{"id":26963,"date":"2025-10-20T18:15:41","date_gmt":"2025-10-20T11:15:41","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/tekel-tuanku-ditimbang-dengan-neraca-dan-didapati-terlalu-ringan-dan-527\/"},"modified":"2025-10-20T18:15:43","modified_gmt":"2025-10-20T11:15:43","slug":"tekel-tuanku-ditimbang-dengan-neraca-dan-didapati-terlalu-ringan-dan-527","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/tekel-tuanku-ditimbang-dengan-neraca-dan-didapati-terlalu-ringan-dan-527\/","title":{"rendered":"Bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia. [Efesus 4:15]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Banyak orang Kristen tetap terhambat pertumbuhannya dan kerdil dalam hal-hal rohani, sehingga menunjukkan penampilan yang sama tahun demi tahun. Tidak ada merekahnya perasaan yang lebih lanjut dan sempurna yang terwujud dalam diri mereka. Mereka hadir tetapi tidak &quot;bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia.&quot; Namun haruskah kita puas menjadi &quot;tangkai,&quot; ketika kita mungkin menjadi &quot;bulir,&quot; dan akhirnya matang menjadi &quot;butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu?&quot; [Markus 4:28] Haruskah kita puas percaya kepada Kristus, dan mengatakan, &quot;Saya aman,&quot; tanpa ingin mengenal lebih dalam melalui pengalaman pribadi kita sendiri akan kepenuhan yang ditemukan dalam Dia? Seharusnya tidak demikian; sebagai para pedagang yang baik di pasar surgawi, kita harus mendambakan untuk diperkaya dalam pengenalan akan Yesus. Tentu baik untuk menjaga kebun-kebun anggur orang lain, tetapi kita tidak boleh mengabaikan pertumbuhan dan pematangan rohani kita sendiri. Mengapa hati kita selalu berada dalam musim dingin? Kita harus memiliki waktu untuk menabur benih kita, itu memang benar, tapi Oh waktu musim semi\u2014ya, musim panas, yang akan menjanjikan panen awal. Jika kita ingin matang dalam kasih karunia, kita harus hidup dekat dengan Yesus\u2014dalam kehadiran-Nya\u2014matang oleh sinar matahari senyum-Nya. Kita harus manis bersekutu dengan-Nya. Kita tidak lagi memandang dari jauh wajah-Nya melainkan mendekat, seperti yang Yohanes lakukan, dan menyandarkan kepala kita di dada-Nya; maka kita akan melihat diri kita semakin maju dalam kekudusan, dalam kasih, dalam iman, dalam pengharapan\u2014ya, dalam setiap karunia yang berharga. Seperti matahari yang terbit lebih dulu di puncak gunung dan melingkupinya dengan terangnya, dan menyajikan salah satu pemandangan yang paling memikat mata seorang pelancong; demikian juga, salah satu pemikiran yang paling menyenangkan di dunia adalah menyimak kilau cahaya Roh di atas kepala orang kudus, yang telah bertumbuh dalam perawakan rohani, seperti Saulus yang bertumbuh lebih dari rekan-rekannya, hingga, seperti puncak pengunungan Alpen yang terbungkus salju, Saulus yang lebih dulu di antara yang terpilih, mencerminkan sinar Matahari Kebenaran, dan mengangkat tinggi kecemerlangan kilau-Nya untuk dilihat semua orang, dan semua orang yang melihatnya memuliakan Bapa yang di sorga. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Banyak orang Kristen tetap terhambat pertumbuhannya dan kerdil dalam hal-hal rohani, sehingga menunjukkan penampilan yang sama tahun demi tahun. Tidak ada merekahnya perasaan yang lebih lanjut dan sempurna yang terwujud dalam diri mereka. Mereka hadir tetapi tidak &#8220;<i>bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia.<\/i>&#8221; Namun haruskah kita puas menjadi &#8220;tangkai,&#8221; ketika kita mungkin menjadi &#8220;bulir,&#8221; dan akhirnya matang menjadi &#8220;butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu?&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Markus%204:28\">Markus 4:28<\/a>] Haruskah kita puas percaya kepada Kristus, dan mengatakan, &#8220;Saya aman,&#8221; tanpa ingin mengenal lebih dalam melalui pengalaman pribadi kita sendiri akan kepenuhan yang ditemukan dalam Dia? Seharusnya tidak demikian; sebagai para pedagang yang baik di pasar surgawi, kita harus mendambakan untuk diperkaya dalam pengenalan akan Yesus. Tentu baik untuk menjaga kebun-kebun anggur orang lain, tetapi kita tidak boleh mengabaikan pertumbuhan dan pematangan rohani kita sendiri. Mengapa hati kita selalu berada dalam musim dingin? Kita harus memiliki waktu untuk menabur benih kita, itu memang benar, tapi Oh waktu musim semi\u2014ya, musim panas, yang akan menjanjikan panen awal. Jika kita ingin matang dalam kasih karunia, kita harus hidup dekat dengan Yesus\u2014dalam kehadiran-Nya\u2014matang oleh sinar matahari senyum-Nya. Kita harus manis bersekutu dengan-Nya. Kita tidak lagi memandang dari jauh wajah-Nya melainkan mendekat, seperti yang Yohanes lakukan, dan menyandarkan kepala kita di dada-Nya; maka kita akan melihat diri kita semakin maju dalam kekudusan, dalam kasih, dalam iman, dalam pengharapan\u2014ya, dalam setiap karunia yang berharga. Seperti matahari yang terbit lebih dulu di puncak gunung dan melingkupinya dengan terangnya, dan menyajikan salah satu pemandangan yang paling memikat mata seorang pelancong; demikian juga, salah satu pemikiran yang paling menyenangkan di dunia adalah menyimak kilau cahaya Roh di atas kepala orang kudus, yang telah bertumbuh dalam perawakan rohani, seperti Saulus yang bertumbuh lebih dari rekan-rekannya, hingga, seperti puncak pengunungan Alpen yang terbungkus salju, Saulus yang lebih dulu di antara yang terpilih, mencerminkan sinar Matahari Kebenaran, dan mengangkat tinggi kecemerlangan kilau-Nya untuk dilihat semua orang, dan semua orang yang melihatnya memuliakan Bapa yang di sorga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Banyak orang Kristen tetap terhambat pertumbuhannya dan kerdil dalam hal-hal rohani, sehingga menunjukkan penampilan yang sama tahun demi tahun. Tidak ada merekahnya perasaan yang lebih lanjut dan sempurna yang terwujud dalam diri mereka. Mereka hadir tetapi tidak &#8220;bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia.&#8221; Namun haruskah kita puas menjadi &#8220;tangkai,&#8221; ketika kita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-26963","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"210","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26963","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26963"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26963\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68245,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26963\/revisions\/68245"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26963"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26963"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26963"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}