{"id":31551,"date":"2019-12-01T22:59:28","date_gmt":"2019-12-01T15:59:28","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=31551"},"modified":"2019-12-01T22:59:28","modified_gmt":"2019-12-01T15:59:28","slug":"umat-kristen-jepang-dipaksa-menginjak-simbol-wajah-yesus-sebagai-bukti-murtad-pada-abad-ke-17-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/umat-kristen-jepang-dipaksa-menginjak-simbol-wajah-yesus-sebagai-bukti-murtad-pada-abad-ke-17-2\/","title":{"rendered":"Umat Kristen Jepang dipaksa menginjak simbol wajah Yesus sebagai bukti murtad pada abad ke-17"},"content":{"rendered":"<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Paus Fransiskus tiba di Jepang pada hari Sabtu (23\/11) dan mengunjungi Nagasaki pada hari Minggu (24\/11) untuk memberikan penghormatan kepada para korban bom atom Perang Dunia Kedua.<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tetapi Paus juga memberikan penghormatan kepada kelompok penduduk yang ratusan tahun lalu disiksa dan dipaksa menyembunyikan diri karena keyakinan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada abad ke-17, penduduk Nagasaki beragama Kristen dipaksa melakukan <i>fumie<\/i> atau menginjak lempengan tembaga yang merupakan simbol Yesus Kristus yang disalib.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka melakukan hal ini dengan disaksikan pejabat pemerintah setempat dari ibu kota.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ini adalah pernyataan di depan umum bahwa mereka telah murtad alias meninggalkan agama Kristen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika umat Kristen tidak melakukan<i> fumie<\/i>, mereka akan dapat dihukum mati, disalib, atau disiksa dengan cara dimasukkan ke dalam air panas mendidih atau digantung terbalik di atas kubangan kotoran.<\/p>\n<h2 class=\"story-body__crosshead\" style=\"text-align: justify;\">Roma-nya Jepang<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Agama Kristen pertama kali memasuki Nagasaki sekitar 1560, ketika misionaris Jesuit dari Portugal mulai tiba.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka berusaha menjadikan penguasa feodal menganut agama Kristen. Para penguasa ini sebagian menjadi Kristen agar dapat berdagang dengan Portugal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banyak petani juga menganut Kristen dan pada permulaan abad ke-17, kota tersebut telah menjadi &#8220;Roma-nya Jepang&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jumlah umat Nasrani di Nagasaki pernah mencapai 500.000 orang.<\/p>\n<figure class=\"media-landscape has-caption full-width lead\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"js-image-replace\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/5ddd05f85ae2b.jpeg?resize=976%2C549&#038;ssl=1\" alt=\"Orang Portugis tiba di Nagasaki pada abad ke-17.\" width=\"976\" height=\"549\" \/><span class=\"off-screen\"><span class=\"media-caption__text\">Orang Portugis tiba di Nagasaki pada abad ke-17.<\/span> (Hak atas foto: <\/span><span class=\"story-image-copyright\">Getty Images)<\/span><figcaption class=\"media-caption\"><\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tetapi kemudian, penguasa politik Jepang memandang pesatnya pertumbuhan Kristen sebagai sebuah ancaman. Mereka memutuskan untuk menumpasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada paruh kedua abad ke-16, sebanyak 26 misionaris dihukum mati di Nagasaki.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tahun 1614, larangan keras terhadap agama Kristen diterapkan di seluruh wilayah Jepang. Misionaris asing segera diusir. Jika menolak pergi, mereka ditangkap, dibunuh atau dipaksa meninggalkan agama Kristen.<\/p>\n<h2 class=\"story-body__crosshead\" style=\"text-align: justify;\">Disiksa berkali-kali<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekitar 1620-an, pemerintah menemukan cara untuk memusnahkan Kristen dari Jepang, yaitu dengan menggunakan <i>fumie<\/i>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap penduduk Nagasaki diperintahkan menginjak <i>fumie<\/i>, wajah Yesus Kristus atau Bunda Maria terbuat dari tembaga pada papan kayu. Praktik ini kemudian menjadi kegiatan yang dilakukan setiap permulaan tahun.<\/p>\n<figure class=\"media-landscape has-caption full-width lead\" style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: center;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"js-image-replace\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/5ddd05f8c6b90.jpeg?resize=976%2C549&#038;ssl=1\" alt=\"Fumie dengan wajah Yesus yang sudah menghilang.\" width=\"976\" height=\"549\" \/><span class=\"off-screen\"><span class=\"media-caption__text\"><br \/>\nFumie dengan wajah Yesus yang sudah menghilang.<\/span> (Hak atas foto: <\/span><span class=\"story-image-copyright\">Getty Images)<\/span><\/p><figcaption class=\"media-caption\"><\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banyak orang pada akhirnya menyerah dan menginjak <i>fumie<\/i>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jika Anda memeriksa <i>fumie<\/i> asli dengan seksama, satu detil yang terlihat adalah wajah Yesus sudah tidak ada lagi, ini mengingatkan akan banyaknya kaki yang telah menginjaknya,&#8221; kata Profesor Simon Hull, ahli Katolik Jepang di Nagasaki Junshin Catholic University.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mereka kadang-kadang menyiksa dengan menggantungnya di atas kolam berisi kotoran,&#8221; kata Professor Kiri Paramore, ahli kajian Asia di National University of Ireland.<\/p>\n<figure class=\"media-landscape has-caption full-width lead\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"js-image-replace\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/5ddd05f93b30a.jpeg?resize=976%2C549&#038;ssl=1\" alt=\"Umat Kristen digantung di atas kubangan berisi kotoran.\" width=\"976\" height=\"549\" \/><span class=\"off-screen\"><span class=\"media-caption__text\">Umat Kristen digantung di atas kubangan berisi kotoran.