{"id":30144,"date":"2019-07-25T08:15:02","date_gmt":"2019-07-25T01:15:02","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=30144"},"modified":"2019-07-22T00:05:24","modified_gmt":"2019-07-21T17:05:24","slug":"didominasi-lgbt-tim-sepakbola-putri-as-dituduh-anti-kristen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/didominasi-lgbt-tim-sepakbola-putri-as-dituduh-anti-kristen\/","title":{"rendered":"Didominasi LGBT, Tim Sepakbola Putri AS Dituduh Anti-Kristen"},"content":{"rendered":"<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Diakonia.id &#8211;<\/strong> Anggota tim sepakbola puteri AS, Ashlyn Harris membantah tuduhan bahwa tim yang baru saja merebut Piala Dunia 2019 tersebut anti terhadap nilai-nilai agama Kristen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui akun\u00a0 twitter, Harris membela rekan-rekannya anggota tim AS dari tuduhan\u00a0 pemain Jaelene Hinkle.\u00a0\u00a0 Hinkle juga merupakan mantan anggota timnas AS namun tak masuk dalam skuad Piala Dunia ke Perancis, Juni lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Hinkle, apa agamamu adalah urusanmu.\u00a0\u00a0 Masalah kamu adalah soal intoleransi dan homofobia yang kamu idap,&#8221; tulis Harris, 33. &#8220;Kamu tidak bisa bergabung dengan olahraga yang bertujuan menyatukan dan menyamakan orang-orang.\u00a0 Kamu tidak cocok buat tim ini.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Harris yang telah bertunangan dengan rekan setimnya, Ali Krieger juga bereaksi terhadap pengacara Obianju Ekeocha yang mendukung video wawncara Hinkle\u00a0 dan menuliskan,&#8221;Tim sepakbola puteri AS bukan tempat yang nyaman buat penganut Kristen.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Harris menambahkan,&#8221;Jangan berani-berani bilang ini bukan\u00a0 tempat buat orang Kristen. Kamu tidak terlalu lama bergabung untuk dapat mengenal kami. Kamu justru menghina orang-orang Kristen yang ada dalam tim. Seperti anda.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Video wawancara Hinkle dilakukan pada Juni 2018, di mana ia menjelaskan alasannya menolak panggilan untuk bergabung dengan timnas Piala Dunia AS, beberapa hari setelah tim\u00a0 mengumumkan akan mengenakan jersey berwarna pelangi sebagai bentuk dukungan terhadap komunitas LGBT.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saya hanya merasa tidak wajib mengenakan jersey tersebut.\u00a0 Saya membutuhkan waktu tiga hari untuk melihat dan berdoa\u00a0 untuk menentukkan sikap saya dalam situasi seperti ini,&#8221; kata Hinkle.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hinkle, 26, kemudian memutuskan mundur dari dua pertandingan persahabatan\u00a0 tim AS dan sempat dicemooh oleh sekelompok penonton\u00a0 yang mengibarkan bendera kelompok LGBT.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saya telah melepaskan apa yang saya impikan semasa saya masih gadis kecil. Ini tentu mengecewakan,&#8221; kata Hinkle soal keputusan menolak panggilan. &#8220;Namun saya yakin saya melakukan hal yang benar. Selama ini saya adalah seorang yang taat, namun saya tahu bahwa dengan taat saja tidak berarti semuanya menjadi lebih mudah.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hinkle sempat dipanggil kembali untuk ikut dalam Pelatnas jelang Tournament of Nations 2018, namun namanya kemudian dicoret.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Timnas AS ke Piala Dunia 2019 memang diperkuat para pemain lesbian\u00a0 termasuk Harris, Krieger serta pemain utama Megan Rapinoe. Namun tim juga diperkuat para pemain penganut Kristen taat\u00a0 seperti Julie Ertz dan Tobin Heath. [kompas]<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Anggota tim sepakbola puteri AS, Ashlyn Harris membantah tuduhan bahwa tim yang baru saja merebut Piala Dunia 2019 tersebut anti terhadap nilai-nilai agama Kristen. Melalui akun\u00a0 twitter, Harris membela rekan-rekannya anggota tim AS dari tuduhan\u00a0 pemain Jaelene Hinkle.\u00a0\u00a0 Hinkle juga merupakan mantan anggota timnas AS namun tak masuk dalam skuad Piala Dunia ke [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-30144","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-umum"],"better_featured_image":null,"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1173","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30144","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30144"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30144\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30144"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30144"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30144"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}