{"id":26837,"date":"2026-07-25T18:15:30","date_gmt":"2026-07-25T11:15:30","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/jangan-tinggalkan-aku-ya-tuhan-mazmur-3821\/"},"modified":"2026-07-25T18:15:31","modified_gmt":"2026-07-25T11:15:31","slug":"jangan-tinggalkan-aku-ya-tuhan-mazmur-3821","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/jangan-tinggalkan-aku-ya-tuhan-mazmur-3821\/","title":{"rendered":"Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar. [Kejadian 39:12]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Di dalam menghadapi dosa-dosa tertentu, tidak ada modus kemenangan kecuali dengan melarikan diri. Naturalis kuno menulis banyak tentang ular beludak, yang matanya mempesona korban-korbannya dan menjadikan mereka mudah dimangsa; maka, tatapan kejahatan saja dapat menempatkan kita di dalam bahaya yang serius. Dia yang ingin selamat dari kejahatan harus dengan cepat pergi menjauh ketika kejahatan terjadi. Sebuah perjanjian haruslah dibuat dengan mata kita untuk bahkan tidak melihat penyebab dari godaan, karena dosa-dosa semacam itu hanya membutuhkan percikan api untuk memulainya dan kobaran api segera mengikutinya. Siapakah yang dengan ceroboh masuk ke dalam penjara penyandang penyakit kusta dan tidur di tengah kebusukannya yang mengerikan? Hanya dia yang berkeinginan menjadi kusta saja yang akan menghampiri penularan. Jika seorang pelaut tahu bagaimana cara untuk menghindari badai, dia akan melakukan segalanya daripada harus mengambil resiko untuk menerjangnya. Seorang pengemudi tidak memiliki keinginan untuk mencoba-coba seberapa dekat dengan pasir hisap ia dapat berlayar, atau seberapa sering mereka dapat menyentuh batu tanpa menimbulkan kebocoran; tujuan mereka adalah untuk berada sedekat mungkin di tengah kanal yang aman. Hari ini saya mungkin terancam bahaya besar, biarkan saya memiliki hikmat seperti ular untuk keluar darinya dan menghindarinya. Sayap merpati mungkin lebih berguna bagi saya hari ini daripada rahang singa. Memang benar saya kelihatan menjadi pecundang karena menolak berteman dengan kejahatan, tetapi saya lebih baik meninggalkan jubah saya daripada kehilangan karakter saya; tidaklah perlu saya menjadi kaya, tetapi sangat penting bagi saya untuk menjadi murni. Tidak ada ikatan persahabatan, tidak ada rantai keindahan, tidak ada kedipan talenta, tidak ada poros ejekan yang bisa membuat saya berhenti melaksanakan ketetapan hati yang bijak ini untuk melarikan diri dari dosa. Iblis akan kulawan, maka ia akan lari dari padaku [Yak 4:7], tetapi mengenai hawa nafsu daging, saya harus lari, atau mereka pasti akan menguasai saya. Oh Allah yang kudus topanglah Yusuf-Yusuf-Mu, supaya Madam Bubble [penyihir dalam Pilgrim&#039;s Progress] tidak menyihir mereka dengan rayuannya yang busuk. Biarlah trinitas [ketiga hal] dunia, daging, dan setan yang mengerikan ini tidak pernah mengalahkan kita! RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Di dalam menghadapi dosa-dosa tertentu, tidak ada modus kemenangan kecuali dengan melarikan diri. Naturalis kuno menulis banyak tentang ular beludak, yang matanya mempesona korban-korbannya dan menjadikan mereka mudah dimangsa; maka, tatapan kejahatan saja dapat menempatkan kita di dalam bahaya yang serius. Dia yang ingin selamat dari kejahatan harus dengan cepat pergi menjauh ketika kejahatan terjadi. Sebuah perjanjian haruslah dibuat dengan mata kita untuk bahkan tidak melihat penyebab dari godaan, karena dosa-dosa semacam itu hanya membutuhkan percikan api untuk memulainya dan kobaran api segera mengikutinya. Siapakah yang dengan ceroboh masuk ke dalam penjara penyandang penyakit kusta dan tidur di tengah kebusukannya yang mengerikan? Hanya dia yang berkeinginan menjadi kusta saja yang akan menghampiri penularan. Jika seorang pelaut tahu bagaimana cara untuk menghindari badai, dia akan melakukan segalanya daripada harus mengambil resiko untuk menerjangnya. Seorang pengemudi tidak memiliki keinginan untuk mencoba-coba seberapa dekat dengan pasir hisap ia dapat berlayar, atau seberapa sering mereka dapat menyentuh batu tanpa menimbulkan kebocoran; tujuan mereka adalah untuk berada sedekat mungkin di tengah kanal yang aman. Hari ini saya mungkin terancam bahaya besar, biarkan saya memiliki hikmat seperti ular untuk keluar darinya dan menghindarinya. Sayap merpati mungkin lebih berguna bagi saya hari ini daripada rahang singa. Memang benar saya kelihatan menjadi pecundang karena menolak berteman dengan kejahatan, tetapi saya lebih baik meninggalkan jubah saya daripada kehilangan karakter saya; tidaklah perlu saya menjadi kaya, tetapi sangat penting bagi saya untuk menjadi murni. Tidak ada ikatan persahabatan, tidak ada rantai keindahan, tidak ada kedipan talenta, tidak ada poros ejekan yang bisa membuat saya berhenti melaksanakan ketetapan hati yang bijak ini untuk melarikan diri dari dosa. Iblis akan kulawan, maka ia akan lari dari padaku [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Yak%204:7\">Yak 4:7<\/a>], tetapi mengenai hawa nafsu daging, <i>saya<\/i> harus lari, atau mereka pasti akan menguasai saya. Oh Allah yang kudus topanglah Yusuf-Yusuf-Mu, supaya Madam Bubble [penyihir dalam Pilgrim&#8217;s Progress] tidak menyihir mereka dengan rayuannya yang busuk. Biarlah trinitas [ketiga hal] dunia, daging, dan setan yang mengerikan ini tidak pernah mengalahkan kita!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Di dalam menghadapi dosa-dosa tertentu, tidak ada modus kemenangan kecuali dengan melarikan diri. Naturalis kuno menulis banyak tentang ular beludak, yang matanya mempesona korban-korbannya dan menjadikan mereka mudah dimangsa; maka, tatapan kejahatan saja dapat menempatkan kita di dalam bahaya yang serius. Dia yang ingin selamat dari kejahatan harus dengan cepat pergi menjauh ketika [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26837","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"4","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26837","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26837"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26837\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":69196,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26837\/revisions\/69196"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26837"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26837"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26837"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}