{"id":30946,"date":"2026-01-02T18:15:36","date_gmt":"2026-01-02T11:15:36","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/berapa-lama-lagi-mereka-tidak-mau-percaya-kepada-ku-bilangan-1411\/"},"modified":"2026-01-02T18:15:37","modified_gmt":"2026-01-02T11:15:37","slug":"berapa-lama-lagi-mereka-tidak-mau-percaya-kepada-ku-bilangan-1411","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/berapa-lama-lagi-mereka-tidak-mau-percaya-kepada-ku-bilangan-1411\/","title":{"rendered":"Bertekunlah dalam doa. [Kolose 4:2]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Menarik untuk diperhatikan betapa besar bagian dari Kitab Suci yang berisi persoalan tentang doa, baik dalam contoh-contoh pelengkap, titah-titah untuk ditegakkan, maupun janji-janji yang dinyatakan. Kita tidak bisa dibilang sudah membuka Alkitab kalau belum membaca &quot;Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN;&quot; [Kejadian 4:26], dan tepat sebelum kita mengakhiri Alkitab, terdengarlah kata &quot;Amin&quot; dari sebuah permohonan yang serius di telinga kita. Ada banyak contoh. Kita temukan Yakub yang bergulat\u2014Daniel yang berdoa tiga kali sehari\u2014dan Daud yang dengan segenap hatinya memanggil Allah. Di gunung kita melihat Elia; di penjara bawah tanah ada Paulus dan Silas. Ada banyak perintah dan segudang janji. Apa yang hendak diajarkan pada kita, selain bahwa doa itu penting dan perlu dalam kesucian? Kita yakin bahwa apapun yang Allah tonjolkan dalam firman-Nya, dimaksudkan untuk menjadi sesuatu yang mencolok dalam hidup kita. Bila Ia banyak bicara mengenai doa, itu adalah karena Ia tahu betapa kita membutuhkan doa. Betapa dalamnya kebutuhan kita, sehingga kita tidak boleh berhenti berdoa selama kita belum berada di surga. Engkau tidak butuh doa apapun? Kalau begitu, saya khawatir engkau tidak tahu hal apa yang kurang padamu. Engkau tidak meminta belas kasih apapun dari Allah? Kalau begitu, semoga belas kasih Tuhan menunjukkan betapa malang dirimu! Jiwa yang tak berdoa adalah jiwa tanpa Kristus. Doa adalah celoteh bayi yang percaya, seruan orang percaya yang berperang, kidung penghiburan orang suci sekarat yang jatuh tertidur di dalam Yesus. Doa adalah nafas, semboyan, penghiburan, kekuatan, dan kehormatan seorang Kristen. Jika engkau seorang anak Allah, engkau akan mencari wajah Bapamu, dan tinggal di dalam kasih-Nya. Berdoalah di tahun ini engkau menjadi suci, rendah hati, tekun, dan sabar; memiliki persekutuan yang lebih dekat dengan Kristus, dan lebih sering masuk dalam rumah perjamuan kasih-Nya. Berdoa agar engkau menjadi contoh dan berkat bagi orang lain, dan supaya engkau hidup lebih memuliakan Tuanmu. Motto bagi tahun ini harus &quot;Bertekunlah dalam doa.&quot; RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Menarik untuk diperhatikan betapa besar bagian dari Kitab Suci yang berisi persoalan tentang doa, baik dalam contoh-contoh pelengkap, titah-titah untuk ditegakkan, maupun janji-janji yang dinyatakan. Kita tidak bisa dibilang sudah membuka Alkitab kalau belum membaca &#8220;Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN;&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Kejadian%204:26\">Kejadian 4:26<\/a>], dan tepat sebelum kita mengakhiri Alkitab, terdengarlah kata &#8220;Amin&#8221; dari sebuah permohonan yang serius di telinga kita. Ada banyak contoh. Kita temukan Yakub yang bergulat\u2014Daniel yang berdoa tiga kali sehari\u2014dan Daud yang dengan segenap hatinya memanggil Allah. Di gunung kita melihat Elia; di penjara bawah tanah ada Paulus dan Silas. Ada banyak perintah dan segudang janji. Apa yang hendak diajarkan pada kita, selain bahwa doa itu penting dan perlu dalam kesucian? Kita yakin bahwa apapun yang Allah tonjolkan dalam firman-Nya, dimaksudkan untuk menjadi sesuatu yang mencolok dalam hidup kita. Bila Ia banyak bicara mengenai doa, itu adalah karena Ia tahu betapa kita membutuhkan doa. Betapa dalamnya kebutuhan kita, sehingga kita tidak boleh berhenti berdoa selama kita belum berada di surga. Engkau tidak butuh doa apapun? Kalau begitu, saya khawatir engkau tidak tahu hal apa yang kurang padamu. Engkau tidak meminta belas kasih apapun dari Allah? Kalau begitu, semoga belas kasih Tuhan menunjukkan betapa malang dirimu! Jiwa yang tak berdoa adalah jiwa tanpa Kristus. Doa adalah celoteh bayi yang percaya, seruan orang percaya yang berperang, kidung penghiburan orang suci sekarat yang jatuh tertidur di dalam Yesus. Doa adalah nafas, semboyan, penghiburan, kekuatan, dan kehormatan seorang Kristen. Jika engkau seorang anak Allah, engkau akan mencari wajah Bapamu, dan tinggal di dalam kasih-Nya. Berdoalah di tahun ini engkau menjadi suci, rendah hati, tekun, dan sabar; memiliki persekutuan yang lebih dekat dengan Kristus, dan lebih sering masuk dalam rumah perjamuan kasih-Nya. Berdoa agar engkau menjadi contoh dan berkat bagi orang lain, dan supaya engkau hidup lebih memuliakan Tuanmu. Motto bagi tahun ini harus &#8220;Bertekunlah dalam doa.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Menarik untuk diperhatikan betapa besar bagian dari Kitab Suci yang berisi persoalan tentang doa, baik dalam contoh-contoh pelengkap, titah-titah untuk ditegakkan, maupun janji-janji yang dinyatakan. Kita tidak bisa dibilang sudah membuka Alkitab kalau belum membaca &#8220;Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN;&#8221; [Kejadian 4:26], dan tepat sebelum kita mengakhiri Alkitab, terdengarlah kata &#8220;Amin&#8221; [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-30946","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"140","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30946","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30946"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30946\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68652,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30946\/revisions\/68652"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30946"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30946"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30946"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}