{"id":31681,"date":"2026-04-09T18:15:33","date_gmt":"2026-04-09T11:15:33","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-yang-tidak-terpandang-dan-yang-hina-bagi-dunia-dipilih-allah-1-korintus-128\/"},"modified":"2026-04-09T18:15:34","modified_gmt":"2026-04-09T11:15:34","slug":"apa-yang-tidak-terpandang-dan-yang-hina-bagi-dunia-dipilih-allah-1-korintus-128","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-yang-tidak-terpandang-dan-yang-hina-bagi-dunia-dipilih-allah-1-korintus-128\/","title":{"rendered":"Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia. [Lukas 23:27]"},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Di tengah keramaian yang memburu Penebus menuju ajalnya, ada beberapa jiwa murah hati yang penderitaan pahitnya mencari kelepasan melalui tangisan dan ratapan \u2014 sebagai musik yang pas untuk mengiringi derap kesedihan. Ketika jiwaku, di dalam imajinasi, dapat melihat sang Juruselamat memikul salib-Nya ke Kalvari, jiwaku bergabung dengan para perempuan saleh itu dan menangis bersama mereka; karena memang ada penyebab yang lebih hakiki dari kesedihan itu \u2014 penyebab yang lebih dalam daripada yang dipikirkan para perempuan yang berkabung itu. Mereka menangisi kemurnian hati yang diperlakukan dengan salah, kebaikan yang dianiaya, cinta yang berdarah, kelemahlembutan yang hampir mati; tapi hatiku memiliki alasan yang lebih dalam dan lebih pahit untuk berkabung. Dosa-dosakulah cambuk yang mengoyak bahu-Nya yang mulia, dan dosa-dosakulah yang mengenakan mahkota duri pada alis-Nya yang berdarah: dosa-dosaku berseru: \\\"Salibkan Dia! salibkan Dia!\\\" dan meletakkan salib itu di atas bahu-Nya yang murah hati. Pengarakan Dia kepada kematian merupakan sebuah kesedihan kekal: tetapi menyadari bahwa dirikulah pembunuh-Nya merupakan duka yang jauh lebih besar, tidak terhingga besarnya, lebih dari yang dapat diungkapkan pancuran air mata. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Di tengah keramaian yang memburu Penebus menuju ajalnya, ada beberapa jiwa murah hati yang penderitaan pahitnya mencari kelepasan melalui tangisan dan ratapan \u2014 sebagai musik yang pas untuk mengiringi derap kesedihan. Ketika jiwaku, di dalam imajinasi, dapat melihat sang Juruselamat memikul salib-Nya ke Kalvari, jiwaku bergabung dengan para perempuan saleh itu dan menangis bersama mereka; karena memang ada penyebab yang lebih hakiki dari kesedihan itu \u2014 penyebab yang lebih dalam daripada yang dipikirkan para perempuan yang berkabung itu. Mereka menangisi kemurnian hati yang diperlakukan dengan salah, kebaikan yang dianiaya, cinta yang berdarah, kelemahlembutan yang hampir mati; tapi hatiku memiliki alasan yang lebih dalam dan lebih pahit untuk berkabung. Dosa-dosakulah cambuk yang mengoyak bahu-Nya yang mulia, dan dosa-dosakulah yang mengenakan mahkota duri pada alis-Nya yang berdarah: dosa-dosaku berseru: &#8220;Salibkan Dia! salibkan Dia!&#8221; dan meletakkan salib itu di atas bahu-Nya yang murah hati. Pengarakan Dia kepada kematian merupakan sebuah kesedihan kekal: tetapi menyadari bahwa dirikulah pembunuh-Nya merupakan duka yang jauh lebih besar, tidak terhingga besarnya, lebih dari yang dapat diungkapkan pancuran air mata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Di tengah keramaian yang memburu Penebus menuju ajalnya, ada beberapa jiwa murah hati yang penderitaan pahitnya mencari kelepasan melalui tangisan dan ratapan \u2014 sebagai musik yang pas untuk mengiringi derap kesedihan. Ketika jiwaku, di dalam imajinasi, dapat melihat sang Juruselamat memikul salib-Nya ke Kalvari, jiwaku bergabung dengan para perempuan saleh itu dan menangis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31681","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"22","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31681","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31681"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31681\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68901,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31681\/revisions\/68901"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31681"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31681"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31681"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}