{"id":31100,"date":"2026-02-10T18:15:43","date_gmt":"2026-02-10T11:15:43","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mengapa-kauperlakukan-hamba-mu-ini-dengan-buruk-bilangan-1111\/"},"modified":"2026-02-10T18:15:44","modified_gmt":"2026-02-10T11:15:44","slug":"mengapa-kauperlakukan-hamba-mu-ini-dengan-buruk-bilangan-1111","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mengapa-kauperlakukan-hamba-mu-ini-dengan-buruk-bilangan-1111\/","title":{"rendered":"Aku tahu apa itu kelimpahan. [Filipi 4:12]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ada banyak yang tahu \u201capa itu kekurangan\u201d namun belum pernah belajar \u201capa itu kelimpahan\u201d. Ketika mereka mencapai puncak, kepala mereka menjadi pusing, dan mereka siap jatuh. Orang Kristen jauh lebih sering mempermalukan imannya dalam kemakmuran daripada dalam masalah. Menjadi makmur itu berbahaya. Tungku kekurangan adalah ujian yang lebih ringan bagi orang Kristen dibanding tungku kemakmuran. Oh, jiwa yang kurus merana dan hal-hal rohani yang diabaikan, justru datang melalui belas kasihan dan karunia Allah itu sendiri! Sekalipun demikian, hal ini tidak pasti terjadi, sebab sang rasul memberitahukan kita bahwa ia tahu bagaimana caranya hidup berkelimpahan. Ketika ia mempunyai kelimpahan, ia tahu bagaimana menggunakannya. Anugerah yang berlimpah memampukannya untuk menanggung kemakmuran yang berlimpah. Ketika layar kapal membentang penuh, ia dimuati dengan banyak pemberat, sehingga tetap mengapung dengan aman. Perlu lebih dari ketrampilan manusia untuk memegang dengan stabil cawan yang meluap dengan kesenangan duniawi, tetapi Paulus sudah mempelajarinya, karena dia menyatakan, \u201cDalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan.\u201d [Filipi 4:12] Bagaimana hidup berkelimpahan merupakan pengajaran ilahi, karena orang Israel pernah sangat berkelimpahan, tetapi saat daging bahkan masih di dalam mulut mereka, murka Allah turun ke atas mereka. Banyak orang memohon rahmat supaya mereka bisa memuaskan keinginan hatinya sendiri. Limpahnya roti sering mengakibatkan limpahnya darah, dan mendatangkan hawa nafsu. Ketika kita memiliki banyak rahmat pemeliharaan Allah, sering terjadi malah kita hanya memiliki sedikit anugerah Allah, dan rasa syukur yang terlalu sedikit atas berkat yang sudah kita terima. Kita kenyang dan kita melupakan Allah: puas dengan bumi, kita merasa cukup tanpa surga. Yakinlah bahwa lebih susah belajar bagaimana hidup dalam kekenyangan daripada dalam kelaparan\u2014sebegitu parahnya kecenderungan manusia untuk memegahkan diri dan melupakan Allah. Berhati-hatilah supaya dalam doamu engkau meminta Allah mengajarkan \u201cbagaimana hidup dalam kelimpahan.\u201d RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Ada banyak yang tahu \u201capa itu kekurangan\u201d namun belum pernah belajar \u201capa itu kelimpahan\u201d. Ketika mereka mencapai puncak, kepala mereka menjadi pusing, dan mereka siap jatuh. Orang Kristen jauh lebih sering mempermalukan imannya dalam kemakmuran daripada dalam masalah. Menjadi makmur itu berbahaya. Tungku kekurangan adalah ujian yang lebih ringan bagi orang Kristen dibanding tungku kemakmuran. Oh, jiwa yang kurus merana dan hal-hal rohani yang diabaikan, justru datang melalui belas kasihan dan karunia Allah itu sendiri! Sekalipun demikian, hal ini tidak pasti terjadi, sebab sang rasul memberitahukan kita bahwa ia tahu bagaimana caranya hidup berkelimpahan. Ketika ia mempunyai kelimpahan, ia tahu bagaimana menggunakannya. Anugerah yang berlimpah memampukannya untuk menanggung kemakmuran yang berlimpah. Ketika layar kapal membentang penuh, ia dimuati dengan banyak pemberat, sehingga tetap mengapung dengan aman. Perlu lebih dari ketrampilan manusia untuk memegang dengan stabil cawan yang meluap dengan kesenangan duniawi, tetapi Paulus sudah mempelajarinya, karena dia menyatakan, \u201cDalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan.\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Filipi%204:12\">Filipi 4:12<\/a>] Bagaimana hidup berkelimpahan merupakan pengajaran ilahi, karena orang Israel pernah sangat berkelimpahan, tetapi saat daging bahkan masih di dalam mulut mereka, murka Allah turun ke atas mereka. Banyak orang memohon rahmat supaya mereka bisa memuaskan keinginan hatinya sendiri. Limpahnya roti sering mengakibatkan limpahnya darah, dan mendatangkan hawa nafsu. Ketika kita memiliki banyak rahmat pemeliharaan Allah, sering terjadi malah kita hanya memiliki sedikit anugerah Allah, dan rasa syukur yang terlalu sedikit atas berkat yang sudah kita terima. Kita kenyang dan kita melupakan Allah: puas dengan bumi, kita merasa cukup tanpa surga. Yakinlah bahwa lebih susah belajar bagaimana hidup dalam kekenyangan daripada dalam kelaparan\u2014sebegitu parahnya kecenderungan manusia untuk memegahkan diri dan melupakan Allah. Berhati-hatilah supaya dalam doamu engkau meminta Allah mengajarkan \u201cbagaimana hidup dalam kelimpahan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ada banyak yang tahu \u201capa itu kekurangan\u201d namun belum pernah belajar \u201capa itu kelimpahan\u201d. Ketika mereka mencapai puncak, kepala mereka menjadi pusing, dan mereka siap jatuh. Orang Kristen jauh lebih sering mempermalukan imannya dalam kemakmuran daripada dalam masalah. Menjadi makmur itu berbahaya. Tungku kekurangan adalah ujian yang lebih ringan bagi orang Kristen dibanding [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31100","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"100","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31100","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31100"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31100\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68765,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31100\/revisions\/68765"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31100"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31100"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31100"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}