<\/span> (Hak atas foto: <\/span><span class=\"story-image-copyright\">Getty Images)<\/span><figcaption class=\"media-caption\"><\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tujuan utama penyiksaan ini bukan untuk membunuh, tetapi guna mematahkan iman mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kadang-kadang bahkan seorang dokter hadir sehingga warga Nasrani yang sepertinya akan meniggal, dapat dirawat agar sehat kembali sebelum disiksa kembali.&#8221; kata Hull.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekitar 2.000 orang pada akhirnya meninggal karena menolak meninggalkan agamanya.<\/p>\n<figure class=\"media-landscape has-caption full-width lead\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"js-image-replace\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/5ddd05f9a77ae.jpeg?resize=976%2C549&#038;ssl=1\" alt=\"Misionaris Jesuit dipenggal di Nagasaki pada tahun 1622.\" width=\"976\" height=\"549\" \/><span class=\"off-screen\"><span class=\"media-caption__text\"><br \/>\nMisionaris Jesuit dipenggal di Nagasaki pada tahun 1622.<\/span> (Hak atas foto: <\/span><span class=\"story-image-copyright\">Getty Images)<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<figcaption class=\"media-caption\"><\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang lainnya berpura-pura meninggalkan agamanya, tetapi tetap beribadah dengan diam-diam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka kemudian dikenal sebagai Kakure Kirishitan, atau orang Kristen tersembunyi.<\/p>\n<figure class=\"media-landscape has-caption full-width lead\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"js-image-replace\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/5ddd05fa202b5.jpeg?resize=976%2C549&#038;ssl=1\" alt=\"Patung dewi Buddha, Kanon, yang dipakai sebagai simbol Bunda Maria.\" width=\"976\" height=\"549\" \/><span class=\"off-screen\"><span class=\"media-caption__text\">Patung dewi Buddha, Kannon, yang dipakai sebagai simbol Bunda Maria.<\/span> (Hak atas foto: <\/span><span class=\"story-image-copyright\">Getty Images)<\/span><figcaption class=\"media-caption\"><\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka memasukkan elemen Jepang ke ritual Kristen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Misalnya jika Anda berpikir tentang komuni, roti dan anggur, mereka akan menggunakan nasi, bukannya roti,&#8221; kata Mark Mullins, profesor kajian Jepang di University of Auckland.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dewi Jepang seperti Kannon sering kali dipakai untuk menggantikan Bunda Maria.<\/p>\n<h2 class=\"story-body__crosshead\" style=\"text-align: justify;\">Keluar dari persembunyian<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhir abad ke-19, Jepang memutuskan untuk membuka perbatasan kembali. Tahun 1858 <i>fumie<\/i> dihapuskan di Nagasaki, Kemudian, pada 1873, larangan terhadap agama Kristen dicabut di Jepang, setelah diterapkan selama lebih dari dua abad.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ketika Jepang membuka kembali perbatasannya, sekitar 20.000 umat Kristen muncul kembali,&#8221; kata Mullins. &#8220;Dengan kata lain, kebijakan (<i>fumie<\/i>) dipandang efektif karena telah menjadikan jumlah penganut Nasrani dari 500.000 menjadi 20.000 orang.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada kunjungan di Nagasaki, Paus mengunjungi tugu peringatan untuk 26 martir yang meninggal saat persekusi mulai diterapkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat ini hanya sekitar 1% dari 126 juta penduduk Jepang beragama Kristen. Masyarakat Nasrani di Nagasaki tetapi merupakan komunitas Kristen terbesar di negara itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Salah satu paradoks sejarah Kristiani di Jepang adalah jika semua umat Katolik Jepang menolak menginjak simbol wajah Yesus dan memutuskan untuk meninggal sebagai martir, maka Kristriani di Jepang akan mati,&#8221; kata Hull.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Hanya karena sebagian pemeluk mengambil keputusan untuk menginjak <i>fumie<\/i>, meskipun agama mereka menyatakan tindakan tersebut sebagai dosa besar, Kristiani di Jepang dapat bertahan.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Laporan tambahan dari wartawan BBC, <\/i><i>Hideharu Tamura. <\/i><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Paus Fransiskus tiba di Jepang pada hari Sabtu (23\/11) dan mengunjungi Nagasaki pada hari Minggu (24\/11) untuk memberikan penghormatan kepada para korban bom atom Perang Dunia Kedua. Tetapi Paus juga memberikan penghormatan kepada kelompok penduduk yang ratusan tahun lalu disiksa dan dipaksa menyembunyikan diri karena keyakinan mereka. Pada abad ke-17, penduduk Nagasaki beragama Kristen dipaksa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31552,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[5,22,20,3],"tags":[],"class_list":["post-31551","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-internasional","category-sejarah","category-umum"],"better_featured_image":{"id":31552,"alt_text":"","caption":"","description":"5f411689363c936adb5ba5608dbaf353","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/5ddd05f762b2b.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/5ddd05f762b2b.jpeg?fit=320%2C180&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/5ddd05f762b2b.jpeg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0},{"id":20,"name":"Sejarah","description":"","slug":"sejarah","count":39,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/5ddd05f762b2b.jpeg?fit=320%2C180&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1836","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31551","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31551"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31551\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31552"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31551"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31551"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31551"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}