{"id":26874,"date":"2025-08-04T18:15:29","date_gmt":"2025-08-04T11:15:29","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/jadilah-petang-dan-jadilah-pagi-itulah-hari-pertama-kej-15\/"},"modified":"2025-08-04T18:15:31","modified_gmt":"2025-08-04T11:15:31","slug":"jadilah-petang-dan-jadilah-pagi-itulah-hari-pertama-kej-15","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/jadilah-petang-dan-jadilah-pagi-itulah-hari-pertama-kej-15\/","title":{"rendered":"Tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat. [Daniel 11:32]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Setiap orang percaya mengerti bahwa pengenalan akan Tuhan adalah bentuk pengetahuan yang terbaik dan tertinggi; dan pengetahuan rohani ini adalah sumber kekuatan orang Kristen. Ini memperkuat imannya. Orang percaya terus-menerus disebut di dalam Alkitab sebagai orang yang mendapat pencerahan dan diajar oleh Tuhan; mereka disebut &quot;beroleh pengurapan dari Yang Kudus,&quot; [1Yoh 2:20] dan memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran [Yoh 16:13] adalah jabatan khusus dari Roh Kudus, dan semuanya ini demi pertumbuhan dan pembinaan iman mereka. Pengetahuan memperkuat kasih, sekaligus iman. Pengetahuan membuka pintu, dan melalui pintu itu kita melihat Juruselamat kita. Atau, dengan perumpamaan lain, pengetahuan melukiskan wajah Yesus, dan ketika kita melihat wajah-Nya, kita mencintai Dia, kita tidak mampu mengasihi Kristus yang kita tidak kenal sama sekali. Jika kita tahu sedikit saja kesempurnaan Yesus, apa yang sudah Dia lakukan bagi kita, dan apa yang sedang Dia lakukan, kita tidak mampu mencintai Dia dengan sepenuh hati; namun semakin kita mengenal-Nya, semakin kita mencintai-Nya. Pengetahuan juga memperkuat pengharapan. Bagaimana kita bisa mengharapkan sesuatu jika kita tidak tahu bahwa itu ada? Bisa saja harapan adalah teleskop, tapi sampai kita menerima instruksi, kebodohan kita merupakan penghalang di depan lensa teleskop, sehingga kita tidak dapat melihat apapun; pengetahuan menyingkirkan obyek penghalang itu, dan ketika kita melihat melalui lensa yang terang itu, kita memahami kemuliaan yang akan dinyatakan, dan menantikannya dengan keyakinan penuh sukacita. Pengetahuan memberi kita alasan untuk bersabar. Bagaimana kita bisa bersabar kecuali kita mengenal sesuatu mengenai simpati Kristus, dan mengerti kebaikan yang akan datang dari didikan keras yang berasal dari Bapa kita di surga? Tidak ada satupun karunia pada orang Kristen yang, dalam kuasa Allah, tidak akan dibina dan disempurnakan oleh pengetahuan kudus. Maka, betapa pentingnya, kita tumbuh tidak hanya dalam anugrah, namun dalam &quot;pengetahuan&quot; tentang Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Setiap orang percaya mengerti bahwa pengenalan akan Tuhan adalah bentuk pengetahuan yang terbaik dan tertinggi; dan pengetahuan rohani ini adalah sumber kekuatan orang Kristen. Ini memperkuat <i>imannya<\/i>. Orang percaya terus-menerus disebut di dalam Alkitab sebagai orang yang mendapat pencerahan dan diajar oleh Tuhan; mereka disebut &#8220;beroleh pengurapan dari Yang Kudus,&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?1Yoh%202:20\">1Yoh 2:20<\/a>] dan memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Yoh%2016:13\">Yoh 16:13<\/a>] adalah jabatan khusus dari Roh Kudus, dan semuanya ini demi pertumbuhan dan pembinaan iman mereka. Pengetahuan memperkuat <i>kasih<\/i>, sekaligus iman. Pengetahuan membuka pintu, dan melalui pintu itu kita melihat Juruselamat kita. Atau, dengan perumpamaan lain, pengetahuan melukiskan wajah Yesus, dan ketika kita melihat wajah-Nya, kita mencintai Dia, kita tidak mampu mengasihi Kristus yang kita tidak kenal sama sekali. Jika kita tahu sedikit saja kesempurnaan Yesus, apa yang sudah Dia lakukan bagi kita, dan apa yang sedang Dia lakukan, kita tidak mampu mencintai Dia dengan sepenuh hati; namun semakin kita mengenal-Nya, semakin kita mencintai-Nya. Pengetahuan juga memperkuat <i>pengharapan<\/i>. Bagaimana kita bisa mengharapkan sesuatu jika kita tidak tahu bahwa itu ada? Bisa saja harapan adalah teleskop, tapi sampai kita menerima instruksi, kebodohan kita merupakan penghalang di depan lensa teleskop, sehingga kita tidak dapat melihat apapun; pengetahuan menyingkirkan obyek penghalang itu, dan ketika kita melihat melalui lensa yang terang itu, kita memahami kemuliaan yang akan dinyatakan, dan menantikannya dengan keyakinan penuh sukacita. Pengetahuan memberi kita alasan untuk <i>bersabar<\/i>. Bagaimana kita bisa bersabar kecuali kita mengenal sesuatu mengenai simpati Kristus, dan mengerti kebaikan yang akan datang dari didikan keras yang berasal dari Bapa kita di surga? Tidak ada satupun karunia pada orang Kristen yang, dalam kuasa Allah, tidak akan dibina dan disempurnakan oleh pengetahuan kudus. Maka, betapa pentingnya, kita tumbuh tidak hanya dalam anugrah, namun dalam &#8220;pengetahuan&#8221; tentang Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Setiap orang percaya mengerti bahwa pengenalan akan Tuhan adalah bentuk pengetahuan yang terbaik dan tertinggi; dan pengetahuan rohani ini adalah sumber kekuatan orang Kristen. Ini memperkuat imannya. Orang percaya terus-menerus disebut di dalam Alkitab sebagai orang yang mendapat pencerahan dan diajar oleh Tuhan; mereka disebut &#8220;beroleh pengurapan dari Yang Kudus,&#8221; [1Yoh 2:20] dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26874","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"162","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26874","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26874"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26874\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68023,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26874\/revisions\/68023"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26874"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26874"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26874"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}