{"id":31169,"date":"2026-02-27T18:15:43","date_gmt":"2026-02-27T11:15:43","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/oleh-karena-kebenaran-yang-tetap-di-dalam-kita-dan-yang-akan-menyertai-kita-sampai-selama-lamanya-2-yohanes-12\/"},"modified":"2026-02-27T18:15:45","modified_gmt":"2026-02-27T11:15:45","slug":"oleh-karena-kebenaran-yang-tetap-di-dalam-kita-dan-yang-akan-menyertai-kita-sampai-selama-lamanya-2-yohanes-12","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/oleh-karena-kebenaran-yang-tetap-di-dalam-kita-dan-yang-akan-menyertai-kita-sampai-selama-lamanya-2-yohanes-12\/","title":{"rendered":"TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu. [Mazmur 91:9]"},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Bangsa Israel di padang gurun terus menerus berpindah. Setiap kali pilar tidak bergerak, tenda didirikan; Tetapi hari berikutnya, sebelum matahari pagi terbit, sangkakala berbunyi, tabut perjanjian bergerak, dan tiang api dan awan memimpin jalan melalui celah-celah pegunungan, di sisi bukit, atau sepanjang limbah kekeringan padang gurun. Mereka punya waktu beristirahat sebentar saja sebelum mereka mendengar seruan \u201cBergerak! bukan di sini tempat peristirahatan kalian; kalian harus terus berjalan maju sampai Kanaan!\u201d Mereka tidak pernah tinggal lama di satu tempat. Bahkan sumur dan pohon palem tidak dapat menahan mereka. Namun mereka memiliki rumah kediaman di dalam Allah mereka, tiang awan adalah atap mereka, dan api pada malam hari adalah perapian rumah mereka. Mereka harus pergi dari satu tempat ke tempat lain, terus-menerus berpindah, tidak memiliki tempat berdiam, maupun dapat berkata, \u201cSekarang kita sudah aman; di tempat ini kita akan tinggal.\u201d \u201cNamun,\u201d Musa berkata, \u201cmeskipun kami selalu berpindah, Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.\u201d [Mazmur 90:1] Orang Kristen mengetahui Allah tidak pernah berubah. Dia mungkin kaya hari ini dan miskin besok; dia mungkin sakit hari ini dan sehat besok; dia mungkin bahagia hari ini dan merasa tertekan besok\u2014tetapi hubungannya dengan Allah tidak berubah. Jika Ia mengasihiku kemarin, Ia mengasihiku hari ini. Rumah peristirahatanku yang tidak pernah berpindah adalah Tuhanku yang terpuji. Meski masa depan menjadi suram; meski harapan menjadi hancur; meski kebahagiaan menjadi layu; meski jamur menghancurkan segalanya; aku tidak akan kehilangan apa yang kupunya di dalam Allah. Dia adalah \\\"bagiku gunung batu di mana aku dapat terus berteduh.\\\" [Mazmur 71:3] Aku adalah seorang musafir di dunia, tetapi sedang di rumah di dalam Allahku. Di dalam bumi aku berkelana, tetapi di dalam Allah aku tinggal di tempat kediaman yang aman. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Bangsa Israel di padang gurun <i>terus menerus berpindah<\/i>. Setiap kali pilar tidak bergerak, tenda didirikan; Tetapi hari berikutnya, sebelum matahari pagi terbit, sangkakala berbunyi, tabut perjanjian bergerak, dan tiang api dan awan memimpin jalan melalui celah-celah pegunungan, di sisi bukit, atau sepanjang limbah kekeringan padang gurun. Mereka punya waktu beristirahat sebentar saja sebelum mereka mendengar seruan \u201cBergerak! bukan di sini tempat peristirahatan kalian; kalian harus terus berjalan maju sampai Kanaan!\u201d Mereka tidak pernah tinggal lama di satu tempat. Bahkan sumur dan pohon palem tidak dapat menahan mereka. Namun mereka memiliki rumah kediaman di dalam Allah mereka, tiang awan adalah atap mereka, dan api pada malam hari adalah perapian rumah mereka. Mereka harus pergi dari satu tempat ke tempat lain, terus-menerus berpindah, tidak memiliki tempat berdiam, maupun dapat berkata, \u201cSekarang kita sudah aman; di tempat ini kita akan tinggal.\u201d \u201cNamun,\u201d Musa berkata, \u201cmeskipun kami selalu berpindah, Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Mazmur%2090:1\">Mazmur 90:1<\/a>] Orang Kristen mengetahui Allah tidak pernah berubah. Dia mungkin kaya hari ini dan miskin besok; dia mungkin sakit hari ini dan sehat besok; dia mungkin bahagia hari ini dan merasa tertekan besok\u2014tetapi hubungannya dengan Allah tidak berubah. Jika Ia mengasihiku kemarin, Ia mengasihiku hari ini. Rumah peristirahatanku yang tidak pernah berpindah adalah Tuhanku yang terpuji. Meski masa depan menjadi suram; meski harapan menjadi hancur; meski kebahagiaan menjadi layu; meski jamur menghancurkan segalanya; aku tidak akan kehilangan apa yang kupunya di dalam Allah. Dia adalah &#8220;bagiku gunung batu di mana aku dapat terus berteduh.&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Mazmur%2071:3\">Mazmur 71:3<\/a>] Aku adalah seorang musafir di dunia, tetapi sedang di rumah di dalam Allahku. Di dalam bumi aku berkelana, tetapi di dalam Allah aku tinggal di tempat kediaman yang aman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Bangsa Israel di padang gurun terus menerus berpindah. Setiap kali pilar tidak bergerak, tenda didirikan; Tetapi hari berikutnya, sebelum matahari pagi terbit, sangkakala berbunyi, tabut perjanjian bergerak, dan tiang api dan awan memimpin jalan melalui celah-celah pegunungan, di sisi bukit, atau sepanjang limbah kekeringan padang gurun. Mereka punya waktu beristirahat sebentar saja sebelum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31169","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"32","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31169","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31169"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31169\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68805,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31169\/revisions\/68805"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31169"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31169"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31169"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}