{"id":31578,"date":"2026-04-02T18:15:30","date_gmt":"2026-04-02T11:15:30","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/lalu-kata-amazia-kepada-abdi-allah-itu-bagaimana-dengan-seratus-talenta-yang-telah-kuberikan-kepada-pasukan-pasukan-israel-itu-jawab-abdi-allah-itu-tuhan-dapat-memberikan-lebih-dari-pada-itu-kep\/"},"modified":"2026-04-02T18:15:31","modified_gmt":"2026-04-02T11:15:31","slug":"lalu-kata-amazia-kepada-abdi-allah-itu-bagaimana-dengan-seratus-talenta-yang-telah-kuberikan-kepada-pasukan-pasukan-israel-itu-jawab-abdi-allah-itu-tuhan-dapat-memberikan-lebih-dari-pada-itu-kep","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/lalu-kata-amazia-kepada-abdi-allah-itu-bagaimana-dengan-seratus-talenta-yang-telah-kuberikan-kepada-pasukan-pasukan-israel-itu-jawab-abdi-allah-itu-tuhan-dapat-memberikan-lebih-dari-pada-itu-kep\/","title":{"rendered":"Tetapi Ia tidak menjawab suatu kata pun. [Matius 27:14]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Dia tidak pernah lambat berbicara ketika Ia dapat memberkati anak-anak manusia, tapi Ia tidak mengatakan satu kata pun untuk diri-Nya sendiri. &quot;Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!&quot; [Yohanes 7:46] dan tidak pernah manusia diam seperti Dia. Apakah keheningan yang luar biasa ini adalah rujukan kepada pengorbanan diri-Nya yang sempurna? Apakah itu menunjukkan bahwa Ia tidak mengucapkan sepatah kata untuk mencegah pembantaian terhadap pribadi-Nya yang kudus, yang telah didedikasikan-Nya sebagai kurban bagi kita? Apakah Ia telah begitu sepenuhnya menyerahkan diri sehingga Ia tidak akan ikut campur demi kepentingan-Nya sendiri, bahkan di dalam hal terkecil, tetapi terikat dan dibunuh sebagai seorang korban yang tak melawan dan tak mengeluh? Apakah keheningan ini menunjukkan bahwa dosa tidak dapat dibela? Tidak ada yang bisa dikatakan untuk menyembunyikan atau memberikan dalih atas kesalahan manusia; dan karena itulah, Dia yang menanggung keseluruhan bebannya berdiri membisu di hadapan hakim-Nya. Bukankah keheningan yang sabar adalah jawaban terbaik bagi dunia yang selalu membantah? Ketahanan yang tenang kadang-kadang menjawab pertanyaan jauh lebih meyakinkan daripada fasih bibir yang paling hebat. Pembela terbaik agama Kristen pada masa-masa awal adalah para martir. Paron [1] menghentikan martil dengan diam-diam menanggung pukulan-pukulannya. Bukankah Anak Domba Allah memberikan kita sebuah contoh kebijaksanaan yang agung? Ketika setiap kata merupakan kesempatan baru untuk menghujat, sudah seharusnya bensin tidak disediakan untuk memperbesar api dosa. Hal yang ambigu dan palsu, yang tidak layak dan hina, akan segera saling menggulingkan dan berbantahan dengan dirinya sendiri, dan karena itu yang sejati boleh tenang dan hikmatnya adalah keheningan. Terbukti Tuhan kita, dengan keheningan-Nya, memberikan penggenapan nubuat yang luar biasa. Sebuah pembelaan yang panjang dari diri-Nya bakal bertentangan dengan prediksi Yesaya: \u201cseperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.\u201d [Yesaya 53:7] Dengan ketenangan-Nya, Ia dengan meyakinkan membuktikan diri-Nya adalah Anak Domba Allah yang sejati. Demikianlah kita menyambut-Nya pagi ini. Bersamalah dengan kami, Yesus, dan dalam keheningan hati kami, biarlah kami mendengar suara kasih-Mu. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Dia tidak pernah lambat berbicara ketika Ia dapat memberkati anak-anak manusia, tapi Ia tidak mengatakan satu kata pun untuk diri-Nya sendiri. &#8220;Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Yohanes%207:46\">Yohanes 7:46<\/a>] dan tidak pernah manusia diam seperti Dia. Apakah keheningan yang luar biasa ini adalah <i>rujukan kepada pengorbanan diri-Nya yang sempurna<\/i>? Apakah itu menunjukkan bahwa Ia tidak mengucapkan sepatah kata untuk mencegah pembantaian terhadap pribadi-Nya yang kudus, yang telah didedikasikan-Nya sebagai kurban bagi kita? Apakah Ia telah begitu sepenuhnya menyerahkan diri sehingga Ia tidak akan ikut campur demi kepentingan-Nya sendiri, bahkan di dalam hal terkecil, tetapi terikat dan dibunuh sebagai seorang korban yang tak melawan dan tak mengeluh? Apakah keheningan ini menunjukkan bahwa dosa tidak dapat dibela? Tidak ada yang bisa dikatakan untuk menyembunyikan atau memberikan dalih atas kesalahan manusia; dan karena itulah, Dia yang menanggung keseluruhan bebannya berdiri membisu di hadapan hakim-Nya. Bukankah keheningan yang sabar adalah <i>jawaban terbaik bagi dunia yang selalu membantah<\/i>? Ketahanan yang tenang kadang-kadang menjawab pertanyaan jauh lebih meyakinkan daripada fasih bibir yang paling hebat. Pembela terbaik agama Kristen pada masa-masa awal adalah para martir. Paron [1] menghentikan martil dengan diam-diam menanggung pukulan-pukulannya. Bukankah Anak Domba Allah memberikan kita <i>sebuah contoh kebijaksanaan yang agung<\/i>? Ketika setiap kata merupakan kesempatan baru untuk menghujat, sudah seharusnya bensin tidak disediakan untuk memperbesar api dosa. Hal yang ambigu dan palsu, yang tidak layak dan hina, akan segera saling menggulingkan dan berbantahan dengan dirinya sendiri, dan karena itu yang sejati boleh tenang dan hikmatnya adalah keheningan. Terbukti Tuhan kita, dengan keheningan-Nya, memberikan <i>penggenapan nubuat yang luar biasa<\/i>. Sebuah pembelaan yang panjang dari diri-Nya bakal bertentangan dengan prediksi Yesaya: \u201cseperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Yesaya%2053:7\">Yesaya 53:7<\/a>] Dengan ketenangan-Nya, Ia dengan meyakinkan membuktikan diri-Nya adalah Anak Domba Allah yang sejati. Demikianlah kita menyambut-Nya pagi ini. Bersamalah dengan kami, Yesus, dan dalam keheningan hati kami, biarlah kami mendengar suara kasih-Mu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Dia tidak pernah lambat berbicara ketika Ia dapat memberkati anak-anak manusia, tapi Ia tidak mengatakan satu kata pun untuk diri-Nya sendiri. &#8220;Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!&#8221; [Yohanes 7:46] dan tidak pernah manusia diam seperti Dia. Apakah keheningan yang luar biasa ini adalah rujukan kepada pengorbanan diri-Nya yang sempurna? Apakah itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31578","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"55","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31578","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31578"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31578\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68886,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31578\/revisions\/68886"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31578"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31578"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31578"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}