{"id":31730,"date":"2026-04-13T18:15:37","date_gmt":"2026-04-13T11:15:37","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/ia-yang-memanggil-kamu-adalah-setia-ia-juga-yang-akan-menggenapinya-1-tes-524\/"},"modified":"2026-04-13T18:15:38","modified_gmt":"2026-04-13T11:15:38","slug":"ia-yang-memanggil-kamu-adalah-setia-ia-juga-yang-akan-menggenapinya-1-tes-524","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/ia-yang-memanggil-kamu-adalah-setia-ia-juga-yang-akan-menggenapinya-1-tes-524\/","title":{"rendered":"Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur. [Kidung Agung 1:13]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Mur merupakan pilihan yang baik untuk menggambarkan Yesus karena berharga, wangi, nikmat, berkhasiat penyembuhan, awet, memiliki fungsi desinfektan, dan berhubungan dengan pengorbanan. Tapi mengapa Dia dibandingkan dengan &quot;sebungkus mur&quot;? Pertama, karena banyak. Dia bukanlah setetes mur, Dia satu peti penuh. Dia bukan setangkai atau sekuntum, tetapi sebungkus penuh. Semua kebutuhanku dicukupkan di dalam Kristus; kiranya diriku tidak berlambat-lambat berbakti bagi Dia. Yesus yang kita cintai digambarkan dengan &quot;sebungkus&quot;, karena keanekaragaman: karena di dalam Kristus bukan hanya satu hal yang penting, tetapi &quot;dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan [Kolose 2:9];&quot; segala sesuatu yang diperlukan ada di dalam diri-Nya. Perhatikan Yesus dalam berbagai karakter-Nya, dan engkau akan melihat keanekaragaman yang menakjubkan\u2014Nabi, Imam, Raja, Suami, Sahabat, Gembala. Renungkan Dia dalam kehidupan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya, dan kedatangan-Nya yang kedua; pandanglah Dia dalam kebajikan, kelembutan, keberanian, penyangkalan diri, cinta, kesetiaan, kebenaran, dan keadilan-Nya\u2014di mana saja Dia adalah sebungkus yang berharga. Dia adalah \u201csebungkus mur\u201d karena pengawetan\u2014tidak ada sebutir pun mur yang jatuh ke lantai atau diinjak-injak, tetapi mur dalam bungkus, mur untuk disimpan di dalam peti. Kita harus menghargai Dia sebagai harta karun yang terbaik; kita harus menjunjung kata-kata-Nya dan ketetapan-Nya; dan kita harus menyimpan pikiran kita akan Dia dan pengetahuan akan Dia dengan kunci gembok, agar jangan sampai setan mencuri sesuatu dari kita. Terlebih lagi, Yesus adalah &quot;sebungkus mur&quot; karena kekhususan; lambang ini menunjukkan konsep kasih karunia yang istimewa dan membeda-bedakan. Dari sebelum dunia dijadikan, Dia telah dikhususkan bagi umat-Nya; dan Dia memberikan wewangian-Nya hanya untuk mereka yang mengerti caranya masuk ke dalam persekutuan bersama Dia, untuk memiliki hubungan yang akrab dengan Dia. Oh! diberkatilah mereka yang telah Tuhan bukakan rahasia-rahasia-Nya, dan yang baginya Ia telah mengkhususkan diri-Nya. Oh! terkhususkan dan bahagia, orang-orang yang dengan itu berkata, &quot;Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur.&quot; RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Mur merupakan pilihan yang baik untuk menggambarkan Yesus karena <i>berharga, wangi, nikmat, berkhasiat penyembuhan, awet, memiliki fungsi desinfektan, dan berhubungan dengan pengorbanan<\/i>. Tapi mengapa Dia dibandingkan dengan &#8220;sebungkus mur&#8221;? Pertama, karena <i>banyak<\/i>. Dia bukanlah setetes mur, Dia satu peti penuh. Dia bukan setangkai atau sekuntum, tetapi sebungkus penuh. Semua kebutuhanku dicukupkan di dalam Kristus; kiranya diriku tidak berlambat-lambat berbakti bagi Dia. Yesus yang kita cintai digambarkan dengan &#8220;sebungkus&#8221;, karena <i>keanekaragaman<\/i>: karena di dalam Kristus bukan hanya satu hal yang penting, tetapi &#8220;dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Kolose%202:9\">Kolose 2:9<\/a>];&#8221; segala sesuatu yang diperlukan ada di dalam diri-Nya. Perhatikan Yesus dalam berbagai karakter-Nya, dan engkau akan melihat keanekaragaman yang menakjubkan\u2014Nabi, Imam, Raja, Suami, Sahabat, Gembala. Renungkan Dia dalam kehidupan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya, dan kedatangan-Nya yang kedua; pandanglah Dia dalam kebajikan, kelembutan, keberanian, penyangkalan diri, cinta, kesetiaan, kebenaran, dan keadilan-Nya\u2014di mana saja Dia adalah sebungkus yang berharga. Dia adalah \u201csebungkus mur\u201d karena <i>pengawetan<\/i>\u2014tidak ada sebutir pun mur yang jatuh ke lantai atau diinjak-injak, tetapi mur dalam bungkus, mur untuk disimpan di dalam peti. Kita harus menghargai Dia sebagai harta karun yang terbaik; kita harus menjunjung kata-kata-Nya dan ketetapan-Nya; dan kita harus menyimpan pikiran kita akan Dia dan pengetahuan akan Dia dengan kunci gembok, agar jangan sampai setan mencuri sesuatu dari kita. Terlebih lagi, Yesus adalah &#8220;sebungkus mur&#8221; karena <i>kekhususan<\/i>; lambang ini menunjukkan konsep kasih karunia yang istimewa dan membeda-bedakan. Dari sebelum dunia dijadikan, Dia telah dikhususkan bagi umat-Nya; dan Dia memberikan wewangian-Nya hanya untuk mereka yang mengerti caranya masuk ke dalam persekutuan bersama Dia, untuk memiliki hubungan yang akrab dengan Dia. Oh! diberkatilah mereka yang telah Tuhan bukakan rahasia-rahasia-Nya, dan yang baginya Ia telah mengkhususkan diri-Nya. Oh! terkhususkan dan bahagia, orang-orang yang dengan itu berkata, &#8220;Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Mur merupakan pilihan yang baik untuk menggambarkan Yesus karena berharga, wangi, nikmat, berkhasiat penyembuhan, awet, memiliki fungsi desinfektan, dan berhubungan dengan pengorbanan. Tapi mengapa Dia dibandingkan dengan &#8220;sebungkus mur&#8221;? Pertama, karena banyak. Dia bukanlah setetes mur, Dia satu peti penuh. Dia bukan setangkai atau sekuntum, tetapi sebungkus penuh. Semua kebutuhanku dicukupkan di dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31730","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"51","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31730","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31730"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31730\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68919,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31730\/revisions\/68919"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}