{"id":26776,"date":"2026-07-15T18:15:29","date_gmt":"2026-07-15T11:15:29","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/setiap-orang-yang-percaya-memperoleh-pembebasan-dari-segala-dosa-kisah-para-rasul-1339\/"},"modified":"2026-07-15T18:15:30","modified_gmt":"2026-07-15T11:15:30","slug":"setiap-orang-yang-percaya-memperoleh-pembebasan-dari-segala-dosa-kisah-para-rasul-1339","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/setiap-orang-yang-percaya-memperoleh-pembebasan-dari-segala-dosa-kisah-para-rasul-1339\/","title":{"rendered":"Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam. [Imamat 6:13]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Jagalah mezbah doa pribadi agar tetap menyala. Ini adalah inti kehidupan segala kesalehan. Tempat suci dan mezbah keluarga meminjam apinya dari sini, oleh karena itu, biarlah api doa terbakar dengan baik. Perenungan yang tersembunyi adalah inti, bukti, dan barometer, dari spiritualitas yang sangat penting dan teruji. Bakarlah di sini lemak korban sembelihanmu. Biarlah saat-saat teduh Anda sebisa mungkin teratur, sering-sering, dan tidak terganggu. Doa yang efektif akan memberi manfaat yang sangat banyak. Tidak adakah yang Anda doakan? Mari kami sarankan untuk berdoa bagi Jemaat, pelayanan, jiwamu sendiri, anak-anakmu, relasi-relasimu, tetangga-tetanggamu, negaramu, dan pemajuan nama Allah dan kebenaran-Nya di seluruh dunia. Marilah kita memeriksa diri kita tentang hal yang penting ini. Apakah kita suam-suam kuku di dalam saat teduh kita secara pribadi kepada Allah? Apakah api saat teduh terbakar redup di dalam hatimu? Apakah roda kereta api sulit berputar? Jika demikian, mari kita waspada pada tanda pembusukan ini. Mari kita pergi dengan tangisan, dan meminta Roh kasih karunia dan Roh permohonan. Mari kita menyediakan saat-saat spesial untuk doa-doa khusus. Sebab jika api ini harus tertimbun di bawah abu kenyamanan duniawi, api mezbah keluarga akan menjadi redup, dan pengaruh kita dalam Jemaat maupun dunia semakin berkurang. Kata-kata ini juga berlaku untuk mezbah hati kita. Sungguh, ini adalah mezbah emas. Allah senang melihat hati umat-Nya bersinar terhadap diri-Nya. Mari kita memberikan hati kita kepada Tuhan, semuanya berkobar dengan cinta, dan mencari anugerah-Nya, sehingga api itu tidak pernah padam; sebab api tidak akan menyala jika Allah tidak menjaganya menyala. Banyak musuh akan berusaha memadamkannya; tetapi jika tangan yang tidak terlihat di balik dinding menuangkan minyak suci, maka api akan berkobar lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Mari kita menggunakan kata-kata Kitab Suci sebagai bahan bakar (berupa bara api yang hidup) untuk api hati kita; mari kita menghadiri khotbah-khotbah, namun lebih dari segalanya, mari kita lebih banyak bersekutu pribadi dengan Yesus. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Jagalah mezbah <i>doa pribadi<\/i> agar tetap menyala. Ini adalah inti kehidupan segala kesalehan. Tempat suci dan mezbah keluarga meminjam apinya dari sini, oleh karena itu, biarlah api doa terbakar dengan baik. Perenungan yang tersembunyi adalah inti, bukti, dan barometer, dari spiritualitas yang sangat penting dan teruji. Bakarlah di sini lemak korban sembelihanmu. Biarlah saat-saat teduh Anda sebisa mungkin teratur, sering-sering, dan tidak terganggu. Doa yang efektif akan memberi manfaat yang sangat banyak. Tidak adakah yang Anda doakan? Mari kami sarankan untuk berdoa bagi Jemaat, pelayanan, jiwamu sendiri, anak-anakmu, relasi-relasimu, tetangga-tetanggamu, negaramu, dan pemajuan nama Allah dan kebenaran-Nya di seluruh dunia. Marilah kita memeriksa diri kita tentang hal yang penting ini. Apakah kita suam-suam kuku di dalam saat teduh kita secara pribadi kepada Allah? Apakah api saat teduh terbakar redup di dalam hatimu? Apakah roda kereta api sulit berputar? Jika demikian, mari kita waspada pada tanda pembusukan ini. Mari kita pergi dengan tangisan, dan meminta Roh kasih karunia dan Roh permohonan. Mari kita menyediakan saat-saat spesial untuk doa-doa khusus. Sebab jika api ini harus tertimbun di bawah abu kenyamanan duniawi, api mezbah keluarga akan menjadi redup, dan pengaruh kita dalam Jemaat maupun dunia semakin berkurang. Kata-kata ini juga berlaku untuk mezbah hati kita. Sungguh, ini adalah mezbah emas. Allah senang melihat hati umat-Nya bersinar terhadap diri-Nya. Mari kita memberikan hati kita kepada Tuhan, semuanya berkobar dengan cinta, dan mencari anugerah-Nya, sehingga api itu tidak pernah padam; sebab api tidak akan menyala jika Allah tidak menjaganya menyala. Banyak musuh akan berusaha memadamkannya; tetapi jika tangan yang tidak terlihat di balik dinding menuangkan minyak suci, maka api akan berkobar lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Mari kita menggunakan kata-kata Kitab Suci sebagai bahan bakar (berupa bara api yang hidup) untuk api hati kita; mari kita menghadiri khotbah-khotbah, namun lebih dari segalanya, mari kita lebih banyak bersekutu pribadi dengan Yesus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Jagalah mezbah doa pribadi agar tetap menyala. Ini adalah inti kehidupan segala kesalehan. Tempat suci dan mezbah keluarga meminjam apinya dari sini, oleh karena itu, biarlah api doa terbakar dengan baik. Perenungan yang tersembunyi adalah inti, bukti, dan barometer, dari spiritualitas yang sangat penting dan teruji. Bakarlah di sini lemak korban sembelihanmu. Biarlah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26776","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"10","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26776","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26776"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26776\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":69173,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26776\/revisions\/69173"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26776"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26776"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26776"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}