{"id":31071,"date":"2025-08-17T18:16:22","date_gmt":"2025-08-17T11:16:22","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/malampun-menjadi-siang-zakharia-147\/"},"modified":"2025-08-17T18:16:23","modified_gmt":"2025-08-17T11:16:23","slug":"malampun-menjadi-siang-zakharia-147","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/malampun-menjadi-siang-zakharia-147\/","title":{"rendered":"Kasih setia Allah. [Mazmur 52:8]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Renungkan sejenak akan rahmat Tuhan. Rahmat belas kasihan. Dengan sentuhan yang lembut, penuh kasih sayang, Ia menyembuhkan yang hancur hatinya, dan membalut luka mereka. Ia bermurah hati dalam mengerjakan rahmat-Nya, seperti halnya Ia bermurah hati dalam perkara rahmat-Nya. Rahmat-Nya agung. Tidak ada yang kecil dalam Allah; rahmat-Nya seperti diri-Nya sendiri\u2014yaitu tak terbatas. Engkau tidak dapat mengukurnya. Rahmat-Nya begitu besar sehingga memaafkan baik dosa besar maupun pendosa besar, setelah begitu lama, dan kemudian memberikan berkat besar dan hak istimewa yang besar, dan mengangkat kita kepada kenikmatan besar di dalam surga yang besar milik Allah yang besar. Ini adalah rahmat yang tidak selayaknya diberikan, sebagaimana seharusnya segala rahmat yang asli, sebab rahmat yang layak didapatkan hanyalah istilah yang salah untuk keadilan. Tidak ada hak dari pihak seorang pendosa untuk mendapatkan kebaikan dari Yang Maha Tinggi; seandainya sekali seorang pemberontak dikutuk ke dalam api kekal, dia memang pantas sepenuhnya menerima kebinasaan itu, dan jika dia diluputkan dari murka, kasih yang berdaulat semata itulah yang telah memulainya, karena tidak ada apa-apa dari pendosa itu sendiri. Rahmat-Nya kaya. Beberapa hal memang hebat, tetapi hanya sedikit yang memiliki khasiat, tetapi rahmat ini adalah obat mujarab untuk jiwamu yang terkulai; minyak urapan emas untuk lukamu yang berdarah; perban surgawi untuk tulang-tulangmu yang patah; kereta kuda megah untuk kakimu yang letih; kasih sanubari untuk hatimu yang gemetar. Rahmat-Nya berlipat ganda. Seperti yang Bunyan katakan, &quot;Seluruh bunga di dalam taman Allah berlipat ganda.&quot; Tidak ada rahmat tunggal. Engkau mungkin berpikir memiliki rahmat tunggal, tetapi engkau harus menemukannya sebagai satu sekumpulan rahmat. Rahmat-Nya berkelimpahan. Jutaan orang telah menerimanya, tetapi rahmat-Nya sama sekali tidak habis; rahmat-Nya tetap segar, penuh, dan gratis seperti biasanya. Rahmat-Nya terpercaya. Ia tidak akan pernah meninggalkan engkau. Jika rahmat adalah kawanmu, rahmat akan bersama engkau dalam pencobaan untuk mencegah engkau menyerah ke dalamnya; bersama engkau di dalam masalah untuk mencegah engkau tenggelam; hidup bersama engkau untuk menjadi terang dan hidup cahaya wajahmu; dan bersama engkau menderita untuk menjadi sukacita dalam jiwamu ketika kenikmatan duniawi cepat surut. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Renungkan sejenak akan rahmat Tuhan. <i>Rahmat belas kasihan<\/i>. Dengan sentuhan yang lembut, penuh kasih sayang, Ia menyembuhkan yang hancur hatinya, dan membalut luka mereka. Ia bermurah hati dalam mengerjakan rahmat-Nya, seperti halnya Ia bermurah hati dalam perkara rahmat-Nya. <i>Rahmat-Nya agung<\/i>. Tidak ada yang kecil dalam Allah; rahmat-Nya seperti diri-Nya sendiri\u2014yaitu tak terbatas. Engkau tidak dapat mengukurnya. Rahmat-Nya begitu besar sehingga memaafkan baik dosa besar maupun pendosa besar, setelah begitu lama, dan kemudian memberikan berkat besar dan hak istimewa yang besar, dan mengangkat kita kepada kenikmatan besar di dalam surga yang besar milik Allah yang besar. <i>Ini adalah rahmat yang tidak selayaknya diberikan<\/i>, sebagaimana seharusnya segala rahmat yang asli, sebab rahmat yang layak didapatkan hanyalah istilah yang salah untuk keadilan. Tidak ada hak dari pihak seorang pendosa untuk mendapatkan kebaikan dari Yang Maha Tinggi; seandainya sekali seorang pemberontak dikutuk ke dalam api kekal, dia memang pantas sepenuhnya menerima kebinasaan itu, dan jika dia diluputkan dari murka, kasih yang berdaulat semata itulah yang telah memulainya, karena tidak ada apa-apa dari pendosa itu sendiri. <i>Rahmat-Nya kaya.<\/i> Beberapa hal memang hebat, tetapi hanya sedikit yang memiliki khasiat, tetapi rahmat ini adalah obat mujarab untuk jiwamu yang terkulai; minyak urapan emas untuk lukamu yang berdarah; perban surgawi untuk tulang-tulangmu yang patah; kereta kuda megah untuk kakimu yang letih; kasih sanubari untuk hatimu yang gemetar. <i>Rahmat-Nya berlipat ganda.<\/i> Seperti yang Bunyan katakan, &#8220;Seluruh bunga di dalam taman Allah berlipat ganda.&#8221; Tidak ada rahmat tunggal. Engkau mungkin berpikir memiliki rahmat tunggal, tetapi engkau harus menemukannya sebagai satu sekumpulan rahmat. <i>Rahmat-Nya berkelimpahan.<\/i> Jutaan orang telah menerimanya, tetapi rahmat-Nya sama sekali tidak habis; rahmat-Nya tetap segar, penuh, dan gratis seperti biasanya. <i>Rahmat-Nya terpercaya.<\/i> Ia tidak akan pernah meninggalkan engkau. Jika rahmat adalah kawanmu, rahmat akan bersama engkau dalam pencobaan untuk mencegah engkau menyerah ke dalamnya; bersama engkau di dalam masalah untuk mencegah engkau tenggelam; hidup bersama engkau untuk menjadi terang dan hidup cahaya wajahmu; dan bersama engkau menderita untuk menjadi sukacita dalam jiwamu ketika kenikmatan duniawi cepat surut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Renungkan sejenak akan rahmat Tuhan. Rahmat belas kasihan. Dengan sentuhan yang lembut, penuh kasih sayang, Ia menyembuhkan yang hancur hatinya, dan membalut luka mereka. Ia bermurah hati dalam mengerjakan rahmat-Nya, seperti halnya Ia bermurah hati dalam perkara rahmat-Nya. Rahmat-Nya agung. Tidak ada yang kecil dalam Allah; rahmat-Nya seperti diri-Nya sendiri\u2014yaitu tak terbatas. Engkau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31071","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"225","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31071","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31071"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31071\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68060,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31071\/revisions\/68060"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31071"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31071"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31071"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}