{"id":31549,"date":"2026-03-29T18:15:39","date_gmt":"2026-03-29T11:15:39","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/segala-sesuatu-yang-dijumpai-tanganmu-untuk-dikerjakan-kerjakanlah-itu-sekuat-tenaga-pengkhotbah-910\/"},"modified":"2026-03-29T18:15:40","modified_gmt":"2026-03-29T11:15:40","slug":"segala-sesuatu-yang-dijumpai-tanganmu-untuk-dikerjakan-kerjakanlah-itu-sekuat-tenaga-pengkhotbah-910","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/segala-sesuatu-yang-dijumpai-tanganmu-untuk-dikerjakan-kerjakanlah-itu-sekuat-tenaga-pengkhotbah-910\/","title":{"rendered":"Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya. [Ibrani 5:8]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kita diberitahu bahwa Yesus, yang memimpin kita kepada keselamatan, menjadi sempurna melalui penderitaan [Ibrani 2:10], karena itu kita yang berdosa, yang jauh dari sempurna, tidak boleh bertanya-tanya apakah kita dipanggil melewati penderitaan juga. Masakan sang Kepala dimahkotai duri, tetapi anggota tubuh yang lain berayun-ayun dalam kenyamanan? Masakan Kristus melewati lautan darah-Nya sendiri untuk memenangkan mahkota, sementara kita berjalan ke surga dengan kaki yang kering memakai sandal perak? Tidak, pengalaman Tuan kita mengajarkan kita bahwa penderitaan itu perlu, dan anak yang sungguh lahir dari Allah tidak boleh dan tidak akan dapat melarikan diri. Tapi ada satu pemikiran yang sangat menghibur, bahwa Kristus &quot;menjadi sempurna melalui penderitaan&quot; \u2014 yaitu, bahwa Dia dapat merasakan hal yang sama dengan kita. &quot;Dia bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita.&quot; [Ibrani 4:15] Dalam simpati Kristus ini kita menemukan kuasa yang menopang. Salah satu martir mula-mula berkata, &quot;Aku dapat menanggung semuanya, karena Yesus pernah menderita, dan sekarang Dia menderita di dalam diriku; Dia bersimpati denganku, hal ini membuat aku kuat.&quot; Hai orang percaya, peganglah erat-erat pikiran ini dalam setiap saat penderitaan. Biarlah pikiran akan Yesus menguatkanmu ketika engkau mengikuti jejak-Nya. Temukan topangan yang manis dalam simpati-Nya; dan ingatlah bahwa menderita adalah hal yang terhormat \u2014 menderita bagi Kristus adalah kemuliaan. Para rasul bersukacita sebab mereka dianggap layak melakukan hal ini. Sejauh mana Dia memberi kita kasih karunia kepada kita untuk menderita bagi Kristus dan menderita bersama Kristus, sejauh itu pula Dia mempermuliakan kita. Permata dari seorang Kristen adalah penderitaannya. Tanda kerajaan dari raja-raja yang telah diurapi Allah adalah kesusahan, penderitaan, dan kesedihan mereka. Karena itu, janganlah kita menjauhi kehormatan yang diberikan kepada kita. Janganlah kita tidak mau dipermuliakan. Kesedihan mempermuliakan kita, dan masalah mengangkat kita. &quot;Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia.&quot; [2 Timotius 2:12] RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Kita diberitahu bahwa Yesus, yang memimpin kita kepada keselamatan, menjadi sempurna melalui penderitaan [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Ibrani%202:10\">Ibrani 2:10<\/a>], karena itu kita yang berdosa, yang jauh dari sempurna, tidak boleh bertanya-tanya apakah kita dipanggil melewati penderitaan juga. Masakan sang Kepala dimahkotai duri, tetapi anggota tubuh yang lain berayun-ayun dalam kenyamanan? Masakan Kristus melewati lautan darah-Nya sendiri untuk memenangkan mahkota, sementara kita berjalan ke surga dengan kaki yang kering memakai sandal perak? Tidak, pengalaman Tuan kita mengajarkan kita bahwa penderitaan itu perlu, dan anak yang sungguh lahir dari Allah tidak boleh dan tidak akan dapat melarikan diri. Tapi ada satu pemikiran yang sangat menghibur, bahwa Kristus &#8220;menjadi sempurna melalui penderitaan&#8221; \u2014 yaitu, bahwa Dia dapat merasakan hal yang sama dengan kita. &#8220;Dia bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita.&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Ibrani%204:15\">Ibrani 4:15<\/a>] Dalam simpati Kristus ini kita menemukan kuasa yang menopang. Salah satu martir mula-mula berkata, &#8220;Aku dapat menanggung semuanya, karena Yesus pernah menderita, dan sekarang Dia menderita di dalam diriku; Dia bersimpati denganku, hal ini membuat aku kuat.&#8221; Hai orang percaya, peganglah erat-erat pikiran ini dalam setiap saat penderitaan. Biarlah pikiran akan Yesus menguatkanmu ketika engkau mengikuti jejak-Nya. Temukan topangan yang manis dalam simpati-Nya; dan ingatlah bahwa menderita adalah hal yang terhormat \u2014 menderita bagi Kristus adalah kemuliaan. Para rasul bersukacita sebab mereka dianggap layak melakukan hal ini. Sejauh mana Dia memberi kita kasih karunia kepada kita untuk menderita <i>bagi<\/i> Kristus dan menderita <i>bersama<\/i> Kristus, sejauh itu pula Dia mempermuliakan kita. Permata dari seorang Kristen adalah penderitaannya. Tanda kerajaan dari raja-raja yang telah diurapi Allah adalah kesusahan, penderitaan, dan kesedihan mereka. Karena itu, janganlah kita menjauhi kehormatan yang diberikan kepada kita. Janganlah kita tidak mau dipermuliakan. Kesedihan mempermuliakan kita, dan masalah mengangkat kita. &#8220;Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia.&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?2%20Timotius%202:12\">2 Timotius 2:12<\/a>]<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kita diberitahu bahwa Yesus, yang memimpin kita kepada keselamatan, menjadi sempurna melalui penderitaan [Ibrani 2:10], karena itu kita yang berdosa, yang jauh dari sempurna, tidak boleh bertanya-tanya apakah kita dipanggil melewati penderitaan juga. Masakan sang Kepala dimahkotai duri, tetapi anggota tubuh yang lain berayun-ayun dalam kenyamanan? Masakan Kristus melewati lautan darah-Nya sendiri untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31549","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"73","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31549","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31549"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31549\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68877,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31549\/revisions\/68877"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31549"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31549"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31549"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}