{"id":30134,"date":"2025-11-20T18:15:36","date_gmt":"2025-11-20T11:15:36","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/berfirmanlah-allah-kepada-yunus-layakkah-engkau-marah-yunus-49\/"},"modified":"2025-11-20T18:15:38","modified_gmt":"2025-11-20T11:15:38","slug":"berfirmanlah-allah-kepada-yunus-layakkah-engkau-marah-yunus-49","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/berfirmanlah-allah-kepada-yunus-layakkah-engkau-marah-yunus-49\/","title":{"rendered":"Ya Tuhan, Engkau telah memperjuangkan perkaraku. [Ratapan 3:58]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Amati betapa yakin nabi itu berbicara. Ia tidak mengatakan, &quot;Aku berharap, aku percaya, aku kadang berpikir, bahwa Allah telah memperjuangkan perkaraku;&quot; tetapi ia berbicara akan fakta yang tidak dapat diperdebatkan lagi. &quot;Engkau telah memperjuangkan perkaraku.&quot; Hendaklah kita, dengan pertolongan dari sang Penghibur yang murah hati, menanggalkan segala ragu dan takut yang banyak mengotori damai sejahtera dan kenyamanan kita. Jadikanlah ini doa kita: agar kita tidak lagi berkuak penuh dugaan dan kecurigaan, dan dapat berbicara dengan suara merdu dan jelas, mengenai keyakinan penuh. Perhatikan betapa dengan syukur nabi itu berbicara, memberikan segala kemuliaan hanya kepada Allah! Engkau lihat tidak ada satu kata pun yang menyangkut dirinya ataupun perjuangan dirinya. Ia tidak menyatakan keselamatannya sebagai jasa manusia sedikit pun, bukan pula sebagai jasa dirinya; tetapi &quot;Engkau\u2014&quot;Ya Tuhan, Engkau telah memperjuangkan perkaraku, Engkau telah menyelamatkan hidupku.&quot; [Ratapan 3:58] Jiwa yang bersyukur harus selalu ditumbuhkan seorang Kristen; terutama setelah setiap penyelamatan, kita seharusnya mempersiapkan sebuah nyanyian untuk Allah kita. Bumi haruslah menjadi bait yang dipenuhi puji-pujian dari orang-orang kudus yang bersyukur, dan setiap hari haruslah merupakan pedupaan dengan asap dari kemenyan rasa terima kasih. Betapa riang Yeremia kelihatannya ketika ia mencatatkan rahmat Tuhan. Betapa penuh kemenangan nyanyian Yeremia yang dinaikkannya! Ia telah berada dalam kegelapan bawah tanah, dan bahkan sekarang ia disebut nabi peratap; akan tetapi justru di dalam kitab yang bernama &quot;Ratapan,&quot; jernih seperti kidung Miryam ketika jari-jarinya menabuh tambur, melengking seperti nada Debora ketika ia bertemu Barak dengan teriak kemenangan, kita dengar suara Yeremia yang naik ke surga\u2014&quot;Engkau telah memperjuangkan perkaraku, Engkau telah menyelamatkan hidupku.&quot; O anak-anak Allah, carilah pengalaman yang penting dari kasih setia Tuhan, dan saat engkau memperolehnya, tuturkanlah dengan yakin kasih setia-Nya, nyanyikanlah dengan syukur; teriakkanlah kemenangan. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Amati betapa <i>yakin<\/i> nabi itu berbicara. Ia tidak mengatakan, &#8220;Aku berharap, aku percaya, aku kadang berpikir, bahwa Allah telah memperjuangkan perkaraku;&#8221; tetapi ia berbicara akan fakta yang tidak dapat diperdebatkan lagi. &#8220;Engkau <i>telah<\/i> memperjuangkan perkaraku.&#8221; Hendaklah kita, dengan pertolongan dari sang Penghibur yang murah hati, menanggalkan segala ragu dan takut yang banyak mengotori damai sejahtera dan kenyamanan kita. Jadikanlah ini doa kita: agar kita tidak lagi berkuak penuh dugaan dan kecurigaan, dan dapat berbicara dengan suara merdu dan jelas, mengenai keyakinan penuh. Perhatikan betapa dengan <i>syukur<\/i> nabi itu berbicara, memberikan segala kemuliaan hanya kepada Allah! Engkau lihat tidak ada satu kata pun yang menyangkut dirinya ataupun perjuangan dirinya. Ia tidak menyatakan keselamatannya sebagai jasa manusia sedikit pun, bukan pula sebagai jasa dirinya; tetapi &#8220;<i>Engkau<\/i>\u2014&#8221;Ya Tuhan, Engkau telah memperjuangkan perkaraku, <i>Engkau<\/i> telah menyelamatkan hidupku.&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Ratapan%203:58\">Ratapan 3:58<\/a>] Jiwa yang bersyukur harus selalu ditumbuhkan seorang Kristen; terutama setelah setiap penyelamatan, kita seharusnya mempersiapkan sebuah nyanyian untuk Allah kita. Bumi haruslah menjadi bait yang dipenuhi puji-pujian dari orang-orang kudus yang bersyukur, dan setiap hari haruslah merupakan pedupaan dengan asap dari kemenyan rasa terima kasih. Betapa <i>riang<\/i> Yeremia kelihatannya ketika ia mencatatkan rahmat Tuhan. Betapa penuh kemenangan nyanyian Yeremia yang dinaikkannya! Ia telah berada dalam kegelapan bawah tanah, dan bahkan sekarang ia disebut nabi peratap; akan tetapi justru di dalam kitab yang bernama &#8220;Ratapan,&#8221; jernih seperti kidung Miryam ketika jari-jarinya menabuh tambur, melengking seperti nada Debora ketika ia bertemu Barak dengan teriak kemenangan, kita dengar suara Yeremia yang naik ke surga\u2014&#8221;Engkau telah memperjuangkan perkaraku, Engkau telah menyelamatkan hidupku.&#8221; O anak-anak Allah, carilah pengalaman yang penting dari kasih setia Tuhan, dan saat engkau memperolehnya, tuturkanlah dengan yakin kasih setia-Nya, nyanyikanlah dengan syukur; teriakkanlah kemenangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Amati betapa yakin nabi itu berbicara. Ia tidak mengatakan, &#8220;Aku berharap, aku percaya, aku kadang berpikir, bahwa Allah telah memperjuangkan perkaraku;&#8221; tetapi ia berbicara akan fakta yang tidak dapat diperdebatkan lagi. &#8220;Engkau telah memperjuangkan perkaraku.&#8221; Hendaklah kita, dengan pertolongan dari sang Penghibur yang murah hati, menanggalkan segala ragu dan takut yang banyak mengotori [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-30134","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","comment_count":0,"views":"126","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30134","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30134"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30134\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68339,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30134\/revisions\/68339"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30134"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30134"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30134"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}