dengan mempertanyakan \u201cApakah Anda layak marah?\u201d Mungkin kita bisa menjawab, \u201cYA\u201d. Sangat sering kemarahan menjadi puntung api orang gila, tetapi terkadang juga menjadi seperti api Elia dari Surga. Kita melakukannya dengan benar ketika kita marah terhadap dosa, karena kesalahan yang melawan Allah kita yang baik dan murah hati; atau terhadap diri kita sendiri, karena kita tetap bebal padahal sudah menerima banyak instruksi Ilahi; atau ketika kita marah terhadap orang-orang lain ketika satu-satunya penyebab kemarahan adalah kejahatan yang mereka lakukan. Barangsiapa tidak marah terhadap pelanggaran, berbagian dalam pelanggaran. Dosa adalah hal yang menjijikkan dan hal yang penuh kebencian, dan tidak ada hati yang sudah diperbarui dapat sabar bertahan terhadap dosa. Allah sendiri marah kepada orang jahat setiap hari, dan itu tertulis dalam Firman-Nya, \u201cHai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan!\u201d [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Mazmur%2097:10\">Mazmur 97:10<\/a>]. Jauh lebih sering ditakuti apabila kemarahan kita tidak terpuji maupun dapat dibenarkan, dalam hal itu kita harus menjawab, \u201cTIDAK\u201d. Kenapa kita harus kesal kepada anak-anak, mudah membentak kepada pembantu, dan murka kepada teman? Apakah kemarahan merupakan hal yang terhormat sebagai orang Kristen, ataukah memuliakan Allah? Apa itu bukan merupakan hati jahat yang lama, yang berusaha untuk mendapatkan kekuasaan, dan bukankah kita harus menolaknya dengan seluruh kekuatan dari sifat manusia baru kita? Banyak profesor memberi usul seolah-olah percuma kemarahan dilawan, tetapi biarlah orang percaya mengingat bahwa ia harus menjadi orang yang menang di dalam setiap hal, atau dia tidak dimahkotai kemenangan. Jika kita tidak dapat mengendalikan emosi kita, apa yang telah anugerah lakukan bagi kita? Seseorang berkata kepada Tuan [William] Jay, bahwa anugerah sering dicangkokkan kepada tunggul pohon apel. \u201cYa\u201d, katanya, \u201ctetapi buahnya bukan apel\u201d. Kita tidak boleh membuat kelemahan alami kita menjadi alasan untuk berbuat dosa, melainkan kita harus melarikan diri ke salib dan meminta Tuhan menyalibkan emosi kita, dan memperbaharui kita di dalam kelembutan dan kesabaran menurut gambar Allah sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kemarahan tidak selalu merupakan dosa, tetapi cenderung berjalan dengan liar kapanpun kemarahan terjadi. Kita harusnya cepat bertanya mengenai karakter kemarahan ini, dengan mempertanyakan \u201cApakah Anda layak marah?\u201d Mungkin kita bisa menjawab, \u201cYA\u201d. Sangat sering kemarahan menjadi puntung api orang gila, tetapi terkadang juga menjadi seperti api Elia dari Surga. Kita melakukannya dengan benar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26748","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"7","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26748","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26748"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26748\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":69169,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26748\/revisions\/69169"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26748"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26748"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26748"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}