{"id":31666,"date":"2026-04-06T18:15:42","date_gmt":"2026-04-06T11:15:42","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sebab-banyak-umat-ku-di-kota-ini-kisah-para-rasul-1810\/"},"modified":"2026-04-06T18:15:43","modified_gmt":"2026-04-06T11:15:43","slug":"sebab-banyak-umat-ku-di-kota-ini-kisah-para-rasul-1810","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sebab-banyak-umat-ku-di-kota-ini-kisah-para-rasul-1810\/","title":{"rendered":"Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan. [Ibrani 13:13]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Yesus memikul salib-Nya, pergi untuk menderita di luar pintu gerbang. Alasan orang Kristen untuk meninggalkan kemah dosa dan agama dunia bukanlah karena suka menyendiri, tetapi karena Yesus melakukannya; dan seorang murid harus mengikuti Gurunya. Kristus &quot;tidak berasal dari dunia:&quot; [Yohanes 17:16] hidup-Nya dan kesaksian-Nya adalah protes yang terus-menerus melawan keserupaan dengan dunia. Tidak pernah ada kasih sayang terhadap umat manusia yang begitu meluap seperti yang engkau temukan di dalam Dia; tapi Dia tetap terpisah dari orang-orang berdosa. Dengan cara seperti itu umat Kristus harus &quot;pergi kepada-Nya.&quot; Mereka harus mengambil posisi mereka &quot;di luar perkemahan,&quot; sebagai saksi pembawa kebenaran. Mereka harus siap menapaki jalan yang lurus dan sempit. Mereka harus memiliki hati yang berani, gigih, seperti singa, pertama-tama mencintai Kristus dan kemudian kebenaran-Nya, dan Kristus dan kebenaran-Nya melampaui seluruh dunia. Yesus memerintahkan orang-orang-Nya &quot;keluar dari perkemahan&quot; demi pengudusan mereka sendiri. Engkau tidak dapat bertumbuh dalam anugerah sampai tingkat yang tinggi jika engkau serupa dengan dunia. Kehidupan yang terpisah itu mungkin merupakan jalan setapak yang penuh derita, tetapi jalan itulah jalan raya keselamatan; dan meskipun hidup yang terpisah itu mungkin mengakibatkan banyak kepedihan, dan membuat setiap hari menjadi pertempuran, namun ternyata kehidupan itu merupakan kebahagiaan. Tidak ada sukacita yang bisa melampaui sukacita prajurit Kristus: Yesus menyatakan diri-Nya begitu anggun, dan memberikan penyegaran yang begitu manis, sehingga sang pejuang merasa lebih tenang dan damai dalam pergumulan sehari-hari daripada orang-orang lain pada jam istirahat mereka. Jalan raya kekudusan adalah jalan raya persekutuan. Dengan demikian kita berharap untuk memenangkan mahkota jika kita dimampukan oleh anugerah ilahi untuk setia mengikuti Kristus &quot;di luar perkemahan.&quot; Mahkota kemuliaan akan mengikuti salib pemisahan. Malu yang sekejap akan dibalas dengan kehormatan kekal; menanggung kesaksian yang sesaat akan nampak seperti bukan apa-apa ketika kita &quot;selamanya dengan Tuhan.&quot; RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Yesus memikul salib-Nya, pergi untuk menderita di luar pintu gerbang. Alasan orang Kristen untuk meninggalkan kemah dosa dan agama dunia bukanlah karena suka menyendiri, tetapi karena <i>Yesus melakukannya<\/i>; dan seorang murid harus mengikuti Gurunya. Kristus &#8220;tidak berasal dari dunia:&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Yohanes%2017:16\">Yohanes 17:16<\/a>] hidup-Nya dan kesaksian-Nya adalah protes yang terus-menerus melawan keserupaan dengan dunia. Tidak pernah ada kasih sayang terhadap umat manusia yang begitu meluap seperti yang engkau temukan di dalam Dia; tapi Dia tetap terpisah dari orang-orang berdosa. Dengan cara seperti itu umat Kristus harus &#8220;pergi kepada-Nya.&#8221; Mereka harus mengambil posisi mereka &#8220;di luar perkemahan,&#8221; sebagai saksi pembawa kebenaran. Mereka harus siap menapaki jalan yang lurus dan sempit. Mereka harus memiliki hati yang berani, gigih, seperti singa, pertama-tama mencintai Kristus dan kemudian kebenaran-Nya, dan Kristus dan kebenaran-Nya melampaui seluruh dunia. Yesus memerintahkan orang-orang-Nya &#8220;keluar dari perkemahan&#8221; <i>demi pengudusan mereka sendiri<\/i>. Engkau tidak dapat bertumbuh dalam anugerah sampai tingkat yang tinggi jika engkau serupa dengan dunia. Kehidupan yang terpisah itu mungkin merupakan jalan setapak yang penuh derita, tetapi jalan itulah jalan raya keselamatan; dan meskipun hidup yang terpisah itu mungkin mengakibatkan banyak kepedihan, dan membuat setiap hari menjadi pertempuran, namun ternyata kehidupan itu merupakan kebahagiaan. Tidak ada sukacita yang bisa melampaui sukacita prajurit Kristus: Yesus menyatakan diri-Nya begitu anggun, dan memberikan penyegaran yang begitu manis, sehingga sang pejuang merasa lebih tenang dan damai dalam pergumulan sehari-hari daripada orang-orang lain pada jam istirahat mereka. Jalan raya kekudusan adalah jalan raya persekutuan. Dengan demikian kita berharap <i>untuk memenangkan mahkota<\/i> jika kita dimampukan oleh anugerah ilahi untuk setia mengikuti Kristus &#8220;di luar perkemahan.&#8221; Mahkota kemuliaan akan mengikuti salib pemisahan. Malu yang sekejap akan dibalas dengan kehormatan kekal; menanggung kesaksian yang sesaat akan nampak seperti bukan apa-apa ketika kita &#8220;selamanya dengan Tuhan.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Yesus memikul salib-Nya, pergi untuk menderita di luar pintu gerbang. Alasan orang Kristen untuk meninggalkan kemah dosa dan agama dunia bukanlah karena suka menyendiri, tetapi karena Yesus melakukannya; dan seorang murid harus mengikuti Gurunya. Kristus &#8220;tidak berasal dari dunia:&#8221; [Yohanes 17:16] hidup-Nya dan kesaksian-Nya adalah protes yang terus-menerus melawan keserupaan dengan dunia. Tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31666","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":2,"views":"80","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31666","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31666"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31666\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68894,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31666\/revisions\/68894"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31666"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31666"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31666"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}