{"id":29911,"date":"2019-07-21T23:59:09","date_gmt":"2019-07-21T16:59:09","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=29911"},"modified":"2019-07-22T00:00:42","modified_gmt":"2019-07-21T17:00:42","slug":"kisah-sandera-al-qaida-dari-masuk-islam-hingga-tak-lagi-lancar-berbahasa-inggris","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kisah-sandera-al-qaida-dari-masuk-islam-hingga-tak-lagi-lancar-berbahasa-inggris\/","title":{"rendered":"Kisah sandera al-Qaida, dari masuk Islam hingga tak lagi lancar berbahasa Inggris"},"content":{"rendered":"<div>\n<p class=\"story-body__introduction\"><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211;\u00a0 Warga London asal Afrika Selatan, Stephen McGown, tak pernah membayangkan bahwa dirinya menjadi sandera kelompok militan al-Qaida selama lima tahun.<\/p>\n<p>Tapi itulah yang terjadi. Perjalanan pulang kembali ke Afrika Selatan dengan menggunakan sepeda motor &#8216;mengantarkannya&#8217; menjadi tawanan milisi al-Qaida di daerah di Gurun Sahara, Afrika.<\/p>\n<p>Ia sengaja bersepeda motor, bukan dengan pesawat terbang, karena ingin mendapatkan pengalaman baru. Ia ingin menikmati petualangan menyusuri Afrika dengan kendaraan roda dua tersebut.<\/p>\n<p>Saat berada di Timbuktu, Mali, pada 25 November 2011, McGown ditangkap milisi al-Qaida dan ditawan di satu tempat di Gurun Sahara.<\/p>\n<p>Setelah menjadi sandera, McGowan mencoba untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan kelompoknya yang menahannya, yang antara lain berujung dengan keputusannya untuk masuk Islam, bukan secara paksaan tapi sukarela.<\/p>\n<p>Ia masuk Islam enam bulan setelah ditangkap.<\/p>\n<p>&#8220;Saya pemeluk Kristen dan ada banyak kesamaan kisah dalam Islam dan Kristen. Agama membuat saya tegar menjalani kehidupan di gurun,&#8221; ungkap McGown.<\/p>\n<p>Dua sandera lain, Sjaake Rijke dan Johan Gustafsson, juga masuk Islam.<\/p>\n<p>Keputusan masuk Islam membuat perlakuan milisi terhadap McGown dan dua sandera lain berubah drastis.<\/p>\n<p>Kelompok yang menawan mereka mengajak makan bersama dan salat berjamaah. Selain itu, beberapa milisi juga mengajari McGown belajar bahasa Arab untuk membantu memahami Alquran.<\/p>\n<figure style=\"width: 976px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"js-image-replace\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/kisah-sandera-al-qaida-dari-masuk-islam-hingga-tak-lagi-lancar-berbahasa-inggris_5d1765942a858.jpeg?resize=976%2C549&#038;ssl=1\" alt=\"Stephen McGown\" width=\"976\" height=\"549\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Stephen McGown menjalani penahanan oleh kelompok al-Qaida di satu kawasan di Gurun Sahara selama setidaknya lima tahun sebelum dibebaskan pada Juli 2017. (Hak atas foto:\u00a0 Getty Images)<\/figcaption><\/figure>\n<p>&#8220;Saya belajar dengan menunjuk benda-benda di sekitar dan menghapal apa nama benda-benda tersebut dalam bahasa Arab,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Metode lain adalah dengan bahasa isyarat dan dengan menggambar di atas tanah.<\/p>\n<h2 class=\"story-body__crosshead\">Menghafal Alquran<\/h2>\n<p>Ia memang sengaja menjalin komunikasi dengan orang-orang yang menahannya. &#8220;Mereka datang dan pergi. Ada yang mati, ada anggota baru. Tapi saya mencermati banyak di antaranya yang selalu saya jumpai,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Sehari-hari, tak banyak yang dilakukan McGown saat menjadi tawanan al-Qaida. Ia memulai hari dengan salat subuh yang kemudian diikuti dengan sarapan, biasanya sarapan roti.<\/p>\n<p>Setelah itu kembali tidur atau melakukan olahraga. &#8220;Kami dibolehkan untuk bergerak bebas di area seluas stadion bola,&#8221; kata McGown.<\/p>\n<p>Menu makan siang adalah spaghetti atau nasi dicampur daging, bisa kambing, domba, atau unta. McGown sering masak sendiri karena para milisi banyak menggunakan minyak goreng.<\/p>\n<p>&#8220;Kelompok militan membunuh hewan-hewan yang mendekati kamp,&#8221; kata McGowan.<\/p>\n<p>Ketika sinar matahari tengah panas-panasnya, McGown dan sandera-sandera lain beristirahat di dalam gubuk dan menghabiskan waktu belajar membaca dan menghafal Alquran.<\/p>\n<p>&#8220;Saya lebih sering membaca Alquran di dalam gubuk, karena kalau saya melakukannya di depan para milisi, mereka biasanya tertawa karena pelafalan saya belum sempurna,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Kadang ada tamu datang ke kamp dan mereka bertanya tentang hafalan McGown.