{"id":31385,"date":"2026-03-11T18:15:31","date_gmt":"2026-03-11T11:15:31","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/aku-akan-mencurahkan-air-ke-atas-tanah-yang-haus-yesaya-443-1\/"},"modified":"2026-03-11T18:15:33","modified_gmt":"2026-03-11T11:15:33","slug":"aku-akan-mencurahkan-air-ke-atas-tanah-yang-haus-yesaya-443-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/aku-akan-mencurahkan-air-ke-atas-tanah-yang-haus-yesaya-443-1\/","title":{"rendered":"Dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa. [Roma 7:13]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Berhati-hatilah terhadap pikiran yang menganggap enteng dosa. Waktu kita pertama kali menjadi orang Kristen, hati nurani kita begitu lembut, sehingga kita takut terhadap dosa yang paling kecil. Orang Kristen yang baru memiliki ketakutan yang suci, kegentaran yang saleh untuk tidak melawan Allah. Tetapi sayang! dengan segera bunga yang baik dari buah-buahan pertama yang matang ini gugur oleh dunia sekitarnya yang kasar: tanaman muda yang peka akan kesalehan berubah menjadi semak belukar, terlalu lembek dan terlalu mudah menyerah. Sayangnya hal ini sungguh-sungguh nyata: bahwa orang Kristen dapat tumbuh sedikit demi sedikit menjadi tidak peka, sehingga dosa yang dulunya mengejutkan dia tidak lagi menggusarkan dirinya sedikit pun. Sedikit demi sedikit manusia menjadi akrab dengan dosa. Telinga yang pernah mendengar ledakan meriam tidak dapat mendengar suara yang sayup-sayup. Pada awalnya dosa yang kecil mengejutkan kita; tapi segera kita berkata, &quot;Bukankah ini dosa kecil?&quot; Lalu datang lagi dosa lain, yang lebih besar, lalu yang lain, sampai perlahan-lahan kita mulai menganggap dosa hanya sebagai suatu penyakit ringan; dan berikutnya muncullah anggapan yang tidak suci ini, &quot;Kami belum jelas-jelas jatuh ke dalam dosa. Memang, kami sedikit tersandung, tapi kami masih berdiri tegak. Kami mungkin pernah mengucapkan satu kata yang tidak suci, tetapi sebagian besar percakapan kami sudah konsisten.\u201d Jadi kita meringankan dosa; kita menudunginya dengan jubah; kita menyebutnya remeh. Hai orang Kristen, berhati-hatilah dengan bagaimana engkau menganggap ringan dosa. Waspadalah supaya jangan engkau jatuh sedikit demi sedikit. Dosa, hal kecil? Bukankah itu racun? Siapa yang tahu efeknya yang mematikan? Dosa, hal kecil? Bukankah yang merusak anggur adalah rubah kecil? Bukankah serangga karang yang kecil dapat membangun sebuah batu yang menenggelamkan kapal angkatan laut? Bukankah hantaman-hantaman kecil menjatuhkan pohon ek yang tinggi? Bukankah tetesan air yang terus-menerus mengikis habis sebuah batu? Dosa, hal kecil? Dosa mengenakan duri di kepala Sang Penebus, dan menusuk hati-Nya! Dosa membuat Dia merasakan kesedihan, kepahitan, dan celaka. Jikalau engkau dapat menimbang dosa dengan timbangan kekekalan, engkau akan lari darinya seperti lari dari ular, dan jijik dengan paras kejahatan yang terkecil sekalipun. Pandanglah semua dosa sebagai hal yang menyalibkan Juruselamat, dan engkau akan melihatnya sebagai \u201cdosa yang lebih nyata.&quot; RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Berhati-hatilah terhadap pikiran yang menganggap enteng dosa. Waktu kita pertama kali menjadi orang Kristen, hati nurani kita begitu lembut, sehingga kita takut terhadap dosa yang paling kecil. Orang Kristen yang baru memiliki ketakutan yang suci, kegentaran yang saleh untuk tidak melawan Allah. Tetapi sayang! dengan segera bunga yang baik dari buah-buahan pertama yang matang ini gugur oleh dunia sekitarnya yang kasar: tanaman muda yang peka akan kesalehan berubah menjadi semak belukar, terlalu lembek dan terlalu mudah menyerah. Sayangnya hal ini sungguh-sungguh nyata: bahwa orang Kristen dapat tumbuh sedikit demi sedikit menjadi tidak peka, sehingga dosa yang dulunya mengejutkan dia tidak lagi menggusarkan dirinya sedikit pun. Sedikit demi sedikit manusia menjadi akrab dengan dosa. Telinga yang pernah mendengar ledakan meriam tidak dapat mendengar suara yang sayup-sayup. Pada awalnya dosa yang kecil mengejutkan kita; tapi segera kita berkata, &#8220;Bukankah ini dosa kecil?&#8221; Lalu datang lagi dosa lain, yang lebih besar, lalu yang lain, sampai perlahan-lahan kita mulai menganggap dosa hanya sebagai suatu penyakit ringan; dan berikutnya muncullah anggapan yang tidak suci ini, &#8220;Kami belum jelas-jelas jatuh ke dalam dosa. Memang, kami sedikit tersandung, tapi kami masih berdiri tegak. Kami mungkin pernah mengucapkan satu kata yang tidak suci, tetapi sebagian besar percakapan kami sudah konsisten.\u201d Jadi kita meringankan dosa; kita menudunginya dengan jubah; kita menyebutnya remeh. Hai orang Kristen, berhati-hatilah dengan bagaimana engkau menganggap ringan dosa. Waspadalah supaya jangan engkau jatuh sedikit demi sedikit. Dosa, hal <i>kecil<\/i>? Bukankah itu racun? Siapa yang tahu efeknya yang mematikan? Dosa, hal kecil? Bukankah yang merusak anggur adalah rubah kecil? Bukankah serangga karang yang kecil dapat membangun sebuah batu yang menenggelamkan kapal angkatan laut? Bukankah hantaman-hantaman kecil menjatuhkan pohon ek yang tinggi? Bukankah tetesan air yang terus-menerus mengikis habis sebuah batu? Dosa, hal kecil? Dosa mengenakan duri di kepala Sang Penebus, dan menusuk hati-Nya! Dosa membuat Dia merasakan kesedihan, kepahitan, dan celaka. Jikalau engkau dapat menimbang dosa dengan timbangan kekekalan, engkau akan lari darinya seperti lari dari ular, dan jijik dengan paras kejahatan yang terkecil sekalipun. Pandanglah semua dosa sebagai hal yang menyalibkan Juruselamat, dan engkau akan melihatnya sebagai \u201cdosa yang lebih nyata.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Berhati-hatilah terhadap pikiran yang menganggap enteng dosa. Waktu kita pertama kali menjadi orang Kristen, hati nurani kita begitu lembut, sehingga kita takut terhadap dosa yang paling kecil. Orang Kristen yang baru memiliki ketakutan yang suci, kegentaran yang saleh untuk tidak melawan Allah. Tetapi sayang! dengan segera bunga yang baik dari buah-buahan pertama yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31385","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"66","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31385","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31385"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31385\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68840,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31385\/revisions\/68840"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31385"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31385"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31385"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}