{"id":30898,"date":"2025-12-27T18:15:40","date_gmt":"2025-12-27T11:15:40","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/siapa-memberi-minum-ia-sendiri-akan-diberi-minum-amsal-1125\/"},"modified":"2025-12-27T18:15:41","modified_gmt":"2025-12-27T11:15:41","slug":"siapa-memberi-minum-ia-sendiri-akan-diberi-minum-amsal-1125","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/siapa-memberi-minum-ia-sendiri-akan-diberi-minum-amsal-1125\/","title":{"rendered":"Dapatkah pandan bertumbuh tinggi, kalau tidak di rawa? [Ayub 8:11]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Pandan [1] adalah tumbuhan yang berongga seperti sepon, begitu pula orang munafik, tidak ada substansi dan stabilitas padanya. Ia digoyahkan kesana kemari oleh angin, sama seperti pengikut formalisme yang mengalah pada setiap pengaruh; oleh karena alasan ini, pandan tidak rusak oleh angin ribut, demikian juga orang-orang munafik tidak memiliki kesulitan terhadap penganiayaan. Saya tidak akan secara sengaja ingin menjadi penipu atau ditipu; barangkali bacaan hari ini membantu saya untuk menguji apakah saya seorang yang munafik atau tidak. Pandan secara alami hidup dalam air, dan keberadaannya bergantung pada rawa dan kelembaban yang di dalamnya pandan berakar; andaikata rawa itu menjadi kering maka pandan itu langsung layu. Kesuburannya sangat tergantung keadaan. Persediaan air yang melimpah membuatnya bertumbuh dan kekeringan langsung merusaknya. Apakah diriku seperti ini? Apakah saya melayani Tuhan hanya pada saat keadaanku baik, atau pada saat memeluk agama memberi keuntungan dan kehormatan? Apakah saya mencintai Tuhan hanya ketika kenikmatan yang sementara diterima dari tangan-Nya? Jikalau demikian maka saya adalah seorang munafik yang hina, dan seperti pandan yang layu, saya akan binasa ketika kematian mengambil sukacita lahiriah saya. Tetapi dapatkah saya menyatakan bahwa ketika kenyamanan badaniah hanya sedikit, dan sekeliling saya telah lebih merugikan daripada menolong saya, saya akan tetap memegang teguh integritas saya? Maka saya telah mengharapkan suatu kesalehan yang murni di dalam diri saya. Pandan tidak dapat tumbuh tanpa rawa, tetapi tumbuhan yang ditanam oleh tangan kanan Tuhan dapat dan akan menjadi subur, bahkan dalam musim kemarau. Orang saleh kerapkali bertumbuh paling baik ketika keadaan sekitarnya memburuk. Orang yang mengikut Kristus demi kantung uang adalah seorang Yudas; orang-orang yang mengikut demi roti dan ikan adalah anak-anak setan; tetapi orang-orang yang mengikuti-Nya berdasarkan cinta kepada-Nya adalah Yang Dikasihi-Nya. Tuhan, biarlah saya menemukan hidup di dalam-Mu, dan bukan di dalam rawa-rawa penerimaan atau keuntungan dunia. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Pandan [1] adalah tumbuhan yang berongga seperti sepon, begitu pula orang munafik, tidak ada substansi dan stabilitas padanya. Ia digoyahkan kesana kemari oleh angin, sama seperti pengikut formalisme yang mengalah pada setiap pengaruh; oleh karena alasan ini, pandan tidak rusak oleh angin ribut, demikian juga orang-orang munafik tidak memiliki kesulitan terhadap penganiayaan. Saya tidak akan secara sengaja ingin menjadi penipu atau ditipu; barangkali bacaan hari ini membantu saya untuk menguji apakah saya seorang yang munafik atau tidak. Pandan secara alami hidup dalam air, dan keberadaannya bergantung pada rawa dan kelembaban yang di dalamnya pandan berakar; andaikata rawa itu menjadi kering maka pandan itu langsung layu. Kesuburannya sangat tergantung keadaan. Persediaan air yang melimpah membuatnya bertumbuh dan kekeringan langsung merusaknya. Apakah diriku seperti ini? Apakah saya melayani Tuhan hanya pada saat keadaanku baik, atau pada saat memeluk agama memberi keuntungan dan kehormatan? Apakah saya mencintai Tuhan hanya ketika kenikmatan yang sementara diterima dari tangan-Nya? Jikalau demikian maka saya adalah seorang munafik yang hina, dan seperti pandan yang layu, saya akan binasa ketika kematian mengambil sukacita lahiriah saya. Tetapi dapatkah saya menyatakan bahwa ketika kenyamanan badaniah hanya sedikit, dan sekeliling saya telah lebih merugikan daripada menolong saya, saya akan tetap memegang teguh integritas saya? Maka saya telah mengharapkan suatu kesalehan yang murni di dalam diri saya. Pandan tidak dapat tumbuh tanpa rawa, tetapi tumbuhan yang ditanam oleh tangan kanan Tuhan dapat dan akan menjadi subur, bahkan dalam musim kemarau. Orang saleh kerapkali bertumbuh paling baik ketika keadaan sekitarnya memburuk. Orang yang mengikut Kristus demi kantung uang adalah seorang Yudas; orang-orang yang mengikut demi roti dan ikan adalah anak-anak setan; tetapi orang-orang yang mengikuti-Nya berdasarkan cinta kepada-Nya adalah Yang Dikasihi-Nya. Tuhan, biarlah saya menemukan hidup di dalam-<i>Mu<\/i>, dan bukan di dalam rawa-rawa penerimaan atau keuntungan dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Pandan [1] adalah tumbuhan yang berongga seperti sepon, begitu pula orang munafik, tidak ada substansi dan stabilitas padanya. Ia digoyahkan kesana kemari oleh angin, sama seperti pengikut formalisme yang mengalah pada setiap pengaruh; oleh karena alasan ini, pandan tidak rusak oleh angin ribut, demikian juga orang-orang munafik tidak memiliki kesulitan terhadap penganiayaan. Saya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-30898","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"149","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30898","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30898"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30898\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68638,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30898\/revisions\/68638"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}