<\/p>\n<p>Suasana menjadi lebih santai saat malam tiba dan McGown bersosialisasi dengan milisi yang menyanderanya. &#8220;Kami minum teh, mendengarkan radio berbahasa Prancis atau menonton video-video al-Qaida,&#8221; kata McGown.<\/p>\n<p>Ia beranjak tidur setelah salat isya. Kadang ia tidur di luar gubuk untuk menikmati indahnya malam yang penuh dengan bintang.<\/p>\n<p>Keluarga McGown di Afrika Selatan mengontak sejumlah pihak untuk merundingkan pembebasannya.<\/p>\n<p>McGown sendiri tak tahu proses ini meski beberapa kali diberi tahu oleh milisi yang menahannya bahwa ia akan dibebaskan.<\/p>\n<p>Tapi pembebasannya dirinya tak kunjung menjadi kenyataan.<\/p>\n<p>Pada Juli lalu kelompok yang menyanderanya kembali mengatakan bahwa ia akan segera dibebaskan.<\/p>\n<p>&#8220;Saya tak percaya. Saya tanya berapa kemungkinannya saya bebas, mereka menjawab 60%,&#8221; kata McGown.<\/p>\n<p>Tapi beberapa hari kemudian dia dibawa dengan mobil menyeberangi Sahara selama dua setengah hari. Di dekat Gao, Mali, mobil berhenti.<\/p>\n<p>&#8220;Sopir mengatakan Anda bebas sekarang,&#8221; kata McGown.<\/p>\n<p>McGown masih tak percaya dan menganggapnya sebagai canda. Ia baru percaya setelah mobil lain datang dan menjemputnya.<\/p>\n<p>Ia akhirnya bisa bebas antara lain berkat negosiasi satu organisasi amal.<\/p>\n<h2 class=\"story-body__crosshead\">Bertemu lagi dengan sang istri<\/h2>\n<p>Ia kembali ke Johannesburg pada 29 Juli 2017 setelah menjalani pemeriksaan kesehatan.<\/p>\n<p>Ayah dan istrinya adalah dua orang pertama dari keluarga dekatnya yang ia temui. &#8220;Ia terlihat sangat cantik &#8230; sungguh bahagia bisa melihatnya,&#8221; kata McGown ketika melihat istrinya untuk pertama kalinya dalam lima tahun.<\/p>\n<p>Sementara itu, sang istri mengatakan, &#8220;Ia tak seperti yang saya bayangkan, apalagi ia mengenakan pakaian gurun.&#8221;<\/p>\n<p>McGown memang tak seperti McGown yang dulu. Selama menjadi tawanan di gurun, ia memanjangkan jambang dan rambut yang kini tampak bergelombang.<\/p>\n<p>&#8220;Ia terlihat sangat berbeda &#8230; tapi senyumnya tetap sama,&#8221; kata istrinya dengan mata berbinar-binar.<\/p>\n<p>Perbedaan lain adalah bahasa Inggris McGown tak selancar dulu. &#8220;Sekarang agak sulit menemukan kata-kata yang pas,&#8221; kata McGown yang mengaku sedikit khawatir dengan kemampuannya berbahasa.<\/p>\n<p>Tapi istrinya membesarkan hati dengan mengatakan McGown masih seperti yang dulu.<\/p>\n<p>&#8220;Ia selalu membuat saya tertawa, itu yang saya suka darinya,&#8221; kata istrinya. <strong>[BBC]<\/strong><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211;\u00a0 Warga London asal Afrika Selatan, Stephen McGown, tak pernah membayangkan bahwa dirinya menjadi sandera kelompok militan al-Qaida selama lima tahun. Tapi itulah yang terjadi. Perjalanan pulang kembali ke Afrika Selatan dengan menggunakan sepeda motor &#8216;mengantarkannya&#8217; menjadi tawanan milisi al-Qaida di daerah di Gurun Sahara, Afrika. Ia sengaja bersepeda motor, bukan dengan pesawat terbang, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":29912,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-29911","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"better_featured_image":{"id":29912,"alt_text":"","caption":"","description":"01e4e13cd47a05d1d1f1f6019a1a96c7","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/kisah-sandera-al-qaida-dari-masuk-islam-hingga-tak-lagi-lancar-berbahasa-inggris_5d1765942a858.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/kisah-sandera-al-qaida-dari-masuk-islam-hingga-tak-lagi-lancar-berbahasa-inggris_5d1765942a858.jpeg?fit=320%2C180&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/kisah-sandera-al-qaida-dari-masuk-islam-hingga-tak-lagi-lancar-berbahasa-inggris_5d1765942a858.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/kisah-sandera-al-qaida-dari-masuk-islam-hingga-tak-lagi-lancar-berbahasa-inggris_5d1765942a858.jpeg?fit=320%2C180&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1240","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29911","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29911"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29911\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29912"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29911"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29911"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29911"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}