{"id":30598,"date":"2025-12-13T18:15:36","date_gmt":"2025-12-13T11:15:36","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/layaklah-mereka-cinta-kepadamu-kidung-agung-14\/"},"modified":"2025-12-13T18:15:39","modified_gmt":"2025-12-13T11:15:39","slug":"layaklah-mereka-cinta-kepadamu-kidung-agung-14","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/layaklah-mereka-cinta-kepadamu-kidung-agung-14\/","title":{"rendered":"Garam tidak terbatas. [Ezra 7:22]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Garam digunakan untuk setiap persembahan bakaran untuk Tuhan, dan berdasarkan sifatnya yang mengawetkan dan memurnikan itu, garam adalah lencana ucapan syukur atas anugerah ilahi yang ada di dalam jiwa. Layak kita perhatikan bahwa, ketika Artahsasta memberikan garam kepada imam Ezra, ia tidak membatasi jumlahnya, dan kita pun bisa cukup yakin bahwa ketika sang Raja di atas segala raja memberikan anugerah kepada imam-imam-Nya yang setia, persediaannya tidak akan dibatasi oleh Dia. Kita sering serba kurang di dalam diri kita sendiri, tapi tidak pernah kekurangan di dalam Tuhan. Ia yang mengumpulkan banyak manna akan mendapatkan dirinya menemukan sebanyak yang ia harapkan. Di Yerusalem tidak ada kelaparan yang mengharuskan penduduknya makan roti dan minum air yang sudah diukur terlebih dahulu. Beberapa hal dalam ekonomi anugerah memang diukur; misalnya cuka dan racun diberikan kepada kita dengan dosis yang begitu tepat sehingga kita tidak akan mendapatkan terlalu banyak setetes pun, tetapi untuk garam anugerah tidak diberi batas, &quot;Mintalah yang engkau kehendaki dan yang engkau minta akan diberikan kepadamu.&quot; Orang tua perlu mengunci lemari buah, dan botol permen, tapi tempat garam tidak perlu dikunci dan digembok, karena hampir tidak ada anak kecil yang rakus akan garam. Seseorang bisa memiliki terlalu banyak uang, atau terlalu banyak harga diri, tetapi ia tidak bisa memiliki terlalu banyak anugerah. Ketika Yesyurun menjadi gemuk dalam kedagingannya, ia menendang ke belakang melawan Allah [Ulangan 32:15], tetapi kita tidak perlu takut seseorang terlalu kenyang dalam anugerah: terlalu banyak anugerah adalah hal yang mustahil. Makin banyak harta menimbulkan makin banyak urusan, tetapi makin banyak anugerah menghasilkan makin banyak sukacita. Hikmat yang meningkat merupakan kesedihan yang meningkat [Pengkhotbah 1:18], tetapi limpahnya Roh Kudus adalah penuhnya sukacita. Orang percaya, pergilah menghadap ke takhta untuk mendapatkan garam surgawi yang tidak terbatas. Garam itu akan membumbui kesusahanmu, yang rasanya hambar tanpa garam; itu akan mengawetkan hatimu yang akan membusuk jika garam tidak ada, dan garam itu akan membunuh dosa-dosamu seperti garam membunuh reptil. Engkau perlu banyak; mintalah banyak-banyak, dan milikilah banyak-banyak. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Garam digunakan untuk setiap persembahan bakaran untuk Tuhan, dan berdasarkan sifatnya yang mengawetkan dan memurnikan itu, garam adalah lencana ucapan syukur atas anugerah ilahi yang ada di dalam jiwa. Layak kita perhatikan bahwa, ketika Artahsasta memberikan garam kepada imam Ezra, ia tidak membatasi jumlahnya, dan kita pun bisa cukup yakin bahwa ketika sang Raja di atas segala raja memberikan anugerah kepada imam-imam-Nya yang setia, persediaannya tidak akan dibatasi oleh <i>Dia<\/i>. Kita sering serba kurang di dalam diri kita sendiri, tapi tidak pernah kekurangan di dalam Tuhan. Ia yang mengumpulkan banyak manna akan mendapatkan dirinya menemukan sebanyak yang ia harapkan. Di Yerusalem tidak ada kelaparan yang mengharuskan penduduknya makan roti dan minum air yang sudah diukur terlebih dahulu. Beberapa hal dalam ekonomi anugerah memang diukur; misalnya cuka dan racun diberikan kepada kita dengan dosis yang begitu tepat sehingga kita tidak akan mendapatkan terlalu banyak setetes pun, tetapi untuk garam anugerah tidak diberi batas, &#8220;Mintalah yang engkau kehendaki dan yang engkau minta akan diberikan kepadamu.&#8221; Orang tua perlu mengunci lemari buah, dan botol permen, tapi tempat garam tidak perlu dikunci dan digembok, karena hampir tidak ada anak kecil yang rakus akan garam. Seseorang bisa memiliki terlalu banyak uang, atau terlalu banyak harga diri, tetapi ia tidak bisa memiliki terlalu banyak anugerah. Ketika Yesyurun menjadi gemuk dalam kedagingannya, ia menendang ke belakang melawan Allah [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Ulangan%2032:15\">Ulangan 32:15<\/a>], tetapi kita tidak perlu takut seseorang terlalu kenyang dalam anugerah: <i>terlalu banyak<\/i> anugerah adalah hal yang mustahil. Makin banyak harta menimbulkan makin banyak urusan, tetapi makin banyak anugerah menghasilkan makin banyak sukacita. Hikmat yang meningkat merupakan kesedihan yang meningkat [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Pengkhotbah%201:18\">Pengkhotbah 1:18<\/a>], tetapi limpahnya Roh Kudus adalah penuhnya sukacita. Orang percaya, pergilah menghadap ke takhta untuk mendapatkan garam surgawi yang tidak terbatas. Garam itu akan membumbui kesusahanmu, yang rasanya hambar tanpa garam; itu akan mengawetkan hatimu yang akan membusuk jika garam tidak ada, dan garam itu akan membunuh dosa-dosamu seperti garam membunuh reptil. Engkau perlu banyak; mintalah banyak-banyak, dan milikilah banyak-banyak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Garam digunakan untuk setiap persembahan bakaran untuk Tuhan, dan berdasarkan sifatnya yang mengawetkan dan memurnikan itu, garam adalah lencana ucapan syukur atas anugerah ilahi yang ada di dalam jiwa. Layak kita perhatikan bahwa, ketika Artahsasta memberikan garam kepada imam Ezra, ia tidak membatasi jumlahnya, dan kita pun bisa cukup yakin bahwa ketika sang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-30598","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"106","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30598","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30598"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30598\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68608,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30598\/revisions\/68608"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30598"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30598"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30598"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}