{"id":30114,"date":"2025-11-14T18:16:10","date_gmt":"2025-11-14T11:16:10","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/saudara-saudara-doakanlah-kami-1-tesalonika-525\/"},"modified":"2025-11-14T18:16:13","modified_gmt":"2025-11-14T11:16:13","slug":"saudara-saudara-doakanlah-kami-1-tesalonika-525","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/saudara-saudara-doakanlah-kami-1-tesalonika-525\/","title":{"rendered":"Aku akan melenyapkan mereka yang menyembah dan bersumpah setia pada TUHAN, namun di samping itu bersumpah demi Dewa Milkom. [Zefanya 1:5] [1]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Orang-orang seperti ini berpikir bahwa mereka aman karena mereka berpihak pada keduanya; mereka berjalan mengikut TUHAN, dan pada saat yang sama sujud kepada Dewa Milkom. Akan tetapi, Allah jijik pada orang bermuka dua, dan jiwa-Nya membenci orang munafik. Seorang pemuja berhala yang jelas-jelas memberikan dirinya kepada allah palsunya, dosanya lebih sedikit satu daripada seorang yang membawa persembahan yang cemar dan menjijikkan ke Bait Tuhan, sambil hatinya melekat pada dunia dan dosa-dosa yang ada di dalamnya. Memegang kelinci buruan sambil berlari bersama anjing pemburu [2], adalah haluan seorang pengecut. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang mendua hati dipandang rendah, namun dalam agama dia memuakkan sampai ke tingkat terakhir. Hukuman yang disebutkan dalam ayat ini sungguh mengerikan, tetapi memang pantas; sebab bagaimana mungkin keadilan ilahi menyayangkan orang berdosa, yang mengetahui apa yang benar, menyetujuinya, dan mengaku menganutnya, tetapi sementara itu terus mencintai kejahatan, dan membiarkan kejahatan menguasai hatinya? RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Orang-orang seperti ini berpikir bahwa mereka aman karena mereka berpihak pada keduanya; mereka berjalan mengikut TUHAN, dan pada saat yang sama sujud kepada Dewa Milkom. Akan tetapi, Allah jijik pada orang bermuka dua, dan jiwa-Nya membenci orang munafik. Seorang pemuja berhala yang jelas-jelas memberikan dirinya kepada allah palsunya, dosanya lebih sedikit satu daripada seorang yang membawa persembahan yang cemar dan menjijikkan ke Bait Tuhan, sambil hatinya melekat pada dunia dan dosa-dosa yang ada di dalamnya. Memegang kelinci buruan sambil berlari bersama anjing pemburu [2], adalah haluan seorang pengecut. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang mendua hati dipandang rendah, namun dalam agama dia memuakkan sampai ke tingkat terakhir. Hukuman yang disebutkan dalam ayat ini sungguh mengerikan, tetapi memang pantas; sebab bagaimana mungkin keadilan ilahi menyayangkan orang berdosa, yang mengetahui apa yang benar, menyetujuinya, dan mengaku menganutnya, tetapi sementara itu terus mencintai kejahatan, dan membiarkan kejahatan menguasai hatinya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Orang-orang seperti ini berpikir bahwa mereka aman karena mereka berpihak pada keduanya; mereka berjalan mengikut TUHAN, dan pada saat yang sama sujud kepada Dewa Milkom. Akan tetapi, Allah jijik pada orang bermuka dua, dan jiwa-Nya membenci orang munafik. Seorang pemuja berhala yang jelas-jelas memberikan dirinya kepada allah palsunya, dosanya lebih sedikit satu daripada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-30114","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"151","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30114","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30114"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30114\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68324,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30114\/revisions\/68324"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30114"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30114"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30114"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}