{"id":31106,"date":"2026-02-12T18:15:30","date_gmt":"2026-02-12T11:15:30","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/menjaga-supaya-jangan-kamu-tersandung-yudas-124\/"},"modified":"2026-02-12T18:15:31","modified_gmt":"2026-02-12T11:15:31","slug":"menjaga-supaya-jangan-kamu-tersandung-yudas-124","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/menjaga-supaya-jangan-kamu-tersandung-yudas-124\/","title":{"rendered":"Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah. [2 Korintus 1:5]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ini terjadi secara seimbang, penuh berkat. Sang Penguasa Pemeliharaan memegang neraca\u2014di satu sisi Dia menaruh ujian-ujian umat-Nya, dan di sisi lainnya penghiburan mereka. Ketika neraca ujian hampir kosong, engkau akan melihat demikian pulalah neraca penghiburan; tetapi ketika neraca ujian penuh, lihatlah bahwa neraca penghiburan juga sama beratnya. Saat awan gelap berkumpul paling banyak, cahaya semakin terang terlihat oleh kita. Ketika malam menjelang dan badai datang, Sang Kapten Surgawi berada paling dekat dengan awak-Nya. Ini merupakan berkat, sebab saat kita paling terpuruk adalah saat kita paling terangkat oleh penghiburan Roh Kudus. Salah satu alasannya adalah karena ujian memberi lebih banyak ruang untuk penghiburan. Hati yang agung hanya bisa dibentuk melalui masalah yang besar. Sekop kesusahan dapat lebih dalam menggali waduk penghiburan, dan membuka lahan untuk anugerah. Allah masuk ke dalam hati kita\u2014Ia mendapatinya penuh\u2014Ia mulai menghancurkan kenyamanan kita untuk menjadikannya kosong; sehingga ada lebih banyak ruang untuk anugerah. Semakin rendah seseorang terbaring, semakin besar penghiburan yang dia dapatkan, karena dia akan lebih siap untuk menerimanya. Alasan lain kenapa kita paling berbahagia dalam kesulitan yaitu\u2014dengan itu kita memiliki hubungan yang paling dekat dengan Allah. Ketika lumbung penuh, orang dapat hidup tanpa Allah: ketika kantong berkelimpahan dengan emas, kita mencoba hidup tanpa banyak berdoa. Tetapi coba pohon jarak kita diambil, barulah kita rindu akan Allah kita; coba buang segala ilah dari rumah kita, barulah kita terdorong untuk memuliakan TUHAN. \u201cDari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan!\u201d [Mazmur 130:1] Tidak ada seruan yang lebih baik selain dari yang datang dari kaki pegunungan; tidak ada doa yang lebih sungguh selain yang datang dari kedalaman jiwa kita, melalui ujian dan penderitaan yang mendalam. Karena itulah ujian dan penderitaan membawa kita kepada Allah, dan kita menjadi lebih bahagia; karena dekat dengan Allah merupakan kebahagiaan. Mari, orang percaya yang susah, janganlah resah dengan kesukaran-kesukaranmu yang berat itu, karena merekalah pewarta rahmat yang melimpah. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Ini terjadi secara seimbang, penuh berkat. Sang Penguasa Pemeliharaan memegang neraca\u2014di satu sisi Dia menaruh ujian-ujian umat-Nya, dan di sisi lainnya penghiburan mereka. Ketika neraca ujian hampir kosong, engkau akan melihat demikian pulalah neraca penghiburan; tetapi ketika neraca ujian penuh, lihatlah bahwa neraca penghiburan juga sama beratnya. Saat awan gelap berkumpul paling banyak, cahaya semakin terang terlihat oleh kita. Ketika malam menjelang dan badai datang, Sang Kapten Surgawi berada paling dekat dengan awak-Nya. Ini merupakan berkat, sebab saat kita paling terpuruk adalah saat kita paling terangkat oleh penghiburan Roh Kudus. Salah satu alasannya adalah karena <i>ujian memberi lebih banyak ruang untuk penghiburan<\/i>. Hati yang agung hanya bisa dibentuk melalui masalah yang besar. Sekop kesusahan dapat lebih dalam menggali waduk penghiburan, dan membuka lahan untuk anugerah. Allah masuk ke dalam hati kita\u2014Ia mendapatinya penuh\u2014Ia mulai menghancurkan kenyamanan kita untuk menjadikannya kosong; sehingga ada lebih banyak ruang untuk anugerah. Semakin rendah seseorang terbaring, semakin besar penghiburan yang dia dapatkan, karena dia akan lebih siap untuk menerimanya. Alasan lain kenapa kita paling berbahagia dalam kesulitan yaitu\u2014<i>dengan itu kita memiliki hubungan yang paling dekat dengan Allah<\/i>. Ketika lumbung penuh, orang dapat hidup tanpa Allah: ketika kantong berkelimpahan dengan emas, kita mencoba hidup tanpa banyak berdoa. Tetapi coba <i>pohon jarak<\/i> kita diambil, barulah kita rindu akan <i>Allah<\/i> kita; coba buang segala ilah dari rumah kita, barulah kita terdorong untuk memuliakan TUHAN. \u201cDari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan!\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Mazmur%20130:1\">Mazmur 130:1<\/a>] Tidak ada seruan yang lebih baik selain dari yang datang dari kaki pegunungan; tidak ada doa yang lebih sungguh selain yang datang dari kedalaman jiwa kita, melalui ujian dan penderitaan yang mendalam. Karena itulah ujian dan penderitaan membawa kita kepada Allah, dan kita menjadi lebih bahagia; karena dekat dengan Allah merupakan kebahagiaan. Mari, orang percaya yang susah, janganlah resah dengan kesukaran-kesukaranmu yang berat itu, karena merekalah pewarta rahmat yang melimpah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ini terjadi secara seimbang, penuh berkat. Sang Penguasa Pemeliharaan memegang neraca\u2014di satu sisi Dia menaruh ujian-ujian umat-Nya, dan di sisi lainnya penghiburan mereka. Ketika neraca ujian hampir kosong, engkau akan melihat demikian pulalah neraca penghiburan; tetapi ketika neraca ujian penuh, lihatlah bahwa neraca penghiburan juga sama beratnya. Saat awan gelap berkumpul paling banyak, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31106","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"96","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31106","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31106"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31106\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68770,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31106\/revisions\/68770"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31106"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31106"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31106"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}