{"id":31227,"date":"2026-03-01T18:15:44","date_gmt":"2026-03-01T11:15:44","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/benarlah-perkataan-ini-2-timotius-211\/"},"modified":"2026-03-01T18:15:45","modified_gmt":"2026-03-01T11:15:45","slug":"benarlah-perkataan-ini-2-timotius-211","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/benarlah-perkataan-ini-2-timotius-211\/","title":{"rendered":"Bangunlah, hai angin utara, dan marilah, hai angin selatan, bertiuplah dalam kebunku, supaya semerbaklah bau rempah-rempahnya! [Kidung Agung 4:16]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Apapun lebih baik daripada ketidakpedulian yang tenang dan mati. Jiwa kita mungkin dengan bijak menginginkan masalah dari angin utara, jika masalah itu bisa dikuduskan untuk menarik bau semerbak dari kasih karunia kita. Jadi selama tidak bisa dikatakan, &quot;Tidak ada TUHAN dalam angin itu,&quot; [1 Raja-raja 19:11] kita tidak akan ciut oleh badai terdingin yang pernah meniup tumbuh-tumbuhan kasih karunia. Bukankah mempelai wanita dalam ayat ini dengan rendah hati menyerahkan diri pada kecaman dari Kekasihnya; sekedar memohon Dia untuk memancarkan kasih karunia-Nya dalam bentuk apapun, tanpa menentukan harus dengan cara apa kasih karunia itu datang? Tidakkah dia, seperti diri kita sendiri, menjadi benar-benar diam dalam kematian dan berada dalam ketenangan yang tidak suci hingga merindukan sebuah kunjungan yang akan menguatkan dirinya untuk bertindak? Akan tetapi, dia juga menginginkan kehangatan angin selatan yang nyaman, senyum cinta ilahi, sukacita kehadiran Sang Penebus; hal-hal ini sering kali amat mujarab untuk membangkitkan kehidupan kita yang lamban. Diinginkannya angin utara, atau angin selatan, atau keduanya; asalkan dia dapat menyenangkan Kekasihnya dengan rempah-rempah dari kebunnya. Dia tidak tahan menjadi orang yang tidak berguna, begitu pulalah kita. Begitu menyenangkan memikirkan bahwa Yesus dapat menemukan suatu kenyamanan di dalam kasih karunia kita yang lemah dan miskin. Memangnya mungkin? Rasanya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Kita mungkin berani mendekati ujian atau bahkan kematian jika melaluinya kita ditolong membuat hati Sang Immanuel senang. O, silakan hati kami dihancurkan menjadi atom-atom jika hanya oleh memar seperti itu Yesus Tuhan kami yang manis itu bisa dipermuliakan. Kasih karunia yang belum terlatih adalah seperti wewangian yang tertidur pulas dalam kuncup bunga: kebijaksanaan dari Sang Petani agung mengesampingkan penyebab-penyebab yang beragam dan saling berlawanan demi menghasilkan sesuatu yang dikehendaki-Nya, dan membuat baik penderitaan maupun penghiburan menarik keluar wangi syukur dari iman, kasih, kesabaran, pengharapan, penyerahan diri, sukacita, dan bunga-bunga kebun lainnya yang indah. Semoga kita mengerti makna ini lewat pengalaman yang manis. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Apapun lebih baik daripada ketidakpedulian yang tenang dan mati. Jiwa kita mungkin dengan bijak menginginkan masalah dari angin utara, jika masalah itu bisa dikuduskan untuk menarik bau semerbak dari kasih karunia kita. Jadi selama tidak bisa dikatakan, &#8220;Tidak ada TUHAN dalam angin itu,&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?1%20Raja-raja%2019:11\">1 Raja-raja 19:11<\/a>] kita tidak akan ciut oleh badai terdingin yang pernah meniup tumbuh-tumbuhan kasih karunia. Bukankah mempelai wanita dalam ayat ini dengan rendah hati menyerahkan diri pada kecaman dari Kekasihnya; sekedar memohon Dia untuk memancarkan kasih karunia-Nya dalam bentuk apapun, tanpa menentukan harus dengan cara apa kasih karunia itu datang? Tidakkah dia, seperti diri kita sendiri, menjadi benar-benar diam dalam kematian dan berada dalam ketenangan yang tidak suci hingga merindukan sebuah kunjungan yang akan menguatkan dirinya untuk bertindak? Akan tetapi, dia juga menginginkan kehangatan angin selatan yang nyaman, senyum cinta ilahi, sukacita kehadiran Sang Penebus; hal-hal ini sering kali amat mujarab untuk membangkitkan kehidupan kita yang lamban. Diinginkannya angin utara, atau angin selatan, atau keduanya; asalkan dia dapat menyenangkan Kekasihnya dengan rempah-rempah dari kebunnya. Dia tidak tahan menjadi orang yang tidak berguna, begitu pulalah kita. Begitu menyenangkan memikirkan bahwa Yesus dapat menemukan suatu kenyamanan di dalam kasih karunia kita yang lemah dan miskin. Memangnya mungkin? Rasanya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Kita mungkin berani mendekati ujian atau bahkan kematian jika melaluinya kita ditolong membuat hati Sang Immanuel senang. O, silakan hati kami dihancurkan menjadi atom-atom jika hanya oleh memar seperti itu Yesus Tuhan kami yang manis itu bisa dipermuliakan. Kasih karunia yang belum terlatih adalah seperti wewangian yang tertidur pulas dalam kuncup bunga: kebijaksanaan dari Sang Petani agung mengesampingkan penyebab-penyebab yang beragam dan saling berlawanan demi menghasilkan sesuatu yang dikehendaki-Nya, dan membuat baik penderitaan maupun penghiburan menarik keluar wangi syukur dari iman, kasih, kesabaran, pengharapan, penyerahan diri, sukacita, dan bunga-bunga kebun lainnya yang indah. Semoga kita mengerti makna ini lewat pengalaman yang manis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Apapun lebih baik daripada ketidakpedulian yang tenang dan mati. Jiwa kita mungkin dengan bijak menginginkan masalah dari angin utara, jika masalah itu bisa dikuduskan untuk menarik bau semerbak dari kasih karunia kita. Jadi selama tidak bisa dikatakan, &#8220;Tidak ada TUHAN dalam angin itu,&#8221; [1 Raja-raja 19:11] kita tidak akan ciut oleh badai terdingin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31227","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"78","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31227","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31227"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31227\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68809,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31227\/revisions\/68809"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31227"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31227"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31227"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}