{"id":31576,"date":"2026-04-01T18:15:52","date_gmt":"2026-04-01T11:15:52","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/janganlah-engkau-pergi-kian-ke-mari-menyebarkan-fitnah-di-antara-orang-orang-sebangsamu-tetapi-engkau-harus-berterus-terang-menegor-orang-sesamamu-dan-janganlah-engkau-mendatangkan-dosa-kepa\/"},"modified":"2026-04-01T18:15:53","modified_gmt":"2026-04-01T11:15:53","slug":"janganlah-engkau-pergi-kian-ke-mari-menyebarkan-fitnah-di-antara-orang-orang-sebangsamu-tetapi-engkau-harus-berterus-terang-menegor-orang-sesamamu-dan-janganlah-engkau-mendatangkan-dosa-kepa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/janganlah-engkau-pergi-kian-ke-mari-menyebarkan-fitnah-di-antara-orang-orang-sebangsamu-tetapi-engkau-harus-berterus-terang-menegor-orang-sesamamu-dan-janganlah-engkau-mendatangkan-dosa-kepa\/","title":{"rendered":"Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! [Kidung Agung 1:2]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Selama beberapa hari kita telah tinggal dalam penderitaan Sang Juruselamat, dan untuk beberapa waktu mendatang kita masih akan berlama-lama di sana. Di awal bulan baru, mari kita mencari keinginan yang sama di hadapan Tuhan kita seperti orang-orang yang hatinya bersinar sebagai mempelai pilihan. Lihatlah bagaimana si gadis segera melompat kepada dia; tidak ada kata-kata pendahuluan; si gadis bahkan tidak menyebutkan nama laki-laki tersebut; dia segera berada di inti utamanya, karena gadis ini berbicara tentang diri si laki-laki yang adalah satu-satunya di dunia baginya. Begitu berani cintanya! Sebuah perendahan diri yang membuat orang yang menyesal dan menangis itu mengurapi kaki-Nya dengan minyak narwastu \u2014 cinta yang melimpah itulah yang membuat Maria yang lembut duduk di kaki-Nya dan belajar dari-Nya \u2014 tapi di sini, cinta, cinta yang sungguh-sungguh dan kuat, mengharapkan simbol-simbol kepedulian yang lebih tinggi dan tanda-tanda persekutuan yang lebih dekat. Ester gemetar di hadapan Ahasyweros, tetapi mempelai yang berada dalam kebebasan penuh sukacita dari kasih yang sempurna itu tidak mengenal rasa takut. Jika kita telah menerima roh kemerdekaan yang sama, kita juga dapat meminta kasih yang sama. Ciuman berarti berbagai wujud cinta kasih yang memungkinkan orang percaya menikmati kasih Yesus. Kita menikmati ciuman rekonsiliasi ketika kita bertobat, dan rasanya manis seperti madu yang menetes dari sarangnya. Ciuman penerimaan masih hangat di dahi kita, seperti yang kita tahu bahwa Ia telah menerima diri kita dan karya kita lewat anugerah yang berlimpah. Ciuman persekutuan tiap-tiap hari adalah hal yang kita rindukan terus menerus hari demi hari, sampai hal itu diubah menjadi ciuman sambutan, yang melenyapkan jiwa dari bumi, dan ciuman penyempurnaan, yang mengisi jiwa dengan sukacita surga. Iman adalah perjalanan kita, tapi persekutuan yang dirasakan dengan nyata adalah peristirahatan kita. Iman adalah jalan, tapi persekutuan dengan Yesus adalah sumur yang darinya sang musafir minum. O Kekasih jiwa kami, janganlah jauh dari kami; biarlah bibir berkat-Mu bertemu dengan bibir permintaan kami; biarlah bibir kepenuhan-Mu menyentuh bibir kebutuhan kami, dan seketika itu juga ciuman akan terjadi. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Selama beberapa hari kita telah tinggal dalam penderitaan Sang Juruselamat, dan untuk beberapa waktu mendatang kita masih akan berlama-lama di sana. Di awal bulan baru, mari kita mencari keinginan yang sama di hadapan Tuhan kita seperti orang-orang yang hatinya bersinar sebagai mempelai pilihan. Lihatlah bagaimana si gadis segera melompat kepada <i>dia<\/i>; tidak ada kata-kata pendahuluan; si gadis bahkan tidak menyebutkan nama laki-laki tersebut; dia segera berada di inti utamanya, karena gadis ini berbicara tentang diri si laki-laki yang adalah satu-satunya di dunia baginya. Begitu berani cintanya! Sebuah perendahan diri yang membuat orang yang menyesal dan menangis itu mengurapi kaki-Nya dengan minyak narwastu \u2014 cinta yang melimpah itulah yang membuat Maria yang lembut duduk di kaki-Nya dan belajar dari-Nya \u2014 tapi di sini, cinta, cinta yang sungguh-sungguh dan kuat, mengharapkan simbol-simbol kepedulian yang lebih tinggi dan tanda-tanda persekutuan yang lebih dekat. Ester gemetar di hadapan Ahasyweros, tetapi mempelai yang berada dalam kebebasan penuh sukacita dari kasih yang sempurna itu tidak mengenal rasa takut. Jika kita telah menerima roh kemerdekaan yang sama, kita juga dapat meminta kasih yang sama. Ciuman berarti berbagai wujud cinta kasih yang memungkinkan orang percaya menikmati kasih Yesus. Kita menikmati ciuman <i>rekonsiliasi<\/i> ketika kita bertobat, dan rasanya manis seperti madu yang menetes dari sarangnya. Ciuman <i>penerimaan<\/i> masih hangat di dahi kita, seperti yang kita tahu bahwa Ia telah menerima diri kita dan karya kita lewat anugerah yang berlimpah. Ciuman <i>persekutuan<\/i> tiap-tiap hari adalah hal yang kita rindukan terus menerus hari demi hari, sampai hal itu diubah menjadi ciuman <i>sambutan<\/i>, yang melenyapkan jiwa dari bumi, dan ciuman <i>penyempurnaan<\/i>, yang mengisi jiwa dengan sukacita surga. Iman adalah perjalanan kita, tapi persekutuan yang dirasakan dengan nyata adalah peristirahatan kita. Iman adalah jalan, tapi persekutuan dengan Yesus adalah sumur yang darinya sang musafir minum. O Kekasih jiwa kami, janganlah jauh dari kami; biarlah bibir berkat-Mu bertemu dengan bibir permintaan kami; biarlah bibir kepenuhan-Mu menyentuh bibir kebutuhan kami, dan seketika itu juga ciuman akan terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Selama beberapa hari kita telah tinggal dalam penderitaan Sang Juruselamat, dan untuk beberapa waktu mendatang kita masih akan berlama-lama di sana. Di awal bulan baru, mari kita mencari keinginan yang sama di hadapan Tuhan kita seperti orang-orang yang hatinya bersinar sebagai mempelai pilihan. Lihatlah bagaimana si gadis segera melompat kepada dia; tidak ada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31576","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"56","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31576","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31576"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31576\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68884,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31576\/revisions\/68884"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31576"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31576"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31576"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}