{"id":31573,"date":"2026-03-31T18:15:31","date_gmt":"2026-03-31T11:15:31","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sebab-aku-sangat-bersukacita-ketika-beberapa-saudara-datang-dan-memberi-kesaksian-tentang-hidupmu-dalam-kebenaran-sebab-memang-engkau-hidup-dalam-kebenaran-3-yohanes-13\/"},"modified":"2026-03-31T18:15:32","modified_gmt":"2026-03-31T11:15:32","slug":"sebab-aku-sangat-bersukacita-ketika-beberapa-saudara-datang-dan-memberi-kesaksian-tentang-hidupmu-dalam-kebenaran-sebab-memang-engkau-hidup-dalam-kebenaran-3-yohanes-13","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sebab-aku-sangat-bersukacita-ketika-beberapa-saudara-datang-dan-memberi-kesaksian-tentang-hidupmu-dalam-kebenaran-sebab-memang-engkau-hidup-dalam-kebenaran-3-yohanes-13\/","title":{"rendered":"Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. [Yesaya 53:5]"},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Pilatus menyerahkan Tuhan kita kepada algojo untuk dicambuk. Cambuk Romawi adalah alat penyiksaan yang paling mengerikan. Cambuk itu terbuat dari urat tendon sapi, dan tulang-tulang tajam dipelintir di sana-sini di antara tendon tersebut; sehingga setiap kali cemeti itu diayunkan, potongan-potongan tulang itu menimbulkan cabikan yang mengerikan, dan mengoyak daging dari tulang. Sang Juruselamat, tidak diragukan lagi, diikat pada sebuah pilar, dan kemudian dipukuli. Dia telah dipukuli sebelumnya; tapi pukulan dari algojo Romawi ini mungkin siksaan cambuk yang paling parah. Jiwaku, berhenti sejenak di sini dan tangisilah tubuh-Nya yang dipukuli dengan begitu malang. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Pilatus menyerahkan Tuhan kita kepada algojo untuk dicambuk. Cambuk Romawi adalah alat penyiksaan yang paling mengerikan. Cambuk itu terbuat dari urat tendon sapi, dan tulang-tulang tajam dipelintir di sana-sini di antara tendon tersebut; sehingga setiap kali cemeti itu diayunkan, potongan-potongan tulang itu menimbulkan cabikan yang mengerikan, dan mengoyak daging dari tulang. Sang Juruselamat, tidak diragukan lagi, diikat pada sebuah pilar, dan kemudian dipukuli. Dia telah dipukuli sebelumnya; tapi pukulan dari algojo Romawi ini mungkin siksaan cambuk yang paling parah. Jiwaku, berhenti sejenak di sini dan tangisilah tubuh-Nya yang dipukuli dengan begitu malang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Pilatus menyerahkan Tuhan kita kepada algojo untuk dicambuk. Cambuk Romawi adalah alat penyiksaan yang paling mengerikan. Cambuk itu terbuat dari urat tendon sapi, dan tulang-tulang tajam dipelintir di sana-sini di antara tendon tersebut; sehingga setiap kali cemeti itu diayunkan, potongan-potongan tulang itu menimbulkan cabikan yang mengerikan, dan mengoyak daging dari tulang. Sang Juruselamat, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31573","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"6","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31573","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31573"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31573\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68882,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31573\/revisions\/68882"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31573"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31573"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31573"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}