{"id":26930,"date":"2025-08-13T18:18:12","date_gmt":"2025-08-13T11:18:12","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kita-hidup-untuk-tuhan-roma-148\/"},"modified":"2025-08-13T18:18:14","modified_gmt":"2025-08-13T11:18:14","slug":"kita-hidup-untuk-tuhan-roma-148","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kita-hidup-untuk-tuhan-roma-148\/","title":{"rendered":"Pohon-pohon aras di Libanon yang ditanam-Nya. [Maz 104:16]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Pohon-pohon aras melambangkan orang Kristen, bahwa mereka menggantungkan keseluruhan penanamannya kepada Tuhan. Ini cukup benar bagi setiap anak Allah. Ia bukan ditanam manusia, atau ditanam diri sendiri, melainkan ditanam Allah. Tangan misterius Roh ilahi menjatuhkan benih kehidupan ke dalam hati yang Ia sendiri persiapkan untuk menerimanya. Setiap pewaris sejati surga memiliki Petani agung sebagai penanamnya. Dan lagi, pohon-pohon aras di Libanon tidak bergantung pada manusia untuk pengairannya; mereka berdiri pada batu mulia, tidak dibasahi oleh pengairan manusia; namun Bapa surgawi kita menyediakan untuk mereka. Begitu pula orang Kristen yang telah belajar untuk hidup melalui iman. Ia tidak bergantung pada manusia, bahkan pada hal-hal sementara; untuk kelangsungan pemeliharaannya ia melihat kepada Tuhan Allahnya, dan hanya kepada-Nya. Embun surga adalah bagiannya, dan Allah surgawi adalah mata airnya. Lagi, pohon-pohon aras di Libanon tidak dilindungi oleh kekuatan fana apapun. Pohon-pohon aras tidak berhutang apapun pada manusia untuk pemeliharaannya dari angin ribut dan badai. Mereka adalah pohon-pohon milik Allah, dijaga dan dilindungi oleh-Nya, dan hanya oleh Dia. Benar-benar persis seperti orang Kristen. Ia bukanlah tanaman rumah kaca, terlindungi dari godaan; ia berdiri di tempat yang paling terbuka; ia tidak ada tempat berteduh, tidak ada perlindungan, kecuali ini, bahwa sayap-sayap lebar Allah yang kekal selalu menudungi pohon-pohon aras yang telah Ia tanam sendiri. Seperti pohon-pohon aras, orang-orang percaya penuh dengan getah, memiliki daya tahan yang cukup untuk tetap hijau, meski di tengah salju musim dingin. Akhirnya, keadaan pohon-pohon aras yang bertumbuh dan megah adalah untuk memuji Allah semata. Tuhan, bahkan Tuhan sendiri yang telah menjadi segalanya bagi pohon aras, dan, oleh karena itu Daud dengan manis menuliskannya di salah satu Mazmur, &quot;Pujilah TUHAN, pohon buah-buahan dan segala pohon aras.&quot; [Maz 148:9] Dalam orang percaya tidak ada yang dapat mengagungkan manusia; ia ditanam, dipelihara, dan dijaga oleh tangan Tuhan sendiri, dan bagi Dia segala kemuliaan ditujukan. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Pohon-pohon aras melambangkan orang Kristen, bahwa <i>mereka menggantungkan keseluruhan penanamannya kepada Tuhan<\/i>. Ini cukup benar bagi setiap anak Allah. Ia bukan ditanam manusia, atau ditanam diri sendiri, melainkan ditanam Allah. Tangan misterius Roh ilahi menjatuhkan benih kehidupan ke dalam hati yang Ia sendiri persiapkan untuk menerimanya. Setiap pewaris sejati surga memiliki Petani agung sebagai penanamnya. Dan lagi, pohon-pohon aras di Libanon <i>tidak bergantung pada manusia untuk pengairannya<\/i>; mereka berdiri pada batu mulia, tidak dibasahi oleh pengairan manusia; namun Bapa surgawi kita menyediakan untuk mereka. Begitu pula orang Kristen yang telah belajar untuk hidup melalui iman. Ia tidak bergantung pada manusia, bahkan pada hal-hal sementara; untuk kelangsungan pemeliharaannya ia melihat kepada Tuhan Allahnya, dan hanya kepada-Nya. Embun surga adalah bagiannya, dan Allah surgawi adalah mata airnya. Lagi, pohon-pohon aras di Libanon <i>tidak dilindungi oleh kekuatan fana apapun<\/i>. Pohon-pohon aras tidak berhutang apapun pada manusia untuk pemeliharaannya dari angin ribut dan badai. Mereka adalah pohon-pohon milik Allah, dijaga dan dilindungi oleh-Nya, dan hanya oleh Dia. Benar-benar persis seperti orang Kristen. Ia bukanlah tanaman rumah kaca, terlindungi dari godaan; ia berdiri di tempat yang paling terbuka; ia tidak ada tempat berteduh, tidak ada perlindungan, kecuali ini, bahwa sayap-sayap lebar Allah yang kekal selalu menudungi pohon-pohon aras yang telah Ia tanam sendiri. Seperti pohon-pohon aras, orang-orang percaya <i>penuh dengan getah<\/i>, memiliki daya tahan yang cukup untuk tetap hijau, meski di tengah salju musim dingin. Akhirnya, keadaan pohon-pohon aras yang bertumbuh dan megah <i>adalah untuk memuji Allah semata<\/i>. Tuhan, bahkan Tuhan sendiri yang telah menjadi segalanya bagi pohon aras, dan, oleh karena itu Daud dengan manis menuliskannya di salah satu Mazmur, &#8220;Pujilah TUHAN, pohon buah-buahan dan segala pohon aras.&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Maz%20148:9\">Maz 148:9<\/a>] Dalam orang percaya tidak ada yang dapat mengagungkan manusia; ia ditanam, dipelihara, dan dijaga oleh tangan Tuhan sendiri, dan bagi Dia segala kemuliaan ditujukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Pohon-pohon aras melambangkan orang Kristen, bahwa mereka menggantungkan keseluruhan penanamannya kepada Tuhan. Ini cukup benar bagi setiap anak Allah. Ia bukan ditanam manusia, atau ditanam diri sendiri, melainkan ditanam Allah. Tangan misterius Roh ilahi menjatuhkan benih kehidupan ke dalam hati yang Ia sendiri persiapkan untuk menerimanya. Setiap pewaris sejati surga memiliki Petani agung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26930","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"291","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26930","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26930"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26930\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68052,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26930\/revisions\/68052"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26930"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26930"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26930"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}