{"id":26823,"date":"2026-07-22T18:16:02","date_gmt":"2026-07-22T11:16:02","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/dibawa-nya-mereka-menempuh-jalan-yang-lurus-mazmur-1077\/"},"modified":"2026-07-22T18:16:04","modified_gmt":"2026-07-22T11:16:04","slug":"dibawa-nya-mereka-menempuh-jalan-yang-lurus-mazmur-1077","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/dibawa-nya-mereka-menempuh-jalan-yang-lurus-mazmur-1077\/","title":{"rendered":"Aku telah menjadi tuan atas kamu. [Yeremia 3:14]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kristus Yesus digabungkan bersama umat-Nya di dalam kesatuan pernikahan. Dalam kasih Dia menikahi Jemaat-Nya sebagai perawan suci, jauh sebelum Jemaat jatuh di dalam kuk perhambaan. Dia bekerja keras dengan penuh bara kasih sayang seperti yang dilakukan Yakub demi Rahel, hingga seluruh harga pembeliannya dilunasi, dan sekarang, setelah menemukan Jemaat melalui Roh-Nya, dan membawa Jemaat untuk mengenal dan mencintai-Nya, Dia menunggu saat-saat yang mulia ketika kebahagiaan mereka disempurnakan pada perjamuan kawin Anak Domba. Mempelai laki-laki yang mulia belum mempersembahkan kelengkapan dan kesempurnaan tunangannya di hadapan Keagungan surga; Belum pula mempelai wanita benar-benar memasuki kenikmatan martabat sebagai istri-Nya dan sang ratu: dia masih seperti pengembara di dunia celaka, penghuni kemah-kemah Kedar; tetapi saat ini pun, dia adalah pengantin, mempelai Yesus, dekat dengan hati-Nya, berharga di mata-Nya, tertulis di tangan-Nya, dan bersatu dengan pribadi-Nya. Di atas bumi, Tuhan memberikan semua kasih sayang-Nya kepada mempelai perempuan sebagai Suami. Tuhan memberi rezeki yang melimpah untuk keinginan mempelai tersebut, membayar semua hutangnya, mengizinkannya untuk mengadopsi nama-Nya, dan ambil bagian dalam kekayaan-Nya. Tidak pernah Dia bertindak sebaliknya padanya. Kata cerai tidak pernah Dia sebutkan, sebab \u201cDia membenci perceraian.\u201d [Maleakhi 2:16] Kematian harus memutuskan ikatan perkawinan antara ciptaan-ciptaan yang paling saling mengasihi sekalipun, tetapi tidak bisa memutus hubungan dalam pernikahan yang kekal ini. Di dalam surga, mereka tidak menikah, melainkan seperti malaikat-malaikat Allah; tetapi ada satu pengecualian menakjubkan terhadap peraturan ini, bahwa di dalam Surga, Kristus dan Jemaat-Nya akan merayakan upacara pernikahan yang penuh sukacita. Kedekatan ini akan bertahan lama, sehingga lebih dekat daripada pernikahan duniawi. Meskipun cinta seorang suami [duniawi] tidak akan pernah menjadi sedemikian murni dan sungguh-sungguh, biarlah ini menjadi gambaran redup api yang membakar di dalam hati Yesus. Melampaui semua pernikahan manusia, terjadi keterikatan mistis terhadap Jemaat, yang mana Kristus meninggalkan Bapa-Nya, dan menjadi satu daging dengan Jemaat. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Kristus Yesus digabungkan bersama umat-Nya di dalam kesatuan pernikahan. Dalam kasih Dia menikahi Jemaat-Nya sebagai perawan suci, jauh sebelum Jemaat jatuh di dalam kuk perhambaan. Dia bekerja keras dengan penuh bara kasih sayang seperti yang dilakukan Yakub demi Rahel, hingga seluruh harga pembeliannya dilunasi, dan sekarang, setelah menemukan Jemaat melalui Roh-Nya, dan membawa Jemaat untuk mengenal dan mencintai-Nya, Dia menunggu saat-saat yang mulia ketika kebahagiaan mereka disempurnakan pada perjamuan kawin Anak Domba. Mempelai laki-laki yang mulia belum mempersembahkan kelengkapan dan kesempurnaan tunangannya di hadapan Keagungan surga; Belum pula mempelai wanita benar-benar memasuki kenikmatan martabat sebagai istri-Nya dan sang ratu: dia masih seperti pengembara di dunia celaka, penghuni kemah-kemah Kedar; tetapi saat ini pun, dia adalah pengantin, mempelai Yesus, dekat dengan hati-Nya, berharga di mata-Nya, tertulis di tangan-Nya, dan bersatu dengan pribadi-Nya. Di atas bumi, Tuhan memberikan semua kasih sayang-Nya kepada mempelai perempuan sebagai Suami. Tuhan memberi rezeki yang melimpah untuk keinginan mempelai tersebut, membayar semua hutangnya, mengizinkannya untuk mengadopsi nama-Nya, dan ambil bagian dalam kekayaan-Nya. Tidak pernah Dia bertindak sebaliknya padanya. Kata cerai tidak pernah Dia sebutkan, sebab \u201cDia membenci perceraian.\u201d [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Maleakhi%202:16\">Maleakhi 2:16<\/a>] Kematian harus memutuskan ikatan perkawinan antara ciptaan-ciptaan yang paling saling mengasihi sekalipun, tetapi tidak bisa memutus hubungan dalam pernikahan yang kekal ini. Di dalam surga, mereka tidak menikah, melainkan seperti malaikat-malaikat Allah; tetapi ada satu pengecualian menakjubkan terhadap peraturan ini, bahwa di dalam Surga, Kristus dan Jemaat-Nya akan merayakan upacara pernikahan yang penuh sukacita. Kedekatan ini akan bertahan lama, sehingga lebih dekat daripada pernikahan duniawi. Meskipun cinta seorang suami [duniawi] tidak akan pernah menjadi sedemikian murni dan sungguh-sungguh, biarlah ini menjadi gambaran redup api yang membakar di dalam hati Yesus. Melampaui semua pernikahan manusia, terjadi keterikatan mistis terhadap Jemaat, yang mana Kristus meninggalkan Bapa-Nya, dan menjadi satu daging dengan Jemaat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kristus Yesus digabungkan bersama umat-Nya di dalam kesatuan pernikahan. Dalam kasih Dia menikahi Jemaat-Nya sebagai perawan suci, jauh sebelum Jemaat jatuh di dalam kuk perhambaan. Dia bekerja keras dengan penuh bara kasih sayang seperti yang dilakukan Yakub demi Rahel, hingga seluruh harga pembeliannya dilunasi, dan sekarang, setelah menemukan Jemaat melalui Roh-Nya, dan membawa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26823","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"7","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26823","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26823"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26823\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":69188,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26823\/revisions\/69188"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26823"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26823"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26823"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}