{"id":26865,"date":"2026-07-28T18:17:10","date_gmt":"2026-07-28T11:17:10","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/engkau-membenci-kefasikan-mazmur-457\/"},"modified":"2026-07-28T18:17:11","modified_gmt":"2026-07-28T11:17:11","slug":"engkau-membenci-kefasikan-mazmur-457","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/engkau-membenci-kefasikan-mazmur-457\/","title":{"rendered":"Aku bodoh dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. [Mazmur 73:22]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ingat, ini adalah pengakuan seseorang yang berkenan di hati Allah [1 Sam 13:14]; dan saat menceritakan kehidupan batinnya, dia menuliskan, \u201cAku bodoh dan tidak mengerti\u201d. Kata \u201cbodoh,\u201d di sini bermakna lebih banyak daripada makna dalam bahasa sehari-hari. Daud, dalam ayat Mazmur sebelumnya menulis \u201cAku cemburu kepada pembual-pembual [orang bodoh], kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik\u201d [Maz 73:3] yang menunjukkan bahwa kebodohan yang dimaksud ada dosa di dalamnya. Dia menempatkan dirinya rendah seperti yang \u201cbodoh\u201d, dan menambahkan sebuah kata yang memberi kekuatan pada kata itu; \u201cAku begitu bodoh [So foolish was I, KJV].\u201d Seberapa bodohnya dia sampai tidak bisa mengatakannya. Ini kebodohan yang berdosa, kebodohan yang tidak dapat dimaafkan karena kelemahan, tapi harus dihukum karena kebusukan dan ketidakpedulian yang disengaja. Dia telah iri hati pada kemakmuran orang fasik, dan melupakan bagaimana mereka akan berakhir secara mengerikan. Dan apakah kita lebih baik dari Daud sehingga kita menyebut diri kita bijaksana! Apakah kita mengakui bahwa kita telah mencapai kesempurnaan, atau telah dihukum terlalu banyak sehingga tongkat penghukuman telah mengambil semua kesengajaan kita ke luar? Ah, ini adalah kesombongan! Jika Daud saja bodoh, betapa bodohnya kita dalam menilai diri ketika kita melihat diri sendiri! Lihatlah ke belakang, hai orang percaya: pikirkan Anda yang meragukan Allah ketika Dia telah begitu setia kepada Anda\u2014pikirkan jeritan bodoh Anda \u201cJanganlah demikian, ayahku\u201d [Kej 48:18], ketika Dia menyilangkan tangan-Nya di dalam penderitaan untuk memberikan Anda berkat yang lebih besar; pikirkan sudah berapa kali Anda telah melihat pemeliharaan-Nya dalam kegelapan, menyalahartikan kelonggaran-Nya, dan mengerang, \u201cSegala perkara ini melawan aku\u201d [Kejadian 42:36], saat semuanya bekerja sama untuk kebaikan Anda! Pikirkan betapa seringnya Anda memilih dosa karena kenikmatannya, padahal, kenikmatan itu adalah akar dari kepahitan pada diri Anda! Tentunya jika kita tahu hati kita sendiri, kita harus mengaku bersalah atas tuduhan melakukan kebodohan yang berdosa; dan setelah sadar akan \u201ckebodohan\u201d ini, kita harus menjadikan ketetapan hati Daud ini milik kita\u2014Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku.\u201d [Maz 73:24] RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Ingat, ini adalah pengakuan seseorang yang berkenan di hati Allah [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?1%20Sam%2013:14\">1 Sam 13:14<\/a>]; dan saat menceritakan kehidupan batinnya, dia menuliskan, \u201cAku bodoh dan tidak mengerti\u201d. Kata \u201c<i>bodoh<\/i>,\u201d di sini bermakna lebih banyak daripada makna dalam bahasa sehari-hari. Daud, dalam ayat Mazmur sebelumnya menulis \u201cAku cemburu kepada <i>pembual-pembual<\/i> [orang bodoh], kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik\u201d [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Maz%2073:3\">Maz 73:3<\/a>] yang menunjukkan bahwa kebodohan yang dimaksud ada dosa di dalamnya. Dia menempatkan dirinya rendah seperti yang \u201cbodoh\u201d, dan menambahkan sebuah kata yang memberi kekuatan pada kata itu; \u201cAku begitu bodoh [So foolish was I, KJV].\u201d <i>Seberapa bodohnya<\/i> dia sampai tidak bisa mengatakannya. Ini kebodohan yang berdosa, kebodohan yang tidak dapat dimaafkan karena kelemahan, tapi harus dihukum karena kebusukan dan ketidakpedulian yang disengaja. Dia telah iri hati pada kemakmuran orang fasik, dan melupakan bagaimana mereka akan berakhir secara mengerikan. Dan apakah kita lebih baik dari Daud sehingga kita menyebut diri kita bijaksana! Apakah kita mengakui bahwa kita telah mencapai kesempurnaan, atau telah dihukum terlalu banyak sehingga tongkat penghukuman telah mengambil semua kesengajaan kita ke luar? Ah, ini adalah kesombongan! Jika <i>Daud<\/i> saja bodoh, betapa bodohnya kita dalam menilai diri ketika kita melihat diri sendiri! Lihatlah ke belakang, hai orang percaya: pikirkan Anda yang meragukan Allah ketika Dia telah begitu setia kepada Anda\u2014pikirkan jeritan bodoh Anda \u201cJanganlah demikian, ayahku\u201d [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Kej%2048:18\">Kej 48:18<\/a>], ketika Dia menyilangkan tangan-Nya di dalam penderitaan untuk memberikan Anda berkat yang lebih besar; pikirkan sudah berapa kali Anda telah melihat pemeliharaan-Nya dalam kegelapan, menyalahartikan kelonggaran-Nya, dan mengerang, \u201cSegala perkara ini melawan aku\u201d [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Kejadian%2042:36\">Kejadian 42:36<\/a>], saat semuanya bekerja sama untuk kebaikan Anda! Pikirkan betapa seringnya Anda memilih dosa karena kenikmatannya, padahal, kenikmatan itu adalah akar dari kepahitan pada diri Anda! Tentunya jika kita tahu hati kita sendiri, kita harus mengaku bersalah atas tuduhan melakukan kebodohan yang berdosa; dan setelah sadar akan \u201ckebodohan\u201d ini, kita harus menjadikan ketetapan hati Daud ini milik kita\u2014<i>Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku<\/i>.\u201d [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Maz%2073:24\">Maz 73:24<\/a>]<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ingat, ini adalah pengakuan seseorang yang berkenan di hati Allah [1 Sam 13:14]; dan saat menceritakan kehidupan batinnya, dia menuliskan, \u201cAku bodoh dan tidak mengerti\u201d. Kata \u201cbodoh,\u201d di sini bermakna lebih banyak daripada makna dalam bahasa sehari-hari. Daud, dalam ayat Mazmur sebelumnya menulis \u201cAku cemburu kepada pembual-pembual [orang bodoh], kalau aku melihat kemujuran [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26865","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","comment_count":0,"views":"15","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26865","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26865"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26865\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":69202,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26865\/revisions\/69202"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26865"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26865"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26865"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}